Dari Kemeriahan Festival Jajanan Bango di Lapangan Rampal

FESTIVAL Jajanan Bango, kembali hadir di Malang, setelah absen tahun lalu. Kali ini panitia membawa 54 penjaja kuliner. Arena festival yang menempati bagian selatan Lapangan Rampal, penuh sesak sejak pagi hari kemarin. Butuh sekitar lima hari untuk mempersiapkan hajatan satu hari itu.

Kerumunan pengunjung, memadati area Festival Jajanan Bango, bahkan sebelum gelaran resmi dibuka pukul 09.00, Minggu pagi kemarin.
Di tenda pertama, setelah pintu masuk, pengunjung segera disuguhi informasi tentang proses pembuatan Kecap Bango, yang dikemas secara interaktif dan mudah dipahami.
Tenda bernama Kampung Bango itu, dihuni sejumlah petani kedelai yang hadir membawa pohon kedelai hitam Mallika, dalam kantong plastik tanam yang terlihat segar. Sejumlah petani lain, diperlihatkan sedang memilah biji kedelai untuk dijadikan bahan baku kecap.
Disamping tempat petani dan aktifitas pemilahan kedelai, ada layar datar lengkap dengan papan informasi, yang menggambarkan proses pembuatan kedelai menjadi kecap.
‘’Kami melakukan seluruh proses sesuai dengan slogan kami. Sepenuh Hati. Biji kedelai hanya dipilih yang kering, bulat, utuh dan hitam. Setelah itu, proses penderesan mulai dengan memetik bunga kelapa serta memproduksi gula kelapa. Berlanjut proses fermentasi kedelai selama 4 sampai 6 bulan sebelum dimasak, dicampur dengan air, gula kelapa dan garam dan dikemas dalam kemasan yang higienis,’’ jelas Andre Setiawan, Asisten Manajer Program Livelyhood PT Unilever Indonesia.
Proses empat bahan baku utama tersebut, menurut Andre, adalah resep yang sama yang digunakan Kecap Bango sejak awal lahirnya di tahun 1928 silam. ‘’Produksi yang terjaga dan dilakukan dengan sepenuh hati, adalah kunci bertahannya kualitas Kecap Bango sampai saat ini,’’ imbuhnya.
Puas di tenda tersebut, pengunjung bisa mulai petualangan kuliner di tenda khusus, yang berjajar menunggu disinggahi. Hingga semalam, tak satupun tenda kuliner terlihat sepi dari pengunjung.
10 legenda kuliner, yang didatangkan langsung dari luar Malang, ditambah 44 ikon kuliner lokal Malang, dipenuhi antrean pengunjung. Di bagian tengah area, berjajar meja untuk makan. Lengkap dengan air mineral siap minum dari pemurni air minum PureIt, keluaran Unilever. Sejumlah wastafel tempat mencuci tangan juga tersedia berderet di bagian tepi tempat makan.
‘’Kalau makan tak perlu susah cuci tangan. Mau pilih makanan dari Aceh sampai Jogjakarta juga tidak perlu jauh-jauh. Semuanya ada di sini,’’ kata Lailatul Rosida, salah satu pengunjung.
Penyuka masakan Jogjakarta ini, menyempatkan hadir bersama satu buah hatinya, untuk mencicipi Sate Klatak Mak Adi dan Tengkleng Klewer Ibu Edi (Solo).
Sate daging kambing yang disajikan dengan kubis, tomat dan ketimun khas sate klatak, serta tengkleng klewer yang dimakan hangat saat ditengah gerimis petang kemarin, disebutnya terasa nikmat,
‘’Dua makanan itu makanan legendaris dari Jogjakarta. Mumpung ada di sini dan tidak perlu jauh-jauh kesana jadi harus dicoba. Masih ada bonus kecap untuk dibawa pulang,’’ imbuhnya.
Kesan serupa juga diungkapkan oleh Anita Rachmad. Penggemar olahan mie ini hadir untuk mencicipi rasa Mie Koclok Mas Edy asal Cirebon.
“ Karena namanya Koclok jadi pengen tahu juga mie nya seperti apa. Ternyata mie disajikan pakai santan yang kental, mie nya sangat gurih,’’ katanya usai melahap seporsi Mie Koclok dengan banderol Rp 12 ribu tersebut.
Di area Festival Jajanan Bango, bukan hanya legenda kuliner saja yang berjaya. Ikon kuliner lokal Malang, tidak kalah ramai diserbu warga Malang sendiri.
Di awal pagi kemarin, usai senam aerobic di Rampal, Siti Maisaroh, warga Dinoyo menyempatkan sarapan dengan sepiring Ayam Goreng Pak Maning, lengkap dengan segelas teh melati dari Sariwangi, produk teh celup milik Unilever.
‘’Saya makan sekitar jam 08.00. Antreannya sudah panjang. Tapi ada kepuasan juga. Karena air PureIt saya dihantarkan oleh petugas lengkap dengan tutup kertas diatasnya. Airnya air putih itu dijaga agar tidak terkena debu dan kotoran lain,’’ jelasnya.
Untuk memuaskan pengunjung, persiapannya tidak dalam waktu singkat. Tim Festival Jajanan Bango, mulai melakukan loading logistik, pembagian kerja serta pemetaan area sejak Selasa (12/3) alias 5 hari sebelum gelaran dimulai.
Pada Sabtu sebelumnya, tim mengumpulkan ratusan petugas yang terlibat dalam even dengan tema : Legenda Kuliner Nusantara. Petugas dibagi. Mulai dari pasangan among tamu, berpakaian kebaya lengkap layaknya pager ayu dan pager bagus dalam sebuah hajatan manten.
Ada pula among khusus pendamping setiap penjaja kuliner, yang mengontrol dan memastikan stok makanan tetap ada hingga gelaran usai pukul 22.00 petang.
Among lain juga disediakan di setiap tenda Warung Bango, tempat sejumlah produk Bango dan Unilever, bisa diakses pengunjung. Atau among di tenda tempat penukaran kupon makanan dengan mini pouch Bango ukuran 60 ml.
Ada pula among yang bertugas memastikan piring dan gelas kotor di meja, segera terangkat untuk dicuci oleh petugas khusus cuci piring dan sendok, yang keberadaanya nyaris tidak terlihat oleh pengunjung.
Tak terlewat, panitia juga menyediakan sejumlah toilet untuk pria dan wanita di lokasi. Sebuah panggung besar juga disediakan untuk menghibur pengunjung dengan menampilan berbagai hiburan tradisional ataupun live musik sepanjang gelaran.
Tim Festival Jajanan Bango mengakui, persiapan kali ini disebut istimewa karena bertepatan dengan perayaan 85 tahun usia Bango mewarnai tradisi kuliner di Indonesia.
‘’Festival Jajanan Bango ini diadakan setiap tahun, sejak 2005 sebagai wujud konsistensi Bango melestarikan berbagai makanan tradisional. Tahun ini bertepatan dengan perayaan ulang tahun Bango ke- 85, kami mengunjungi lima kota besar yang memiliki kecintaan tinggi terhadap kuliner Nusantara. Terpenting ikut berperan dalam upaya pelestariannya,’’ imbuh Senior Brand Manager Bango Marieska Widhiana. (dyah ayu pitaloka)