Oleh-oleh dari Journalist Gathering PT Telkom di Banyuwangi

Journalist Gathering di Banyuwangi, yang diadakan PT Telkom Indonesia (Tbk), akhir pekan lalu, memberi pengalaman baru. Bukan saja ada kesempatan menghadiri launching Banyuwangi Digital Sosiety, tapi juga melihat dari dekat Desa Wisata Osing. Berikut catatan Ira Ravika, wartawan Malang Post, dari Banyuwangi.

Desa Kemiren, Kecamatan Glagah Banyuwangi. Jika ditarik garis lurus, sekitar 20 km dari pusat kota. Sejak 1995 lalu, desa itu menjadi Desa Wisata Osing, sebuah cagar budaya di Banyuwangi.
Saya dan beberapa wartawan lain yang datang atas undangan PT Telkom dan Pemkab Banyuwangi, cukup takjub dengan suasana desa. Apalagi meski kami pendatang, namun suasana akrab, langsung muncul saat bertemu penduduk setempat. Termasuk dengan Djohadi Timbul.
Ya, Djohadi Timbul atau biasa dipanggil dengan Timbul, adalah sesepuh Desa Kemiren, yang menjadi pelopor Desa Wisata ini terwujud. Pria 60 tahun inipun mengawali ceritanya dengan asal muasal Desa Wisata Osing.
‘’Kata osing ini, tercipta saat perang melawan penjajahan. Saat itu ada perang namanya Uru-Oro. Dimana saat itu Belanda hanya tinggal sejodo (sepasang). Sedangkan warga Banyuwangi, tinggal separo. Meskipun hanya sejodo, tentara Belanda tidak menyerah. Berbekal senjata, dia meminta masyarakat untuk berkumpul di lapangan,’’ katanya.
Saat itu, sepasang tentara Belanda ini hanya mencari warga Bali. Keduanya bertekad membunuh serta memenggal kepala jika ada pejuang dari Banyuwangi.
‘’Satu persatu ditanya. Semuanya menjawab : ‘’Osing’’, saat belanda bertanya asal pejuang. Dari situlah kata Osing ini diambil,’’ kata pria yang menjabat sebagai modin desa ini.
Meskipun tidak diketahui jelas dimana perang uru-oro itu terjadi, tapi bapak empat anak ini mengatakan, jika di Desa Kemiren budaya Osing masih sangat kental. Budaya itu, konon terkait dengan perang uru-oro.
Ada tiga adat istiadat yang tidak boleh dilanggar dan harus dilaksanakan. Pertama adalah Ider Bumi, upacara tolak balak. Upacara ini, digelar rutin setahun sekali.
Kedua, bersih desa. Seperti upacara bersih desa pada umumnya, seluruh masyarakat merayakan upacara bersih desa ini bersama-sama. Mengumpulkan makanan, yang selanjutnya di makan bersama-sama. ‘’Bedanya, upacara bersih desa ini dilakukan pada tanggal 1 di Bulan Haji,’’ kata kakek 5 cucu ini.
Adat istiadat ketiga adalah jemur kasur. Kegiatan jemur kasur ini cukup menarik, karena kasur yang dijemur ternyata seragam. Yaitu kain di tengah kasur berwarna biru, sedangkan di tepinya berwarna merah.
‘’Setiap rumah selalu ada kasur seperti ini. Dijemur bersama-sama saat upacara adat jemur kasur. Setelah upacara jemur kasus selesai, malam harinya digelar upacara Tumpeng Sewu,’’ tambah Timbul.
Tiga adat budaya itu tidak bisa dilepaskan oleh warga. Bahkan, jika mereka berada di tempat jauh sekalipun, harus tetap memegang dan melaksanakan tiga adat budaya tersebut. ‘’Jika tidak dilaksanakan, atau salah satunya diabaikan, maka bala pun akan menghampiri,’’ kata Timbul.
Sementara bercerita, Timbul juga mengajak saya menuju satu lahan, yang memiliki pekarangan cukup luas. Dengan lugas Timbul mengatakan, lahan seluas 5 hektare ini milik Setiawan Subekti, pengusaha yang ingin melestarikan budaya Osing.
Kali pertama masuk, saya langsung dipameri bangunan bambu yang tinggi. Bukan hanya keindahannya, yang membuat saya takjub. Tapi di bagian atas bangunan, ada seseorang bermain angklung. Suara merdu angklung pun terdengar sahdu.
Tidak jauh dari bangunan bambu tersebut, terdapat pendopo bangunan kayu. Layaknya rumah, dalam bangunan ini terdapat meja kursi, sepeda angin serta padi.
‘’Biasanya kalau sudah panen, padi kemudian dibawa ke rumah dan besoknya dilakukan ani-ani. Yaitu kaum perempuan menumbuk padi dengan lesung, dengan iringan bunyi-bunyian. Adat itu masih ada sampai sekarang,’’ kata Timbul yang menemani saya jalan-jalan.
Cerita Timbul, langsung bisa saya buktikan. Tidak jauh dari bangunan tersebut, ada beberapa wanita sedang menabuh lesung. Irama yang teratur, menjadikan sebuah simponi indah, dari peralatan yang tak terduga. Alat penumbuk padi. Sesekali para wanita ini berbicara satu sama lain, menggunakan bahasa osing.
Tidak jauh dari bangunan itu, juga ada bangunan yang digunakan sebagai sanggar. Menurut Timbul, disinilah penari gandrung akan menghibur pengunjung tempat tersebut.  
‘’Tarian gandrung merupakan tarian khas Banyuwangi. Mereka akan menari untuk mengucapkan selamat datang kepada para pengunjung. Di tengah-tengah pertunjukan, mereka juga akan menarik pengunjung untuk ikut menari di tengah. Mereka ini sangat lihai,’’ urai Timbul.
Saya pun berkesempatan melihat dua penari gandrung ini menari dengan indah. Suasana dingin karena baru saja hujan, tidak terasa, dengan hiburan seni gandrung ini.
Seiring Timbul memberikan cerita menariknya, beberapa teman menikmati buah durian, yang dipetik dari kebun yang ada di belakang lahan.
Bahkan yang lainnya, juga sedang asyik menikmati gorengan serta kopi yang disuguhkan pemilik lahan. ‘’Beginilah desa kami. Masyarakatnya masih sangat ramah. Jika ada warga dari daerah lain datang atau menetap disini, wajib bisa berbahasa osing minimal tiga bulan,’’ tandas Timbul.
Sementara Timbul mengakhiri ceritanya, saya beserta rombongan juga pamit untuk kembali ke Hotel. Untuk kemudian berkemas dan kembali ke Malang. (ira ravika)