Warga Tunggulwulung Sukses Kelola Sentra Ikan Air Tawar

KELURAHAN  Tunggulwulung Kecamatan Lowokwaru Kota Malang  selama beberapa waktu terakhir berhasil  menjadi kolam  sentra ikan air tawar. Kolam memanfaatkan aset milik kelurahan setempat ini dikelola oleh warga setempat.

Di kelurahan   tersebut sekarang memang  banyak terdapat kolam ikan air tawar.  Terutama di RT 04 RW 01. Bahkan, sedikitnya ada 59 kolam mulai dari ukuran 3 x 7 meter, hingga paling besar ukuran 8 x 20 meter.  Seluruh kolam  tersebut  sepenuhnya ditangani oleh  warga tergabung dalam paguyuban ‘’Titi-Toto-Tentrem’’.
Kemarin siang, dibawah terik sinar matahari, Joni Suryoatmodjo, terlihat berdiri di tepi salah satu kolam. Sambil melihat ke sekeliling, anggota TNI AD berpangkat Peltu  ini  nampak asyik memberi makan ikan. Beberapa anggota paguyuban lain ikut menemani.
Kepada Malang Post, Joni yang sehari-harinya bekerja sebagai penjaga museum Brawijaya ini  menuturkan ihwal berdirinya kolam ikan ini  terjadi pada tahun 2010 lalu. Saat itu Wali Kota Malang Drs. Peni Suparto M.AP  datang untuk menghadiri upacara adat bersih desa. Dalam kesempatan tersebut Inep,sapaan akrabnya,  juga mengajak warga untuk bersama-sama mengatasi masalah gizi buruk yang sempat dialami warga kelurahan tersebut.
 “Tadinya kami memang tidak punya ide apa-apa. Sampai akhirnya ada warga yang sempat nyeletuk untuk mengatasi soal gizi buruk dengan membangun kolam ikan disini,’’  ungkap  Ketua RW 1 Kelurahan Tunggulwulung ini.
Celetukan ini  akhirnya  berhasil menjadi ide cemerlang.  Apalagi warga setempat kemudian mempunyai rencana membangun kolam ikan air tawar dalam wadah paguyuban Toto-Titi-Tentrem. ‘’Saat itu kami menyadari bahwa ikan  memang makanan yang memiliki nilai gizi sangat tinggi. Apalagi  tidak berdampak apapun saat mengkonsumsi dalam jumlah banyak sekalipun,’’ paparnya.
Mereka juga menyadari  untuk mengatasi masalah  gizi buruk ini warga tidak hanya membuat satu kolam ikan saja, tapi butuh puluhan kolam. Hingga akhirnya warga setempat melihat lahan kosong di RT 04 RW01  yang merupakan aset kelurahan. Tanpa berpikir panjang, Joni dan anggota paguyuban lainnya langsung datang ke kelurahan. “Kami  waktu itu menghadap Lurah Rendi Triadmodjo. Kami sangat senang karena ibarat gayung bersambut, pak lurah sangat mendukung ide yang kami ajukan. Bahkan pak lurah juga yang mengurus segala perizinannya di Pemkot,’’  ucap ayah tiga anak ini.
Setelah masalah izin beres, warga  ingin segera membangun kolam tersebut secara manual, tapi begitu langkah tersebut pasti memakan waktu yang lama. “Saat kami bingung mencari alat, tiba-tiba kami didatangi oleh pengembang perumahan, yang bersedia membantu kami dengan membawa alat-alat berat untuk mengeruk tanah,’’ tambahnya.
Seiring alat berat melakukan pengerukan, warga juga membuat saluran air, untuk mengisi kolam. Warga memilih aliran sungai Brantas untuk mengairi kolam. Dan terbukti, setelah 10 hari maka  sebanyak  59 kolam telah selesai dikeruk. Dan warga pun mengisi kolam sedalam 1 meter ini dengan air.  Bibit ikan sendiri baru disebar setelah 15 hari kemudian.
Menariknya, bibit ikan dibeli dari dana patungan antara paguyuban dengan warga berlaku prosentase. Termasuk pakannya yang saat itu mencapai jumlah hingga 150 kuintal. Berangsur-angsur,jumlah tersebut sekarang dapat dikurangi dengan memanfaatkan tanaman yang banyak ditanam warga.
Memang tidak mudah untuk berternak ikan. Terlebih, berada di lahan yang tidak memiliki pembatas. Selain mengajak seluruh anggota paguyuban berpartisipasi, warga juga memiliki giliran untuk berjaga. Tujuannya jelas, agar tidak ada maling masuk untuk mencuri ikan.Bibit ikan yang ditebar ini tumbuh dengan cepat. Bahkan, saat ini warga cukup menuai hasinya. Karena hampir setiap bulan selalu panen. Dan kebetulan kemarin warga sedang memanen ikan lele. “Disini dulu ditebar 1000 bibit, hasilnya pasti lebih dari 1 kuintal. Seperti yang sebelumnya 1000 bibit saya dapat 1,3 kuintal,’’ timpal  Dulmain, anggota paguyuban Titi-Toto-Tentram lainnya.
Meskipun awalnya ikan-ikan tersebut untuk memenuhi gizi warga, tapi kini ikan-ikan hasil panen tersebut sudah dapat dijual dengan harga sesuai pasar. Untuk ikan lele  mencapai Rp 13.000/kg, ikan gurami Rp 35.000/kg, nila Rp 16.000/kg dan patin Rp 15.000/kg.“Sekarang kami  memasok berbagai rumah makan dan warung lesehan, dan kolam pemancingan. Sedangkan untuk ikan hias jenis  koi, karena belum waktunya panen ya belum bisa dijual,’’ tandas Joni bangga. (ira ravika)