Belajar Motor Sejak Kelas 5 SD, Pakai Korset Ketika Naik Moge

Hoby menantang, dimiliki Jajuk Rendra Kresna, diluar aktifitasnya sebagai istri Bupati Malang. Wanita berkacamata ini, ternyata seorang rider tangguh dalam melibas jalur. Mulai jenis motor gede (moge) hingga trail, semuanya mampu dikendalikannya.

Siang kemarin, seorang ibu sedang asyik berbincang dengan rekannya, di salah satu ruangan di Pusat Kerajinan Kendedes, Singosari. Mengenakan jilbab, dia begitu ramah menyapa Malang Post, yang kala itu berada di depan pintu masuk ruangan.
Dia pun mengizinkan Malang Post, yang hendak mengabadikan momen saat dirinya bersama jajarannya, menerima kunjungan Bupati Wonogiri bersama istri, dan seluruh awak rombongan.
Dibalik sisi keramahan itu, ternyata tersimpan jiwa adventure cukup tinggi dari wanita ini. Istri Bupati Malang, Hj Jajuk Sulistyowati ini, punya hoby refreshing dengan mengendari motor.
Dia bersama suami, Rendra Kresna, pernah mengajak Malang Post ikut touring on road ke Pantai Sendang Biru, Kecamatan Sumber Manjing Wetan, 21 Juni 2012 lalu. Kala itu, rombongan ikut dalam kegiatan yang diprakarsai Polres Malang.
Rute jalanan berliku pun dilaluinya dengan baik, hingga finish di komplek Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sendang Biru. Start dari Pendopo Agung Kabupaten Malang, Jalan Agus Salim kota Malang. Jajuk menaiki jenis moge bertype Sporter bertenaga 950 cc. Sedangkan Rendra menunggangi kuda besi bertype Ultra 1300cc. Setelah sempat naik perahu bersama untuk menikmati keindahan alam Sendang Biru, keduanya kembali menaiki moge-nya hingga ke Pendopo.
‘’Saya bisa naik motor sejak kelas 5 SD. Saya bisa nyopir (kemudikan, Red) mobil sejak kelas 6 SD. Bapak (Kasidi, Red) saya yang mengajari. Bapak saya itu polisi, pingin anaknya mandiri. Jadi, saya harus membuktikan bisa mandiri. Kecil saya di asrama kepolisian di Kelud, sekarang jadi Polsek Klojen,’’ kenang Jajuk.
Karena sejak kecil sudah bisa mengendarai motor, Jajuk pun terbiasa. Tak terkecuali motor ‘lanang’ alias berkopling remas yang biasa terletak di sisi kiri stang kemudi. Tetapi, diakuinya, kalau naik motor jenis moge yang benar-benar serius dalam tantangan, sejak touring ke Sendang Biru.
Sedangkan, untuk kendalikan motor trail, sudah dilakukan sejak Rendra menjabat jadi wakil bupati. Diawali saat Rendra mengajaknya untuk meninjau rencana jalur jalan untuk JLS (jalan lintas selatan) di pinggiran Malang Selatan yang tembus ke Kabupaten Blitar.
‘’Waktu itu, jalus JLS masih hutan. Belum seperti saat ini. Hanya bisa dicek dan dilintasi dengan pakai motor saja,’’ aku Jajuk. ‘’Saat ngajak, Pak Rendra bilang, kamu kan bisa naik motor, naik sendiri. Soalnya kalau aku yang nggonceng, aku takut kalau aku jatuh, kamu ikut jatuh,’’ ucap Jajuk menirukan ucapan sang suami sembari tersenyum.
Nah, dari saran Rendra, Jajuk justru semakin tertantang. Dia mengawalinya dengan menggunakan motor bebek standart. Namun ketika melihat medan di Kabupaten Malang yang masih melintasi hutan, dia pun mulai melirik motor trail sebagai tunggannya. Kemudian, saat Rendra kembali bertugas kunjung ke desa, dan Desa Taji menjadi jujugan-nya, Jajuk mengawali petualangan diatas motor trail. Motor trail Kawasaki KLX 250 cc dan menjadi temannya saat ngalas. Sedangkan, Rendra biasa pakai kuda besi jenis dari pabrikan KTM seri 530 exc.
Dia bercerita juga pernah melewati rute Desa Taji, yang baru saja terjadi tanah longsor. Tak ketinggalan, kunjungan jalan baru di Desa Licin. Dari aksinya itu, dia pun sempat dua kali terjatuh, namun gerak refleknya yang bagus, tidak membuatnya sampai cedera.
‘’Kalau moge, jujur saya baru nyoba waktu ke Sendang Biru. Setelah itu, kemarin, touring ke Balaikambang Bantur, saat saya ikut shooting video klip band Arema. Tetapi dari sisi medan, masih lebih berat ke Sendang Biru,’’ terang alumnus SMA Negeri 3 Malang ini.
Jajuk menyebut, kalau lihat tenaga motor dengan cc tinggi, pasti motor yang pernah ditungganginya lebih kenceng. Ia merasakan jika semakin kenceng, justru semakin enak dikendarai. Tapi kondisi jalanan Malang Raya yang padat, tidak mungkin tarik gas tinggi. Selama ini, dia selalu waspada dan tidak mau sembrono. Apalagi sampai takabur. Ketua PKK Kabupaten Malang ini bukan tipe penyuka naik motor banter-banteran. Dia berusaha menikmati enaknya naik moge dan trail, serta menikmati pemandangan di kanan-kiri jalanan yang dilaluinya.
‘’Rasanya sama dengan naik motor biasa, mungkin gengsinya lebih tinggi, semakin pede. Tetapi berat, capek tangan kanan kiri. Kalau perempuan ada alat reproduksi atau rahim, jadi saya selalu pakai korset saat naik moge dan trail,’’ aku Jajuk.
Wanita kelahiran Malang, 15 Maret 1970 ini menyebut, apapun hoby jika bisa menikmatinya, pasti akan memberikan manfaat. Seperti hoby naik motor, baik moge maupun trail, bisa menjadi salah satu hiburan untuk menghilangkan jenuh dan bisa fresh lagi setelah sibuk kerja. Namun, jika hoby naik motor, harus perhatikan safety naik motor, misalnya jaga jarak dan tidak boleh di belakang persis motor depan.
‘’Kalau jika sewaktu-waktu yang depan jatuh, kita bisa menghindari, dan tidak sampai ketemper (terbentur, Red). Nyupir motor dengan mobil itu beda. Kalau nyupir motor itu kena angin, kita rasanya fresh dan senang. Kemarin, Bantur sampai Malang, karena Pak Rendra nggak berhenti, saya juga nggak berhenti, hujan deras tetap jalan nggak pakai jas hujan,’’ tutup Jajuk. (poy heri pristianto)