Desa Gedog Wetan, Satu Desa Pembuat Sangkar Burung

Kalau hanya ada satu dua warga desa, membuat satu jenis kerajinan, sudah biasa. Tapi bagaimana kalau satu kawasan, semua warganya membuat satu kerajinan yang sama. Itulah warga RW 9 Gedog Wetan Turen, pembuat sangkar burung.

Profesi mereka, aneka ragam. Ada yang pengrajin kayu, berkebun, peternak, petani, pedagang sampai pegawai negeri. Tapi jika berkunjung ke rumah, selalu ada pekerjaan ekstra. Rata-rata sama. Membuat sangkar burung.
Sebelumnya, masyarakat yang sering lewat atau singgah di Desa Gedog Wetan, apabila menuju Sendang Biru, Tamban, Bajul mati atau Goa China, lebih mengenal desa tersebut, dengan produksi tahu saja. Padahal, sejak tahun 90-an, sebagian besar warga menggeluti pekerjaan sangkar burung. ‘’Bahkan sebelum tahun 1990. Tapi belum begitu banyak,’’ ujar Budiono, Ketua RT. 5 RW. 9 Desa Gedog Wetan.
Budiono, juga sama dengan warga lainnya. Membuat sangkar burung. Padahal dia juga melayani pemesanan glugu (kayu kelapa) untuk pembangunan rumah.
Membuat sangkar burung, mayoritas justru dilakukan anak-anak muda usia produktif. Jumlahnya lebih dari separoh. Jadi wajar, Gedog Wetan, disebut sentra kerajinan sangkar burung.
‘’Pokoknya setelah aktivitas utama selesai, di rumah mereka buat sangkar burung. Kecuali anak-anak muda yang tak punya pekerjaan tetap. Mereka lebih serius buat sangkar burung. Sepertinya, warga akan malu kalau terlihat menganggur,’’ paparnya.
Menghasilkan satu sangkar burung, bukan pekerjaan mudah. Cukup rumit dan butuh ketelatenan. Tergantung besar kecilnya sangkar burung yang dibuat. Termasuk mau dipakai untuk burung jenis apa.
Bahkan salah satu proses pembuatannya, penyepetan atau memberi warna, diserahkan orang tertentu. Biasanya, pengepul mempunyai pegawai khusus untuk mewarnai sangkar burung.
Budiono juga menyebut, ada banyak jenis sangkar burung. Seperti sangkar coretan, sangkar kosan baru, sangkar sabitan dan sangkar suluhan. Yang paling bagus, sangkar coretan, dibandrol Rp 175 ribu/set, terdiri dari tiga sangkar.
‘’T api ini harga paling murah yang diberikan warga ke pengepul untuk jenis coretan. Sedangkan yang biasa, seperti sangkar suluhan harganya Rp 60 ribu per set,’’ terangnya kepada Malang Post.
Di Gedog Wetan, ada beberapa pengepul. Merekalah yang membantu warga untuk penjualan hasil kerajinan tersebut. Termasuk untuk dikirim ke Bali, Bandung, Solo dan beberapa wilayah lain.
Marga Sangkar, adalah salah satu pengepul. Agus, salah satu pegawainya menyebut, pengepul itu baru saja mengirimkan sangkar burung ke Bandung. ‘’Di sana ada pasar khusus penjualan burung dan perniknya. Pasar terbesar di Bandung,’’ kata Agus.
Meski terlihat hanya sekadar pekerjaan sambilan, tapi membuat sangkat burung, mampu mengangkat kehidupan warga Gedog Wetan, menjadi lebih baik. Sulit ditemukan ada warga yang ongkang-ongkang kaki di rumah. Jika memang terpaksa di rumah, bisa dipastikan mereka menjadi pengrajin sangkar burung.
Meski tidak secara gamblang disampaikan mengenai keuntungan yang didapatkan setiap bulannya, Budiono menyebut, 10 set sangkar burung yang dikerjakan warga, telah memberi keuntungan.
“Sepuluh set bisa dikerjakan dalam 3 hari oleh lima pekerja. Syaratnya sudah terampil. Dengan modal Rp 5 juta saja, dalam jangka waktu 2-3 bulan sudah balik modal,’’ katanya.
Budiono lantas mencontohkan, dalam sebulan, untuk membeli bahan Rp 700 ribu, dengan target membuat 30 set sangkar burung dan bisa laku hingga Rp 2,7 juta.
‘’Untungnya lumayan. Karena itu, warga menggeluti pekerjaan ini. Mulai dari anak muda, dewasa, tua bahkan anak-anak. Anak saya yang masih TK, sering membantu,’’ pungkas dia sembari tertawa. (Stenly Rehardson)