Melihat Komunitas Sedekah Nasi Bungkus di Kota Malang

Komunitas Sedekah Nasi Bungkus ketika membagikan nasi bungkus kepada kaum duafa di pinggir jalan.

Beraktivitas Setiap Malam Jumat, Dibagikan untuk Kaum Dhuafa
KOMUNITAS sepeda motor atau sepeda ontel, mungkin sudah banyak dan menjamur di Malang. Baik di Kota, Kabupaten atau di Kota Batu. Namun komunitas yang peduli dengan kaum duafa dan anak yatim piatu, tak banyak. Salah satunya komunitas Sedekah Nasi Bungkus.
Mendengar namanya, mungkin orang sudah mengerti, sedekah itu adalah memberi. Namun apa yang dilakukan oleh komunitas ‘Sedekah Nasi Bungkus’, belum banyak yang paham. Mayoritas orang beranggapan, perkumpulkan ini sekadar komunitas biasa, tanpa arti.
Padahal komunitas yang memiliki nama di twiter @sego_bungkus ini, memiliki kegiatan yang mulia dan jarang dimiliki semua orang. Yaitu berbagi kepada sesama umat manusia. Terutama memberikan makanan sego (nasi) bungkus, kepada anak-anak yatim dan kaum duafa. Seperti tukang becak atau orang yang tidur di pinggir jalan. Termasuk orang yang masih bekerja hingga tengah malam.
‘’Komunitas Sedekah Nasi Bungkus ini, sama sekali tidak menghitung berapa jumlah anggota. Yang mau masuk jadi anggota komunitas ini, tidak harus mendaftar terlebih dahulu. Tapi bisa langsung gabung, karena yang bergabung dengan komunitas ini adalah donator. Siapa saja boleh bergabung,’’ ungkap Diah Ayu S, Ketua Komunitas Sedekah Nasi Bungkus, kepada Malang Post, kemarin.
Komunitas Sedekah Nasi Bungkus ini sendiri, terbentuk sejak setahun lalu. Berawal dari Diah, yang sebelumnya tergabung dengan komunitas Sedekah Rombongan. Ketika itu, dia menyisihkan sebagian rejekinya untuk membuat nasi bungkus. Kemudian nasi bungkus buatannya itu, dibagi-bagikan kepada para kaum duafa yang berada di pinggir jalan raya.
‘’Kebetulan saya bisanya hanya memasak. Saya sendiri memang sejak kecil, suka berbagi nasi. Katanya, kalau kita banyak bersedekah, rejeki kita akan bertambah sendiri,’’ ujar Diah.
Awalnya hanya sekitar 50 sampai 100 bungkus saja yang dibagikan oleh Diah, tiap minggunya. Namun sekarang, jumlahnya sudah pada angka 500-600. Bahkan terkadang hampir seribu nasi bungkus yang dibagikan kepada para kaum duafa dan anak-anak yatim. Itu setelah bergabungnya beberapa temannya, yang ikut peduli dan merasa apa yang dilakukan oleh Diah sungguh mulia.
‘’Semula kami memang tidak mau memunculkan komunitas ini ke publik. Namun atas saran dan dukungan dari teman saya, Adis Ramadhan, kurir Sedekah Rombongan, akhirnya mulai saya munculkan ke publik seperti melalui twiter. Itu bertujuan untuk mencari donatur yang mau ikut bersedekah,’’ tutur wanita 30 tahun ini.
Pembagian nasi bungkus sendiri, dibagikan tiap Kamis malam sampai Jumat dini hari. Sebelum memulai pembagian, biasanya anggota komunitas ini berkumpul di depan RS Lavalete Malang pukul 23.00. Setelah itu dengan mengendarai mobil, mereka keliling Kota Malang untuk membagikan nasi bungkus kepada para kaum duafa dan ke panti asuhan.
Kalau kebetulan kaum duafa yang berada di jalan sedang tidur, nasi bungkus tersebut diletakkan di sampingnya. Kadang juga komunitas ini membangunkannya terlebih dahulu.
‘’Sebetulnya sedekah nasi bungkus ini, dibeberapa daerah sudah ada. Seperti Solo, Bandung, Jogja, Surabaya dan Bengkulu. Bahkan serempak dilakukan Kamis malam sampai Jumat dini hari. Namun di daerah lain, sedekah ini masih gabung dengan Sedekah Rombongan. Sedangkan di Malang, meski berada di bawah binaah Sedekah Rombongan, tetapi sudah berdiri sendiri,’’ jelas ibu dua anak ini.
Sembari terus berkomunikasi dengan anggota lainnya menggunakan BlackBerry, wanita berjilbab dan bertubuh tambun ini mengatakan, untuk para donatur yang tergabung dalam komunitas ini tidak perlu repot-repot untuk menyalurkan sedekahnya.
Sebab hanya cukup dengan mentransfer ke nomor rekening BNI 0252344353 atas nama Adhitya AM. Kemudian setelah ditransfer diminta untuk mengkonfirmasi ke nomor 08885741522 atau ke Pin BlackBerry 26C2132C.
‘’Biasanya para donatur mentransfer antara Rabu dan Kamis pagi. Semua uang yang terkumpul akan kami buatkan nasi bungkus lalu kami sedekahkan ke kaum duafa. Karena itu amanah, maka tidak boleh sampai tersisa. Kadang kalaupun dana kurang untuk membuat nasi bungkus, saya sendiri yang menutupi,’’ bebernya. (agung priyo)