Nanang Tri Wahyudi, Dokter Arema ISL yang Juga Dokter Tinju

SEBAGIAN besar publik pecinta sepakbola Malang, mungkin masih bertanya-tanya sosok dr Nanang Tri Wahyudi SpKO, dokter tim Arema Indonesia. Usut punya usut, ternyata ia tak hanya jadi dokter tim sepakbola. Di saat jadwal ISL senggang, Nanang pun ikut terjun di dunia kedokteran tinju, sebagai dokter ring bagi Asosiasi Tinju Indonesia (ATI).
 
Siang itu, para pemain Arema Indonesia tampak sibuk di lapangan. Materi latihan dari headcoach Rahmad Darmawan (RD) cukup banyak. Karena, tim sedang persiapan menghadapi pertandingan lanjutan ISL. Sesaat kemudian, punggawa Singo Edan pun mencoba trial game session, untuk mempraktekkan strategi yang diinginkan RD.
Saking semangatnya berlatih, benturan tak terhindarkan. Salah satu pemain pun jatuh tersungkur meringis kesakitan. Begitu insiden ini terjadi, raut muka sosok kalem yang terus mengawasi dari pinggir lapangan pun berubah tegang. Tapi, begitu pemain yang meringis sakit itu bangkit dan tidak cedera, pria ini pun kembali tenang.
Sosok yang dibikin ketar-ketir ketika pemain cedera tak lain adalah dokter tim, dr Nanang Tri Wahyudi SpKO. Sebagai satu-satunya dokter tim di kompetisi ISL yang memegang gelar spesialis kedokteran olahraga, Nanang paham benar tentang lika-liku penyembuhan cedera altet dan olahragawan.
Karena itu, kadang ia sendiri sempat heran tentang banyaknya orang yang bingung dengan profesinya sebagai dokter tim. ‘’Selama ini kan dokter diidentikkan mengurus batuk pilek atau penyakit lain. Karena itu, awal saya datang ke Arema, banyak yang bingung, untuk mengurus sepakbola saja kok harus datangkan dokter segala,’’ terang Nanang kepada Malang Post.
Padahal, menurut lulusan Fakultas Kedokteran UI jurusan spesialis kedokteran olahraga itu, manajemen medis di sepakbola sangatlah rumit. Tidak sesederhana kelihatannya. Nanang memaparkan, dokter tim tak hanya bertanggung jawab mengatasi pemain yang cedera dan merehabilitasinya.
‘’Kalau dokter tim bukan hanya soal cedera, dokter tim juga tanggung jawab screening medis untuk meluluskan pemain rekrutan baru. Ada juga vaksinasi terhadap pemain, lalu ada pengobatan dan mengurus nutrisi yang masuk ke tubuh pemain. Belum lagi, urusan doping,’’ tandas pria kelahiran Magetan tersebut.
Karena itu, sejatinya profesi dokter tim sepakbola tidak bisa diremehkan. Bahkan, saking ketatnya program manajemen medis bagi sepakbola, Nanang harus memiliki partner. Yakni Harmun Agussocha alias Ocha.
Tidak seperti anggapan banyak orang yang menyebut Ocha sebagai fisioterapis, Nanang dengan mantap menerangkan bahwa asistennya itu adalah sport therapist.
‘’Backgroundnya beda dengan fisiotherapist. Sport therapist fokus ke latihan spesifik sepakbola untuk program recovery pemain cedera. Program recovery dokter tim yang buat, dia yang jadi pelaksana utama di lapangan,’’ sambungnya.
Tapi, profesi Nanang bukan hanya dokter sepakbola saja. Selain menjadi dokter Arema, pria kelahiran 27 September 1978 itu juga merangkap sebagai dokter tinju, di bawah Asosiasi Tinju Indonesia (ATI).
Di kala jadwal ISL cukup senggang dan tak ada pemain cedera, Nanang sering berangkat ke Jakarta untuk menjalani profesi di dunia olahraga adu jotos tersebut.
Ia sudah menekuni profesi dokter ring tinju sejak Mei 2010. ‘’Saya biasanya jadi dokter ring, yang tugasnya memeriksa kelayakan para petinju untuk bertanding, sekaligus jadi dokter ring saat pertandingan tinju berjalan. Saya yang menentukan doctor call, sekaligus menghentikan pertandingan tinju andai salah satu petinju tak bisa lanjut karena cedera parah,’’ terang Nanang.
Namun, meski sudah tiga tahunan jadi dokter tinju, konsultan kesehatan olahraga Balai Kesehatan Olahraga Masyarakat (BKOM) Kalimantan Selatan itu merasa beruntung tak pernah menyaksikan pertandingan tinju berdarah-darah yang berujung maut. Pasalnya, Nanang yang menentukan apakah pertandingan dilanjutkan atau tidak, andai ada petinju yang cedera parah di kepala tapi tetap ingin lanjut tanding.
‘’Untung saja, sampai saat ini saya tak pernah menjadi dokter ring saat ada pertandingan fatal yang berujung meninggal,’’ sambung dokter Rumah Sakit Pertamina Bina Medika tersebut.
Namun, kata Nanang, menjadi dokter tim sepakbola itu jauh lebih berliku ketimbang jadi dokter tinju. Dokter ring tinju cenderung hanya mengurusi cedera petinju yang hanya berkutat di sekitar kepala, meskipun resiko di dunia tinju lebih besar. Karena, olahraga yang disebut sweet science itu sudah dikenal mematikan para atletnya.
‘’Kalau cabang tinju, mungkin hanya ada cedera di kepala, dengan segala macam variasinya, yang berpotensi membunuh petinju. Tapi, kalau sepakbola, cedera bisa terjadi dari engkel sampai kepala, jauh lebih kompleks penanganannya,’’ tandas Nanang. Karena itu, sejatinya Nanang sangat bangga bisa menangani tim sepakbola, sebesar Arema.
Eks dokter Persija itu merasa bangga, karena di Arema bisa merasakan kasus cedera terbesar yang pernah dialaminya semenjak terjun di dunia kedokteran olahraga.
Tepatnya, saat Nanang baru saja masuk Arema di masa pra musim ISL 2012/2013. Ia harus merasakan pusingnya mengatur program pemulihan bagi 15 pemain yang cedera.
‘’Itu rekor bagi saya. Seumur-umur baru kali ini dalam satu bulan ada 15 pemain cedera. Ini sekaligus pelajaran buat manajemen, hati-hati milih kompetisi pra musim. Bikin pemain cepet cedera. Bahkan, jadwal super padat pra musim bikin tes kesehatan tertunda,’’ tutup Nanang.(fino yudistira)