Dosen UM Beri Pelatihan Garmen di Timor Leste (1)

Dua dosen Teknologi Industri Fakultas Teknik UM, selama sepuluh hari diundang ke Timor Leste sebagai pemateri dalam Training dan  Workshop: Design Pattern and Artistik  ‘SILK –TAIS Design  For Youth And Woman In Timor Leste,  8  – 17 Maret 2013. Kegiatan itu diadakan oleh President Kay Raga Lale,  industri kecil menengah kain sutra milik Martinho G. da Silva Gusmao. Banyak kisah menarik dalam kegiatan di tanah bekas jajahan Indonesia tersebut yang disampaikan dengan gaya bertutur.

KEGIATAN ini, sudah dirancang sejak dua bulan lalu, untuk memberikan pelajaran dasar menjahit kepada anak-anak muda dan perempuan di Timor Leste. Tim ini terdiri dari dua dosen Teknologi Industri FT UM. Dra. Agus Hery SI, M.Pd dan Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M.Si. Mereka dibantu dua alumni Pendidikan Tata Busana FT Universitas Negeri Malang, Rina Lestari, S.Pd dan Dyan Sukma Sekti Lestari, S.Pd.
Rombongan berangkat meninggalkan Malang, pada Jumat (8/3) dinihari, bersamaan dengan terjadinya kerusuhan di Surabaya yang melibatkan Bonek dan Aremania.
Travel yang ditumpangi, tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Hanya sampai di Gempol karena jalan tol diblokir. Rombongan harus pindah ke angkutan umum Isuzu, untuk melanjutkan perjalanan ke Juanda.
Untuk menuju Timor Leste, hanya ada satu kali penerbangan dengan Merpati dari Denpasar. Pada pukul 14.00 WIT, rombongan mendarat di Aeroporto Internacional Presidente Nicolau Lobato Dili. Disambut langsung President Kay Raga Lale,  Martinho G. da Silva Gusmao.
Proses pemeriksaan keimigrasian, berlangsung tanpa masalah, meskipun barang bawaan sangat banyak. Akses kemudahan ini diperoleh karena  Martinho selain sebagai President Kay Raga, juga menjabat sebagai Comisaun National Elisaun (CNE) , atau  KPU-nya Timor Leste.
Meski termasuk pejabat tinggi, jangan dibayangkan dia seperti pejabat di Indonesia, yang mendapat banyak fasilitas dan keistimewaan. Pejabat di Timor Leste tidak diperlakukan khusus dan istimewa. Martinho mengemudi mobil Pajeronya untuk menjemput dan membawa rombongan.
Dari bandara, rombongan langsung dibawa ke rumah Martinho di Dili untuk makan siang. Selama perjalanan, Martinho yang juga seorang pastur, yang biasa disapa Padre itu, banyak bercerita tentang negeri bekas jajahan Indonesia ini. Sesekali dia memberikan penjelasan tentang gedung-gedung dan tempat-tempat yang kita lewati.
Setelah istirahat sebentar, rombongan menuju kota Baucau yang ditempuh selama empat jam dari Dili melalui jalan darat. Perjalan yang sangat menarik, karena pemandangan alam yang sangat indah melewati pantai Aria Branca, pantai Fatukama, pantai Hera, pantai Behau, pantai Subaun, pantai Manatutu dan pantai Cairabela. Jalan yang dilewati naik turun bukit bebatuan alam dan batu marmer.
Sekitar pukul 21.00, perjalanan melelahkan berujung di rumah tinggal keluarga Jose da Silva dan Maria Tilman, yang akan ditempati oleh tim ini selama 10 hari.
Sambutan yang hangat, sangat terasa ketika robongan tiba. Dua kamar tidur dan hidangan makan malam lengkap, sudah menunggu. Sambil makan kami bicarakan rencana acara untuk pelatihan esok pagi.
Tim dari UM Malang ini bertugas untuk memberikan pelatihan menjahit kaum perempuan di Baucau. Acara ini diadakan oleh industri kain sutera terpadu di kota tersebut. Selain ada industri tenun, juga ada kebun Murbei untuk memelihara ulat sutera.
Sayang, kain sutera yang indah itu, belum dimanfaatkan dengan maksimal karena keterbatasan kemampuan dan menjahit. Pelatihan dipisah menjadi dua lokasi, di CDC (Centro de Desenvolvimento Comunitario) atau pusat pelatihan masyarakat di Triloca – Baucau, untuk pelatihan pembuatan asesoris.
Tempat ini dulunya adalah markas Paskhas TNI AU. Tapi sekarang disulap menjadi pusat pelatihan keterampilan masyarakat. Sedangkan lokasi ke dua, di garmen Kay Raga Lale untuk pembuatan Lenan rumah tangga dan Busana Pria dan Wanita.  
Masyarakat menyambut antusias pelatihan yang untuk kali pertama mereka ikuti. Peserta pun membludak, dari rencana hanya 20 orang menjadi 42 orang. Umumnya mereka masih belum tahu tentang teknik menjahit, bahkan pegang mesin jahit pun belum pernah. Tim pun harus mengajari mereka sejak awal. Selain menjahit, mereka juga diajari membuat pola pakaian dan memotong kain. Sedangkan anak-anak muda diberi pelajaran membuat asesoris. (bersambung)