Pilih Datangi Rhoma Irama, Bisa Terlaksana karena Orang Gendeng

Melalui even Jakarta International Djarum Java Jazz Festival 2013, nama Indonesia melambung di dunia internasional. Tak terkecuali nama Rhoma Irama, Raja Dangdut Indonesia yang sama sekali tak ada hubungannya dengan musik Jazz. Betapa tidak, si Raja Dangdut rupanya sempat didatangi oleh artis utama Joss Stone! Wow.

Hal ini, saya kira tak lepas dari peran founding father java jazz festival, Peter F. Gontha. Joss Stone ini artis asal Inggris yang menolak datang datang press conference. Entah apa alasannya dia enggan hadir di depan ratusan jurnalis dalam dan luar negeri yang meliput java jazz.
Ealah, ngglethek, begitu kira-kira bahasa Ngalaman-nya. Si cantik yang gemar manggung tanpa alas kaki malah mendatangi Rhoma Irama.
Saya kira ini cerminan jazz juga bisa mengangkat musisi Indonesia dari ‘cabang’ (baca; ranah) lain. Seperti ‘cabang’ dangdut.
Kabar itu saya tahu dari twitter sang founding father. Dia menampilkan lengkap foto Joss Stone bersama Rhoma Irama sehari setelah Java Jazz berakhir. Andaikan hal itu terjadi sebelum konser, pasti jadi publikasi menarik.
Penyesalan saya pula, dalam even java jazz kali ini tak sempat bertemu langsung Peter F. Gontha. Sebagai jurnalis dari daerah, saya butuh berdialog dengan terkait kiprahnya selama ini.
Dia memang sempat terlihat di ruang media di lantai 6 Gedung Niaga komplek JI Expo. Tak lebih kedatangannya dalam rangka mendampingi musisi luar negeri.
Yang saya tahu, beberapa orang mengatakan bahwa Peter ini gendeng jazz. Makanya hanya orang-orang ‘gendeng’ seperti Peter yang rela menggelar konser jazz sebesar itu. Salah satu kegilaan lainnya, barangkali mengajak Joss Stone menemui sang raja dangdut.
Beruntung saya sempat berbincang dengan Widyasena Sumadio, spokesman dalam jumpa pers musisi luar negeri. Widi, sapaan akrabnya, telah terlibat dengan Java Jazz sejak tahun 2007. Meski berstatus orang luar Java Festival Production, Widi tahu banyak kiprah Peter.
“Ya saya bilang, hanya orang gendeng yang mau bikin even sebesar ini,” katanya kepada Malang Post.
Setahu Widi, Peter sendiri yang mendanai Java Jazz ketika kali pertama digelar sembilan tahun lalu. Java Jazz satu sampai tiga, diperkirakan menguras kocek hingga miliaran rupiah. Maka, dia menyarankan agar orang lain tidak membuat even sebesar ini.
“Syarat pertama bikin even kayak gini, satu harus gendeng dalam tanda kutip, kemudian berduit dan yang terakhir memiliki jiwa disitu,” ungkapnya.
Dia sendiri terlibat dalam java jazz awalnya hanya menulis untuk majalah Music. Ini adalah majalah khusus even java jazz, jadi hanya keluar setahun sekali. Tahun 2012 lalu harga majalah itu Rp 15 ribu, untuk even kali ini mencapai Rp 25 ribu.
“Awalnya jadi editor, kemudian dipercaya jadi spokesman untuk jumpa pers artis asing,” kata pria yang pernah menjadi dosen FIB Universitas Indonesia itu.
Widi sendiri sebenarnya adalah praktisi  strategic PR communications. Setelah sekian tahun berjalan, baru Java Jazz menjadi sebuah industri. Kini even itu menghasilan miliar rupiah bagi para sponsor.
“Sampai menjadi besar seperti sekarang, tak lepas dari gendeng e pak Peter,” imbuh Widi dengan tergelak.
Selain itu,  Java Jazz ini didukung oleh tim terbaik untuk urusan konser multi panggung seperti ini. Disana ada nama Dewi Gontha (anak Peter), kemudian Paul Dankmeyer, Eki Puradiredja, Inge Bachrens Tumiwa, Ineth Leimena dan July Valda.
“Mereka ahli di bidangnya masing-masing, pengarah music misalnya Eki Puridiredja ini masih yang terbaik di bidangnya,” beber dia.
Dan hebatnya, kerja mereka sangat detail. Bayangkan saja menata artis tak kurang dari 187 penampilan di 17 panggung. Durasi, tata panggung dan seluruh detail telah dipikirkan dengan matang.
“Kalau Malang mau bikin even seperti ini, ya jangan Jazz, kalaupun jazz harus dicari konsep baru yang sesuai dengan ranah lokal, misalnya seperi Ngayogjazz,” sarannya.
Mengenai industry di Java Jazz sendiri, bagi Widi telah mendatangkan rejeki bagi banyak orang. Penjual makanan di luar area, para sopir taxi, para penjual merchandise tak resmi. Skala besar tentu selain hotel juga para kolega dan sponsor resmi java Jazz.
BNI saja, dalam dua hari mampu meraup Rp 1,2 miliar. Di Java Jazz, BNI memberikan kartu prepaid. Kartu itu bisa dipakai untuk belanja di areal java jazz maupun makan di foodcourt. Selain BNI banyak sponsor lain yang mendapat keuntungan dari Java Jazz.
Salah satunya adalah pihak Multiply, situs e-commerce ini dipercaya oleh Java Festival Production. Pihak java membuka lapak penjualan merchandise online di multiply. Sedangkan barang yang tak laku dalam even sebelumnya dijual oleh Multiply.
“Kami harus mengubah konsep penjualan agar barang itu laku, ada trik tersendiri,” aku Nirmala R. Hapsari Media Relations & PR Manager Multiply Indonesia kepada Malang Post.
Hebatnya, multiply bisa menjual habis merchandise java jazz tahun 2012 yang belum laku. Situs ini menangani penjualan sejumlah even Java Festival Production (JFP). Seperti Java Jazz, Soulnation, Rockinland.
“Yang paling laku java jazz, disini banyak juga yang mencari merchandise resmi artis,” imbuh Nirmala.
Yang paling banyak diburu adalah milik Marcus Miller, Raisa, Soundrabels. Sedangkan CD yang paling laku dalam java jazz 2013 kali ini milik Raisa. Nirmala hanya tersenyum ketika ditanya keuntungan bekerjasama dengan JFP.
“Sebelum even ini berlangsung sudah banyak barang yang habis, kalau pas disini ya minimal 600 perhari, harga paling murah Rp 70 ribu,” bebernya.
Sehingga selama tiga hari di areal java jazz, saya berpikir bahwa even ini memang gila. Membuat java jazz bertahan selama sembilan tahun bukan pekerjaan mudah. Sehari setelah even ini digelar, Peter F. Gontha bahkan telah membahas konsep java jazz tahun 2014.
“Bersama Sakae Kobayashi dan Rioji Asashi, pimpinan Blue note Japan, di rumah, mereka sudah bicarakan Java Jazz 2014. Cape tapi Jepang pekerja keras,” ujarnya melalui akun @PeterGontha. (Bagus Ary Wicaksono)