Senaputra, Bersaing Diantara Gempuran Tempat Rekreasi

Kota Malang dulu memiliki satu tempat wisata andalan. Taman Wisata Senaputra. Kini, sarana rekreasi tersebut, harus bersaing ketat dengan tempat wisata modern lainnya. Apa yang mereka andalkan?

TAMAN Wisata Senaputra, tampak lengang saat Malang Post berkunjung ke sana, belum lama ini. Selain seorang petugas loket dan staf tata usaha, tampak dua petugas lain sedang sibuk membersihkan taman buatan.
Jumlah pengunjung bisa dihitung dengan jari. Tampak tiga bocah sedang bermain di kolam renang anak, didampingi ibunya. Begitu juga seorang gadis cilik, yang bermain odong-odong.
Padahal dulu, Senaputra sempat menjadi andalan dan jujugan wisatawan. Saat ini, posisinya harus bersaing ketat dengan tempat wisata yang sudah modern. Seperti yang tersebar di Kota Batu.
Tempat wisata yang ‘seangkatan’ dengan Taman Rekreasi Sengkaling di Dau dan Selekta maupun Songgoriti di Kota Batu tersebut, harus berjuang keras, mengembalikan pengunjungnya. Meski tetap menjadi salah satu tujuan, terutama untuk anak-anak sekolah, tapi jumlah pengunjung masih belum bisa membeludak.  
Rio Aditya, staf TU setempat beralasan masa ujian sekolah mempengaruhi jumlah pengunjung Senaputra selama sepekan terakhir. ‘’Maklum saja, sekarang sedang musim ujian. Jadi kami tidak terkejut kalau hari-hari ini sepi. Mayoritas yang datang ke sini kan anak sekolahan,’’ paparnya kepada Malang Post.
Pemuda ramah itu mengungkapkan, selama ini taman wisata yang berdiri di area seluas 21.270 meter persegi tersebut, banyak dimanfaatkan untuk pengembangan bakat siswa.
Paling sering sekolah menggelar acara ekstra kurikuler untuk murid-muridnya. ‘’Terutama untuk les renang. Jadi beli tiketnya paketan dalam jumlah banyak,’’ imbuhnya.
Dengan harga tiket harian Rp 5000 untuk anak-anak dan Rp 6000 untuk orang dewasa, yang naik hanya Rp 1000 di hari libur, tarif masuk tersebut jelas sangat terjangkau untuk tempat rekreasi.
‘’Harganya sangat terjangkau. Jadi kalaupun anak saya mau belajar renang setiap hari juga tidak masalah,’’ tutur Ibu Tiwi yang pagi kemarin menemani sang buah hati.
Sejak pengelolaannya diambil alih Kodim 0833 Kota Malang, per akhir Juli 2012, Taman Wisata Senaputra memang mengusung semangat revitalisasi. Mereka terus berbenah.
Salah satunya adalah menjadikan tempat rekreasi tersebut sebagai wadah pengembangan bakat siswa. Terutama untuk usia 15 tahun ke bawah. Maka, pengelola pun mulai membangun sejumlah permainan baru untuk mempercantik tampilan sekaligus menarik minat masyarakat.
Diantaranya membuat permainan perahu dan odong-odong yang terbukti disukai anak-anak. Permainan odong-odong, bahkan menjadi primadona yang menjadi salah satu sumber pemasukan Senaputra. ‘’Setiap koinnya dihargai Rp 1000. Setiap hari rata-rata bisa menghasilkan Rp 100 ribu dari odong-odong saja,’’ urai Rio Aditya.
Selain mengusung konsep edukasi untuk anak-anak, pengelola tempat rekreasi di Jalan Belakang Rumah Sakit tersebut juga mengandalkan kolam pemancingan bertarif Rp 35 ribu serta rutin menggelar acara musik berkualitas untuk menggaet pengunjung usia dewasa.
‘’Harus terus berubah. Jika tidak, kami akan sulit bersaing dengan tempat wisata lainnya. Apalagi sekarang sudah banyak pilihan tempat wisata,’’ katanya. (tommy yuda)