Raden Wijaya, Bertahun-Tahun Mencari Batik Khas Batu

BEBERAPA model berlenggak-lenggok di atas catwalk Lippo Plaza Batu (eks Batu Town Square), beberapa waktu lalu. Mereka tidak mengenakan busana modern dengan dandanan menor, melainkan mengenakan batik. Batik tersebut bukan sembarangan, karena diproklamirkan sebagai batik khas Batu. Seperti apa ada apakah memang ada batik khas Kota Batu tersebut ?  

Batik merupakan salah satu kekayaan Indonesia. Berbagai daerah memiliki batik khas dan sangat terkenal. Misalnya Jogjakarta, Pekalongan hingga Madura. Apalagi daerah-daerah wisata, sebuah produk yang khas (batik) akan menambah identitas kota. Di Kota Batu ada beberapa produsen batik dan ada juga yang berlomba-lomba menobatkan produksinya sebagai batik khas Batu.
‘’Jika suatu daerah memiliki batik khas, biasanya pakem berupa corak sudah ada sejak lama dan turun temurun. Di Kota Batu, belum ada pakem batik yang khas sejak lama. Saat ini, kami masih terus mencari batik khas Batu yang sebenarnya,’’ tegas Lina Santoso, pemilik batik tulis Raden Wijaya Kota Batu, salah satu produsen batik Kota Batu.
Batik yang dikenakan model ketika berlenggak-lenggok tersebut adalah produksi Raden Wijaya, produsen batik asal Desa Pandanrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu.
Meski belum dipatenkan, dia sudah berani menyebut batik tersebut adalah khas Kota Batu. ‘’Saya harus berani mengatakan bahwa batik ini adalah khas Kota Batu,’’ tegas dia.
Untuk membuat batik khas Batu, batik tersebut harus bisa mencerminkan ikon-ikon atau potensi Kota Batu. Apel dan aneka buah lain, sayur, pemandangan indah, pegunungan hingga objek wisata menjadi potensi Kota Batu.
Potensi-potensi itu harus ikut terangkum dalam sebuah batik. Begitu ada orang mengenakan batik dari Raden Wijaya, dia benar-benar terlihat mengenakan batik Batu.
Ide membuat batik khas Kota Batu seperti itu sudah ada sejak beberapa tahun silam. Dia malahan sudah pernah memproduksi batik dengan corak aneka sayur atau potensi pertanian dan alam Kota Batu. Namun, dia pernah mendapatkan cemoohan dari konsumen atau pedagang karena batik dengan corak seperti itu dianggap aneh.
‘’Batik kok bergambar sop-sopan. Batik seperti ini apa ada yang mau beli. Batik yang gampang menembus pasar adalah batik yang sudah memiliki brand. Misalnya saja batik Pekalongan, Solo atau Madura. Meski ada yang bilang seperti itu, saya tidak peduli dan terus memproduksi batik khas Batu,’’ tegas Lina.
Keseriusan Raden Wijaya menggarap batik ‘khas’ Kota Batu ternyata juga membuahkan hasil. Perlahan namun pasti, batik tersebut bisa diterima oleh pasar.
Desain batik Batu kini menjadi brand dan digunakan sebagai batik atau pakaian resmi pegawai Pemkot Batu. Batik itu dikenakan Walikota Batu Eddy Rumpoko dan sekitar 4.000 pegawai pemkot.
Batik itu juga menjadi busana resmi kedaerahan dan biasa digunakan pertukaran cindera ketika ada kunjungan ke Kota Batu atau sebaliknya. Batik yang digunakan pegawai tersebut memiliki warna dasar lebih cerah jika dibanding batik-batik lain yang sudah ada.
Motif pakaian itu terdapat buah apel dan aneka sayur, seperti wortel, brokoli dan lain-lain. Motif alun-alun dengan ferrys wheels tidak ketinggalan karena potensi itu sudah menjadi ikon.
‘’Waktu itu ditantang Walikota untuk membuat desain batik khas Batu. Desain itu akan dipatenkan dan digunakan sebagai seragam Pemkot,’’ tambah Retno Dwi Tunjung, anak Lina Santoso, perempuan yang juga menggeluti batik.
Nana, sapaan akrabnya, menjelaskan, pihaknya juga sudah memproduksi batik sapu jagat, khas Batu lainya. Batik ini berwarna dasar lebih gelap. Semua produk hasil bumi tergambar di batik itu. Batik itu menjadi busana khas, Kangmas-Nimas Kota Batu yang mengikuti Raka-Raki Jatim, Maret lalu. (febri setiyawan)