Pemahat Es, Profesi Langka dan Dibutuhkan di Indonesia

PROFESI Pemahat es, atau ice curving tergolong jarang di Indonesia. Apalagi di Malang. Namun hasil karya mereka semakin banyak muncul di berbagai acara formal. Dibutuhkan persiapan matang sebelum dan saat berlangsungnya proses memahat mengingat es adalah benda cair yang akan meleleh jika terpapar panas.

Pagi kemarin, Norman Afianto sedang sibuk menata 100 balok es yang hendak di pahat. Balok berukuran panjang sekitar 1,1 meter dengan ketebalan sekitar 20 cm itu, baru saja diangkut dari pabrik es Betek.
Asap terlihat mengepul tebal, keluar dari balok es tersebut. Satu persatu balok dengan berat sekitar 30 kg, disusun bertumpuk sebagai dasar fondasi untuk dipahat menjadi miniature Taj Mahal dengan lima menara di MX Mall.
Tiga tenaga bantuan dikerahkan, untuk memahat dan mengukir es dengan menggunakan pisau pahat (tatah), hamer dan juga sebuah gergaji listrik.
‘’Ini adalah alat standart yang saya gunakan untuk mengukir. Persiapannya minimal satu minggu. Mulai dari menggambar sketsa, memesan balok es dan mengasah mata tatah. Semuanya siap disusun dan digunakan pada harinya,’’ kata pemahat es yang kerap di sapa Afi tersebut.
Seluruh proses memahat, wajib dilakukan dalam hari yang sama dengan penggunaan pahatan tersebut. Soal ritual memahat, bisa diatur, apakah dilakukan di bengkel es Betek, atau dilakukan langsung di lokasi. Seperti di MX Mall tersebut.
Bahkan, Afi dan timnya pernah menerima pesanan pahatan es berbentuk harpa dari pasangan penganten di Lumajang. Pahatan yang diselesaikan sekitar pukul 12 siang, langsung dihantar menggunakan mobil box dan menempuh jarak sekitar 5 jam. Tentu dengan gaya berkendara yang sangat berhati-hati.
‘’Waktu itu pahatan harpa selamat sampai dengan tujuan. Kalau sampai patah, ya kami yang bunting. Artinya pesanan gagal,’’ bebernya.
Salah satu kunci sukses untuk pahatan yang kokoh dan baik ada pada pemilihan es yang matang. Semakin matang es, akan menentukan daya tahan es di luar ruangan. Walaupun es juga akan semakin padat dan menantang untuk di pahat.
Idealnya, es akan bertahan lama pada suhu dibawah 20 derajat celcius. Saking lamanya menjalani profesi pemahat es, Afi menyebut hafal bentuk es balok yang matang dari fisiknya.
‘’Kelihatan jelas. Kalau ada sedikit ceruk di balok, artinya es itu kurang matang. Pasti tidak kami pakai,’’ lanjut pria yang juga mengelola catering Aroma dengan isterinya.
Afi mengaku, profesi memahat es diterjuninya tanpa disengaja. Sekitar tahun 1993, Afi yang berprofesi sebagai artist kitchen berkenalan dengan rekan sekaligus tentornya, Bambang Sugiono, di sebuah hotel berbintang di Jakarta. Dia adalah sosok yang mengajarinya seni memahat es.
Bergaul tiga tahun dengan Bambang, yang disebutnya kini bekerja di sebuah hotel berbintang di Dubai, Afi pun hijrah ke Malang sekitar tahun 1996 dan melanjutkan profesinya mengukir es.
Tahun 2010 Afi dan tim berhasil memecahkan rekor MURI untuk pahatan tertinggi. Dia memahat replika menara Syahbandar di Ancol, Jakarta, dengan ketinggian sekitar 3 meter. Saat itu timnya membutuhkan sekitar 4.000 balok es dengan anggaran total sebesar Rp 125 juta.
Malangnya, prestasinya tidak mampu menutupi lesunya bisnis pahatan es di Malang di tahun yang sama. Harga pahatan es yang dipaketkan dengan catering, terus melonjak dan dianggap terlalu tinggi. Sehingga banyak catering yang enggan menyertakan jasa pahatan es dalam paket mereka.
‘’Tapi setelah itu, ternyata permintaan banyak datang dari hotel. Tahun lalu misalnya, satu bulan dari target 10 pekerjaan bisa tercapai 20 pekerjaan. Bahkan satu hari bisa dobel pesanan. Biasanya dipakai acara resmi sampai pesta seperti malam tahun baru,’’ runtutnya lagi.
Tahun ini, Afi tetap optimis pahatan es nya semakin banyak diminati. Walaupun profesi pemahat es tak banyak dipilih dan tersedia di Malang atau Indonesia.
‘’Di Indonesia profesi ini masih minor. Ini berbeda dengan di luar. Tidak ada sekolah khusus untuk pahatan es. Tetapi, dengan belajar rutin dan tekad skillnya bisa di dapat dengan otodidak,’’ tandasnya yakin. (dyah ayu pitaloka)