Pertaruhan Nasib Persema Jelang Seabad kota Malang

TEPAT hari ini, Kota Malang bakal merayakan hari jadinya yang ke-99. Jelang seabad usianya, telah banyak prestasi yang mampu diraih dan patut dibanggakan. Mulai dari sektor pendidikan, pariwisata maupun ekonomi dan bisnis telah banyak menunjukkan kemajuan signifikan selama beberapa tahun terakhir.
Sayangnya, hal ini tak diiringi kabar menggembirakan dari sektor olahraga. Langkah regresif mengiringi perjalanan Kota Malang seiring keterpurukan klub sepakbola yang dulu pernah mereka bangga-banggakan, Persema Malang. Sejak memutuskan keluar dari kompetisi Indonesia Super League (ISL), pada tahun 2010 silam, problematika seakan tak pernah lepas dari klub berjuluk Laskar Ken Arok.
Keputusan hijrah ke Indonesian Premier League (IPL) bukannya membawa angin segar, namun justru menjadi boomerang bagi klub yang dulu berjaya dengan julukan Bledek Biru. Kebijakan unifikasi seperti telah disepakati dalam Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Hotel Borobudur Jakarta, 17 Maret lalu membuat nasib Persema kian tak jelas.
Bukan hanya tak diundang mengikuti kongres, Persema semakin mendapat pukulan telak karena namanya tak masuk dalam daftar klub yang berhak mengikuti kompetisi unifikasi yang akan dioperatori PT Liga Indonesia (LI) musim depan. Bersama Persibo Bojonegoro, PSM Makassar dan Persebaya 1927, Laskar Ken Arok melengkapi deretan klub ‘besar’ IPL yang harus gigit jari menerima kenyataan tersebut.
Prahara langsung menyelimuti segenap awak klub. Manajemen Persema langsung meliburkan para pemain sehingga tak berangkat ke Makassar untuk melakoni duel kontra PSM. Head coach Slave Radovski pun langsung meletakkan jabatannya sebagai nakhoda tim dan pulang ke kampung halamannya di Makedonia.
Nasib Persema ibarat mati segan hidup tak mau. Di satu sisi, manajemen bersikeras untuk terus mempertahankan kelangsungan hidup klub yang tak lagi menyusu APBD sejak tiga tahun silam. Hanya saja, mesin penggerak tersebut tak cukup ampuh lantaran asupan dana yang minim. Begitu diputsukan tak ikut kasta tertinggi, mereka pun mundur teratur.
CEO Persema, Didied Poernawan Affandy bahkan menyiratkan kemungkinan Persema tak lama lagi hanya akan menjadi sejarah. Begitu juga Peni Suparto tiap kali disinggung soal Persema selalu berkilah dirinya sudah tak ada kaitannya lagi dengan klub yang berdiri sejak tahun 1953 silam. Menurut Walikota Malang tersebut, apa yang dilakukannya saat menjadi Ketua Umum dulu tak lain adalah sebuah upaya penyelamatan klub pujaan Ngalamanaia.
Lantas, siapa yang kini harus bertanggung jawab akan masa depan Bledek Biru? Pasalnya, Persema adalah muara kompetisi lokal di Kota Malang. Tanpa adanya klub profesional yang bisa menampung talenta-talenta terbaik dari liga amatir, sama artinya menyia-nyiakan bakat istimewa yang lahir dari lapangan hijau. Terlepas bagaimana animo publik terhadap Persema, eksistensi klub ini masih perlu diperjuangkan.
Meski tak lagi berada di bawah naungan Pemkot, agaknya pemerintah perlu turun tangan untuk menuntaskan kemelut Persema. Pengcab PSSI Kota Malang dan PO/PS yang tergabung di dalamnya juga tak boleh tinggal diam menyaksikan drama Laskar Ken Arok yang sedang berlangsung.
Tak luput perhatian masyarakat, khususnya pecinta bola dan Ngalamania memikirkan langkah solutif untuk melepaskan Bledek Biru dari jerat keterpurukan. Bila tak ada langkah konkret, Persema bakal benar-benar menjadi sejarah setelah 60 tahun berkiprah di pentas sepakbola nasional. Kita semua berharap masih bisa melihat aksi Persema di Stadion Gajayana saat Kota Malang merayakan pesta ulang tahun seabadnya tahun 2014 mendatang. (*)