Sosialisasi Zero Accident, Tak Peduli Jenis dan Merek Motor

Bagi Anda yang pernah menonton MotoGP, pasti kerap melihat aksi pembalap, yang menikung dengan sudut kemiringan ekstrem. Untuk melibas tikungan tajam, biasanya lutut mereka sampai menempel aspal lintasan. Ternyata kemampuan tersebut tak hanya bisa dipraktekan para pembalap di sirkuit. Anda pun bisa mempelarinya bersama komunitas Cornering Malang (CoMa).

SEKELOMPOK bikers tampak asyik bercengkrama di seberang Gereja Ijen, saat Malang Post melintasi kawasan tersebut, Kamis (7/3) dini hari.
Melihat varian motor, beda jenis dan merk yang berjajar, sudah jelas mereka bukan berasal dari satu club motor khusus. Namun yang membuat seragam, adalah stiker warna kuning bertuliskan ‘CORNERING MALANG’ tertempel di sepatbor belakang motor masing-masing.
Sejurus kemudian, beberapa diantara mereka sudah ancang-ancang menggeber kuda besinya. Tanpa dikomando, satu per satu mulai memacu motornya di jalanan yang sudah cukup lengang.
Di dua putaran awal, tak ada yang aneh dari cara mereka berkendara. Memasuki putaran ketiga, para bikers tersebut melakukan aksi yang bikin pengguna jalan geleng-geleng kepala.
Melaju dengan kecepatan tinggi di trek lurus, mereka langsung berbelok mengikuti lekukan tikungan dengan mulus. Gerakannya smooth, tapi bila diamati tubuh mereka seolah-olah akan jatuh ke tanah. Dengan cekatan, sang bikers kembali mengangkat tubuh dan motornya seirama dengan tikungan yang habis dilibas.
‘’Istilahnya menikmati tikungan. Jadi kita buat aksi menikung seindah mungkin. Meski orang awam mungkin menilai ini aksi ekstrem,’’ buka Fery Susanto, biker yang baru saja melakukan aksi tersebut di hadapan Malang Post.
Fery tak lain adalah moderator Cornering Malang. Dialah pionir sekaligus mentor, yang mengajarkan teknik menikung ala balap profesional ini kepada sejumlah bikers di Bhumi Arema.
Awalnya, pria kelahiran Surabaya, 3 Februari 1981 ini, hanya sendirian menggeluti hobinya. Menaklukan tiap tikungan tajam yang ditemui.
‘’Semua berawal dari hobby. Saya melibas tikungan sejak masih sekolah. Kebiasaan ini terus terbawa sampai sekarang. Tiap malam saya sendirian mencari spot-spot yang bisa dilahap,’’ ujar penunggang Yamaha Scorpio lansiran 2008 tersebut.
Hobby unik ini, akhirnya mempertemukan Ferry dengan Ahmad ‘Erhan’ Muhadjir. Kemudian mereka menginspirasi berdirinya Cornering Malang pada Juni 2011.
Dari awalnya, menikmati aksi ekstrem berdua, kemudian banyak bikers yang mengikuti jejak mereka. Motornya pun beragam. Mulai dari jenis bebek standar, bebek sport hingga motor sport yang memang cocok untuk kebut-kebutan di sirkuit nasional. Saat ini, sedikitnya ada 16 bikers yang tergabung dalam CoMa.
Dengan motto Push Your Adrenaline, CoMa mengajak siapapun bikers yang memiliki urat nadi tebal, untuk menguji keberaniannya menaklukan tikungan.
‘’Ini bukan sekadar menikung. Kalau cuma belajar nempelin lutut ke aspal saat berkendara, mungkin tiga hari bisa menguasai. Tapi, kalau benar-benar cornering mungkin butuh waktu sampai tiga bulan latihan rutin,’’ papar Fery yang juga Ketua Club Bandits Malang.
Berbekal kemampuannya sebagai seorang trainer safety riding, Fery mengajarkan banyak teknik berkendara kepada anggota komunitas CoMa. Ada tingkatan khusus untuk komunitas Cornering Indonesia, mulai tahap basic sampai advance.
‘’Selain menyalurkan hobby, saya punya misi untuk sosialisasi zero accident. Bukan hanya menikung yang kami ajarkan di sini, tapi berbagai hal terkait safety procedure. Seperti cara pengereman hingga mengatur posisi badan. Mengajari teman-teman yang gabung juga mulai tahap paling dasar sampai nanti ada aksi aneh-aneh,’’ lanjut pria yang sehari-hari bekerja di salah satu perusahaan asuransi tersebut.
Maklum saja, Fery adalah mantan pembalap privater road race yang kenyang asam garam balapan profesional. Pada tahun 2012 lalu, dia mengasah ilmunya di Jakarta Defense Driving Crash (JDDC) sehingga kini mengantongi sertifikat Master Trainer of Skill Riding. ‘’Biasanya kalau waktu beri materi, saya selingi dengan aksi cornering biar pesertanya bersemangat,’’ ucapnya lantas terkekeh.
Meski memiliki skill mumpuni sebagai seorang trainer safety riding, bukan berarti Fery tak memiliki pengalaman pahit saat berupaya melibas tikungan.
Bahkan dia pernah menjadi korban tabrak lari, saat melakukan aksi tersebut di jalanan. Akibatnya, sang pacar pernah memintanya untuk berhenti dari hobby cornering tersebut.
‘’Sebelum saya beri materi ke orang lain, saya harus mencobanya dulu. Jadi kalau gagal, ya korbannya saya sendiri. Tapi, sampai sekarang belum kapok kok,’’ tukasnya santai.
Setiap pekannya, CoMa biasa memilih hari Jumat sebagai waktu untuk latihan. Namun, kadang jadwal tersebut berubah disesuaikan cuaca dan kesepakatan para anggota.
‘’Biasanya memang Jumat malam. Tapi, kalau musim hujan seperti sekarang, terpaksa cari hari yang cerah. Sistemnya jarkom, kalau bisa lebih dari lima orang yang latihan. Kalau sudah ngumpul tapi cuaca tidak mendukung, kita manfaatkan waktu untuk sharing materi sambil ngopi,’’ urai bikers 32 tahun itu.
Layaknya kebanyakan komunitas, CoMa juga tak lepas dari pasang surut dan suka duka. Karena sering jatuh saat belajar, tak sedikit anggota yang protol di tengah jalan.
‘’Banyak yang tiba-tiba sudah tidak latihan lagi setelah jatuh. Mungkin yang tersisa dan masih aktif sekarang ya yang benar-benar sudah kebal,’’ terang pionir CoMa lainnya, Erhan lantas tertawa.
Minimnya sirkuit di Malang juga menjadi problem tersendiri. Namun, kadang CoMa menggelar latihan di Sirkuit Kenjeran Surabaya, dalam rentang waktu dua atau tiga bulan sekali.
‘’Mencoba sirkuit untuk pertama kali adalah pengalaman yang wow. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dari situ, kami semakin tertantang menaklukan tikungan ekstrem. Sayang sekali, di Malang tidak ada sirkuit memadahi,’’ beber wiraswasta asal Pare tersebut.
Sementara itu, antusiasme bikers Malang untuk bergabung dengan CoMa juga kian menggeliat. Salah satunya adalah Masrur Ainun. ‘’Kami tahu CoMa dari komunitas Surya Motoriders. Banyak dari kami yang kepincut gabung setelah melihat aksi Mas Fery dan teman-teman. Betul-betul memacu adrenalin. Walaupun belum lihai menaklukan tikungan, tapi saya jadi lebih berani,’’ tukas mahasiswa UIN Maliki itu. (tommy yuda pamungkas)