Dosen UM Beri Pelatihan Garmen di Timor Leste (Habis)

Kalau dilihat secara fisik, kondisi Timor Leste saat ini tidak lebih baik dibanding saat berada di bawah kekuasaan Indonesia. Nyaris tidak ada pembangunan yang berarti, bahkan bangsa itu justru menjadi bangsa konsumen, semua kebutuhan diimpor. Beberapa perusahaan Indonesia menguasai bisnis di negara kecil itu, selain beberapa produk consumer goods yang marak di pasar. Di balik keterbatasan itu, kini rakyat Timor Leste mulai menggeliat mengejar ketertinggalannya.

UPAYA yang dilakukan oleh presiden perusahaan garmen Kay Raga Lale,  Martinho G. da Silva Gusmao merupakan bagian untuk memberdayakan masyarakat setempat. Dari segi sumber daya alam misalnya, negara itu cukup kaya, tapi masih belum dikelola secara maksimal. Martinho, seorang pemuka Katolik (Padre) di Timor Leste berusaha memberdayakan masyarakat melalui kegiatan ekonomi produktif.  
Kebetulan Padre memiliki perusahaan garmen kain sutra. Rencananya, perusahaan Kay Raga Lale akan menjadi industri garmen terpadu, mulai dari produk bahan baku sampai membuat produk busana. Di kawasan yang luas itu terdapat gudang besar untuk produksi garmen dan di bagian lain terdapat kebun Murbei yang cukup luas untuk memelihara ulat sutra. Perusahaan ini sudah bisa memroduksi kain sutra yang bahan bakunya diambil dari kebun sendiri. Meskipun namanya kain sutra, jangan tanya motifnya sudah sangat bagus seperti kain sutra yang ada di Indonesia atau di tempat lain. Motifnya masih sangat sederhana, cenderung polos tanpa hiasan yang berarti.
Padahal, kalau ada sedikit sentuhan motif atau hiasan dalam sutra itu, nilai kain tersebut akan semakin mahal. Setelah ada perusahaan yang memroduksi sutra, yang jadi masalah adalah siapa yang menjahitnya. Inilah problem serius yang dihadapi oleh Padre. Maka dia menjalin kerja sama mendatangkan para dosen dan sarjana busana dari UM untuk mengajari para wanita di daerahnya. Kalau dilihat dari kemampuannya, para wanita itu masih belum punya keterampilan menjahit, harus mulai dari nol.
 Inilah yang harus dikerjakan oleh tim dari UM, mengajari mereka menjahit mulai dari yang paling dasar. ‘’Saya senang, masyarakat menyambut antusias program ini,’’ kata Padre dengan bahasa Indonesia yang lancar. Sesi pelatihan menjahit menjadi acara yang paling seru, karena tim harus mengajari mereka mulai awal. Memang ada yang sudah bisa, tapi masih terbatas. Selama hampir seminggu, setiap hari para wanita itu diajari menjahit aneka busana, baik pria maupun wanita.
Workshop Design Pattern and Artistik  ”SILK –TAIS” Design  For Youth And Woman In Timor Leste akhirnya berhasil menelurkan beberapa orang yang sudah mampu menjahit, meskipun masih belum sempurna. Untuk mampu menjahit pakaian bagus seperti sutra harus memiliki kemahiran khusus. ‘’Tapi mereka memiliki semangat yang tinggi untuk belajar, sayang waktu kami hanya sebentar, sehingga belum bisa menularkan semuanya,’’ ujar Sri Eko Puji Rahayu, salah seorang dosen. Meskipun demikian, Padre merasa puas dan berminat untuk menggelar lagi kegiatan serupa untuk kemampuan yang lebih tinggi. Maklum, usaha garmennya membutuhkan tenaga trampil dari warga setempat.
Puncak acara adalah pameran hasil karya peserta yang dihadiri oleh Sekretaris Negara bidang Industri dan Koperasi Nino Pereira, atau sama dengan Menteri Muda di Indonesia, bersama Direktur Koperasi Nasional (Dirjen jika di Indonesia) beserta staf dan rombongan jurnalis cetak dan elektronik dari  kementrian Timor Leste. Rombongan pejabat negara itu datang  ke CDC,  berkeliling kebun dan area budidaya ulat sutra, serta mengunjungi tempat produksi tenun kain sutra.
Kunjungan langsung menuju ruang pameran hasil pelatihan, dan setelah puas melihat pameran, rombongan langsung menuju ruangan pertemuan untuk mengadakan dialog dengan masyarakat peserta pelatihan. Di ruang pertemuan ini berkumpul ibu Lurah Triloca Maria Docarmo, Wakil komandan Angkatan Udara, Komandan Polisi Leonardo, Direktur Pertanian Distrik Baucau Amaro Ximenes, Direktur Badan Pertanahan Distrik Baucau Matheus, Wakil Bupati Baucau Fransisco Guteres dan para pejabat setempat.
Meskipun pejabat tinggi, jangan samakan mereka dengan pejabat di Indonesia, mereka sangat sederhana, baik busana yang dikenakan maupun kendaraannya. Para pejabat itu berdialog dengan peserta dan para instruktur dari Indonesia. Mereka berharap kegiatan ini dilanjutkan dan ditingkatkan untuk mendorong perekonomian masyarakat. Sekretaris negara Nino Pareira mengatakan, kegiatan ini akan diperluas, bukan saja oleh swasta, tapi juga akan dilakukan oleh pemerintah. ‘’Kami masih membutuhkan bantuan teknis untuk mengajari masyarakat agar mereka bisa menghasilkan sesuatu,’’ ujarnya saat berdialog dengan peserta.
Dia merasa senang melihat hasil karya peserta pelatihan yang dianggapnya sudah cukup baik. Sesi terakhir adalah perpisahan dengan peserta. Suasana yang tadinya penuh dengan rasa gembira, berubah menjadi haru saat beberapa peserta minta agar para instruktur tidak segera pulang. Mereka sangat mengharapkan bimbingan agar bisa menjahit lebih baik. Sambil terisak seorang ibu minta agar instruktur kembali lagi ke Baucau. ‘’Ibu jangan pulang, kami masih butuh bimbingan ibu. Ibu harus janji, kembali lagi mengajari kami,’’ ungkapnya. (***)