Manfaatkan Teknologi Canggih, Karena PP Terancam Terhenti

Ajang Jakarta International Djarum Super MLD Java Jazz Festival 2013 ini, membuat sponsor utama puas. Keruwetan menonton sebuah konser akbar, sekitar 187 musisi di 17 panggung, berhasil diatasi. Bahkan Djarum mengerahkan teknologi terbaru untuk mempermudah para penonton.

Areal JI Expo yang sangat luas untuk 17 panggung, tak membuat penonton bingung memilih venue. Pihak Java Festival Production dan Djarum, selaku sponsor utama, berhasil mempersempit zona. Ratusan tersebar di seluruh penjuru, untuk memberikan informasi. Mereka memakai alat manual seperti brosur, juga memanfaatkan teknologi.
Perangkat lunak bahkan bisa di download untuk mengingatkan pengunjung di gadgetnya. Fasilitas itu seperti alarm di ponsel, tapi ini untuk mengingatkan musisi pilihannya tampil. Pihak Djarum juga menyediakan touchscreen di sejumlah titik.
Teknologi ini menggunakan TV layar datar sebesar 42 inch. Namun pada bagian atas, menggunakan lapisan khusus teknologi sentuh. Pengunjung bisa mengetahui segala informasi tentang java jazz.
‘’Kita bisa mendengar MP 3 musisi jazz yang dipilih. Bisa tahu durasi pertunjukkan yang berlangsung, beserta lokasi lengkapnya,’’ ujar Irma, model yang menjadi guide di salah satu venue informasi.
Tak hanya mendapat informasi, pengunjung juga bisa berfoto dengan fasilitas photo booth. Nah, foto itu kemudian bisa langsung diluncurkan ke social media. Khusus fasilitas photo booth, Djarum juga mengerahkan ratusan SPG yang membawa Ipad.
‘’Ya untuk narsis-narsisan lah. Kita bangga bisa photo booth di even Java Jazz ini,’’ aku Sari salah satu pengguna fasilitas photo booth.
Seluruh perlengkapan itu memang dipersiapkan oleh pihak Djarum. Mereka tak hanya sekadar nempel menjadi sponsor Java Jazz. Namun ingin menyuguhkan sesuatu yang beda bagi para pengunjung.
‘’Teknologi ini baru kami yang pakai. Dulu pernah digunakan di Indonesia open (bulutangkis), awalnya nyewa karena sering pakai ya kami beli dari vendor,’’ aku Roland Halim, Brand Manager Djarum Super Mild kepada Malang Post.
Menurut Roland, teknologi itu pernah membuat kepincut penyelenggara Olimpiade London. Namun karena terlalu mahal mereka akhirnya batal menggunakannya. Sebab, membutuhkan biaya besar untuk mengirim seluruh tim ke London.
Selain itu, Djarum juga membuat lomba menyanyi dengan kemasan lain. Namanya MLD High Note Challenge. Disini pengunjung ditantang untuk meneriakkan kata jazzy dengan nada setinggi mungkin.
‘’Itu semua kita yang kerja. Java festival terima jadi saja. Benar murni karya anak bangsa. Cuma touchscreennya aja yang impor,’’ imbuh Roland.
Kerjasama antara pihak Djarum dan Java Festival Production berjalan dua arah. Meski sebagai main sponsor, Djarum tidak mendikte. Melainkan saling memberikan masukan untuk kesempurnaan pertunjukkan.
‘’Tagline Java Jazz - Jazz Up The World, saya bahas sama Dewi Gontha (Presiden DIrektur Java Festival Production), dua minggu sampai akhirnya nemu kata-kata itu,’’ kenang Roland sembari tertawa.
Tahun 2013 ini, adalah tahun kedua kontrak Djarum dengan pihak Java. Mereka terikat kontrak selama tiga tahun sampai 2014. Terbitnya PP tentang tembakau sedikit banyak bakal mempengaruhi kontrak itu.
‘’Informasinya berlaku tahun depan, kalau PP tentang tembakau itu berlaku, kami akan nurut,’’ tegasnya.
Sejauh ini yang Roland tahu, tidak ada kata pelarangan dalam PP itu. Adanya hanya pembatasan. Namun sejauh apa pembatasan itu yang belum diketahui. Kemungkinan terburuk adalah perusahaan rokok tak diperbolehkan menjadi sponsor kegiatan semacam itu.
‘’Kemungkinan terburuk ya bakal berhenti tahun depan. Kalau itu terjadi kita anggap force majeure,’’ akunya penuh keterbukaan.
Kata dia, di negara maju aturan seperti PP itu sudah diterapkan secara ekstrem. Di Australia ada penyeragaman warna hijau rokok, yang membedakan hanya nama brand. Namun untuk daerah penghasil rokok seperti Indonesia, Jepang, China, Amerika dan Jerman hal itu tak bisa diterapkan secara ekstrem.
‘’Negara penghasil seperti Indonesia punya nilai sejarah dengan tembakau, Australia dan Thailand bukan penghasil tembakau dan tidak ada industri, jadi mereka tidak ada kepentingan,’’ katanya.
Yang jelas, sampai saat ini Djarum tetap berkomitmen mendukung kegiatan seperti itu. termasuk even olahraga yang telah lama mereka bangun. Khusus Jazz sendiri, Djarum juga sudah mendukung di sejumlah kota.
‘’Kita dukung Ngayogjazz, Mahakam Jazz Fiesta di Samarinda, kalau tahun depan ada di Salatiga dan sejumlah daerah lainnya,’’ tandas Roland. (Bagus Ary Wicaksono)