Spekulasi Timbun Bawang Pesawatan, Agen Besar Punya Satu Kilo

Berburu Bawang Putih untuk Memenuhi Panic Buying di Masyarakat

Sunami seorang pedagang di pasar Kota Batu. Wanita 60 tahun ini, bisa jadi bakal kena ‘tsunami’ bawang putih. Berhembus isu, ratusan kontainer bawang putih yang ditahan di pelabuhan Tanjung Perak, segera bebas hari ini.
jika itu terjadi, bawang putih import, harganya bakal turun ke level Rp 30 ribuan perkilogram. Padahal, perempuan sepuh itu terlanjur membeli bawang putih ‘pesawatan’, seharga Rp 57 ribu/kg. Kenapa disebut pesawatan, karena bawang ini ’diselundupkan’ melalui pesawat terbang.
‘’Ini bawang dari Juanda. Saya beli dari Ibu Junah seharga Rp 57 ribu/kg. Saya jual Rp 60 ribu/kg,’’ celetuknya kepada Malang Post.
Namun, Sunami pesimis bawangnya bisa laku semua. Ada desas desus sesama pedagang, stok bawang akan lancar. Selain itu, bawang pesawatan itu ternyata kualitasnya jelek. ‘’’Ya, sama-sama import dari China, tapi barangnya jelek. Mungkin barang timbunan,’’ imbuhnya.
Rabu (13/3) kemarin, seorang supplier sayur mayur asal Pujon, Sulik, mengirim bawang putih ke Pasar Batu. Sulik membeli bawang putih itu dari Pasar Segiri Samarinda, seharga sekitar Rp 28 ribu – Rp 36 ribu. Kemudian dioper ke pedagang pasar Batu bernama Junah.
‘’Saya diminta beli Rp 50 ribu/kg. Saya tawar kena Rp 47 ribu/kg, kemudian dibeli ibu Sunami Rp 57 ribu/kg,’’ terang Junah sembari menghitung uang, kemarin.
Menurut Junah, baru kali ini pedagang Pasar Batu membeli bawang putih pesawatan. Itupun tak lepas dari kreatifitas bisnis Sulik, yang memiliki relasi.
Biasanya pedagang mengambil bawang putih dari CV Surya Anugerah milik Candra Hermanto warga Ngaglik Kota Batu. ‘’Apakah itu selundupan dari Malaysia? Saya tidak tahu. Perkiraan saya adalah barang timbunan di Kalimantan,’’ aku Junah.
Sepengetahuan dia, agar bisa mengirim bawang ke Juanda, Sulik membayar bagasi Rp 6.000/kg. Kemudian bawang sekitar satu ton dijual merata ke pedagang pasar Batu. Termasuk empat kuintal di kios Sunami.
‘’Situasi seperti ini, pedagang harus pintar. Tak gampang termakan isu dan terus mengecek perkembangan harga. Kabarnya besok (hari ini, Red.) harga sudah normal. Bawang yang tertahan di (Tanjung) Perak bisa dikirim,’’ bebernya.
Sumber Malang Post yang notabene pemasok bawang putih di Kota Batu, berpendapat lain. Dia menduga, bawang putih pesawatan itu selundupan dari Sabah Malaysia. Pikirannya mengenang kembali kasus penyelundupan bawang putih di Sendangbiru masa orde baru lalu.
‘’Informasi yang saya dapat, bawang putih itu selundupan dari Sabah Malaysia. Kemudian dibawa ke Jawa naik pesawat,’’ ujar pria yang minta namanya dirahasiakan itu.
Bumbu dapur bernama latin allium sativum ini, saat ini memang langka. Jika ada, di tingkat eceran harganya berkisar Rp 60 70 ribu/kg. Agen bahan dapur terbesar di Kota Batu, Candra Hermanto, bahkan tak memiliki stok.
Malang Post diminta melihat langsung gudangnya di kawasan Ngaglik. Itu untuk membuktikan dirinya tidak menimbun bawang putih. ‘’Saya hanya punya satu kilogram. Itupun di dapur,’’ kata pemilik CV Surya Anugerah itu.
Padahal, pada hari biasa, dalam satu kali kiriman, Candra bisa menerima sampai 10 kontainer. Pasokannya merata ke pelanggan di Jawa Timur. Termasuk Kota Batu dia kuasai. Bawang putih itu diimpor dari China dan saat ini barang tertahan di Tanjung Perak.
‘’Ini karena kuota import dari Kementerian Pertanian. Agar bisa keluar pelabuhan, harus punya SPI (Surat Persetujuan Impor),’’ terangnya.
Di Tanjung Perak sendiri, diperkirakan ada sekitar 300 kontainer bawang putih asal China tertahan. Sebab tak mampu menunjukkan dokumen rekomendasi impor produk hortikultura (RIPH) dan surat persetujuan impor (SPI).
‘’Saya sebulan lalu mengajukan SPI ke kementerian. Hasilnya nol besar. Tidak dapat SPI,” keluhnya.
Seharusnya Mentan membuat kebijakan pendukung sebelum memberlakukan kuota impor itu. Misalnya mempermudah bibit bawang putih dan pupuk bagi petani lokal.
‘’Kenapa kita impor? Karena lebih murah. Bawang putih dari China, bawang merah dari India, Thailand dan Vietnam,’’ akunya.
Dirinya mengaku terakhir menjual bawang putih seharga Rp 23ribu/kg. Setelah itu, sama sekali tak mendapat pasokan dari rekanannya di Surabaya. Pembatasan import cukup membuat pengusaha seperti dirinya gelisah.
‘’Ya jujur, saya tidak menikmati keuntungan ketika harga bawang putih melejit. Terus terang saya juga tidak tega dengan masyarakat,’’ bebernya. (ary/avi)