Melihat Upaya SMPN 14 Menjadi Sekolah Berwawasan Lingkungan

SEKOLAH Pinggiran di Kota Malang, terus berbenah. Salah satunya terlihat di SMPN 14 yang berada di kawasan Blimbing. Saat ini, ada banyak fasilitas menarik yang tersedia disana. Siswa yang mayoritas berasal dari kalangan menengah kebawah di sekolah ini pun, kini bisa merasakan bangga memiliki sekolah yang tak kalah dengan sekolah favorit di tengah kota.

SMPN 14 Malang, berlokasi di tengah kampung. Tepatnya di Jalan Teluk Bayur, Kelurahan Pandanwangi di Kecamatan Blimbing. Tiga tahun lalu, tak ada yang menarik dari sekolah ini. Namun sekarang siapa pun akan berdecak kagum melihat fasilitas yang ada disana.
Memasuki halaman sekolah, bisa dilihat taman dan pepohonan yang tertata hijau dan rapi. Kicauan burung dan kokok ayam, bersautan memberikan nuansa rileksasi yang segar.
Di sudut halaman depan, terdapat kebun tanaman organik, dengan aneka sayuran hijau. Ada kubis, kangkung, bayam merah, terong dan cabe.
‘’Tanaman ini adalah tanaman kedua. Sebelumnya kami sudah memanen sayuran ini,’’ ujar Kepala SMPN 14, Drs Budi Santoso saat mengajak Malang Post berjalan di sepanjang kebun sayuran organik milik sekolah.
Tanaman yang terawat ini, bisa tumbuh subur karena andil kader polisi hijau yang bertugas setiap hari. Selama jam istirahat, para kader ini berada di sebuah gazebo, yang menjadi markas mereka. Mengenakan rompi hijau, siswa anggota polisi hijau, tidak akan segan menegur temannya yang belum berperilaku bersih. Termasuk mengawasi rekannya yang belum tertib memilah sampah. Selain kader polisi hijau, sekolah juga membentuk kader komposing dan kader aneka hayati.
Selain kesegaran aneka tanaman sayur, toga dan tanaman khas Kota Malang lainnya, sekolah juga mengembangkan aneka hayati. Ada ayam berbagai jenis dan juga burung.
Taman burung diposisikan di tengah gedung sekolah, sehingga keceriaan suara burung bisa dinikmati di segala penjuru sekolah. Suasana alam yang asri ini, membuat banyak burung-burung yang terbang bergerombol setiap sore, di atas rerimbunan pohon dan tanaman hijau yang ada di sekolah.
Di sudut lain, terlihat pengolahan sampah menjadi kompos yang kemudian dimanfatkan untuk memupuk tanaman. Yang lebih istimewa lagi, pemanfaatan tinja buangan dari kamar mandi siswa dan guru, dijadikan sumber energi berupa biogas. Biogas ini kemudian dialirkan ke dapur sekolah dan kantin.
‘’Alat pengolahan tinja ini sebelumnya juga diresmikan oleh Menteri Lingkungan Hidup, Balthasar Kambuaya,’’ urainya.
Karakter hidup bersih dan hijau ini, tak disulap begitu saja di sekolah ini. Budi Santoso mulai mengenalkannya secara bertahap. Diawali dengan pembentukan karakter yang dibangun berbasis religi, kedisiplinan dan budi pekerti luhur. Pembangunan karakter di sekolah dibangun melalui empat hal yaitu religi, kedisplinan, berwawasan global dan budaya lingkungan.
‘’Sekarang tanpa disuruh pun, siswa berbondong-bondong salat dhuha dan berjamaah salat dhuhur,’’ ucapnya bangga.
Tidak hanya lingkungan yang bagus, sekolah ini juga bersolek dari segi fisiknya. Gedung perpustakaan disulap amat nyaman meski tidak terkesan mewah.
Kursi plastik berjajar rapi, buku-buku tersusun di rak dan sejumlah personal computer, tersedia bagi siswa yang ingin berselancar ke dunia maya.
Selain itu wifi dan hotspot juga bisa dimanfaatkan siswa yang memiliki laptop. Di luar gedung perpustakaan, disediakan televisi yang terhubung dengan TV Edu dengan tayangan-tayangan pendidikan.
SMPN 14 Malang telah mengembangkan layanan pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Setiap kelas dan Laboratorium, telah dilengkapi media berupa LCD serta jaringan internet nirkabel (Wifi).
Hal ini dimaksudkan supaya guru dan siswa dapat memanfaatkan media tersebut, untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan mengakses informasi dengan mudah dan cepat.
Tidak hanya fasilitas belajar saja yang nyaman, fasilitas kamar mandi pun amat bersih. Bahkan disediakan posko kamar mandi yang menjadi tempat siswa berjaga untuk selalu mengingatkan jika ada yang tidak tertib.
‘’Semua fasilitas ini memanfaatkan bantuan BOS dan juga partisipasi masyarakat, karena kami ingin memberikan yang terbaik untuk siswa meski mayoritas berasal dari kalangan menengah kebawah tapi bisa menikmati sekolah berkualitas,’’ tegasnya.
Dengan layanan maksimal ini, ia berharap warga Malang tidak lagi memandang sekolah pinggiran dengan sebelah mata. Karena sekolah pinggiran pun memiliki fasilitas yang tidak kalah dengan sekolah favorit di tengah kota. (lailatul rosida)