Eyang Wiwik Joewono, Penggiat Homeschooling untuk Anak

Jauh sebelum homeschooling menjadi tren di Indonesia, Eyang Wiwik Joewono telah mengawali pada tahun 1964. Perempuan yang umurnya sudah kepala tujuh itu, mengamalkan ilmu psikologi yang didapat dari Universitas Indonesia, kepada para buah hatinya. Sekaligus membuka taman kanak-kanak di setiap kota yang ditinggali.

Eyang Wiwik Siti Hardiyati, nama ini mungkin agak asing. Tapi bagi sebagian orang, wanita yang mengembangkan Sanggar Cendikia di Perumahan Villa Bukit Sengkaling Kecamatan Dau Kabupaten Malang ini, adalah ‘penyembuh’ bagi anak bermasalah.
Ibu lima anak ini, tiba di Kota Malang tahun 2005. Eyang menjadi motor berdirinya komunitas homeschooling. Komunitas itu menjadi embrio sekolah dolan yang kini dikelola oleh Lukman Hakim di kawasan Villa Bukit Tidar.
Model pendidikan homeschooling ini, sebenarnya bisa diterapkan oleh orangtua manapun. Apalagi saat ini beban sekolah formal yang cukup berat bagi para orangtua.
‘’Tahun 1964, pertama kali saya terapkan homeschooling kepada anak saya di Jember. Saya ingin anak saya tumbuh seperti usianya,’’ terangnya.
Bagi Eyang Wiwik, anak-anak seusia TK harusnya lebih banyak bermain. Sedangkan saat ini, anak sudah dipaksa untuk menghafal berbagai jenis bacaan. Melalui konsep pembelajaran yang dia terapkan, Eyang mengajak anak mempelajari langsung simbol bacaan.
‘’Ketika ikut dinas suami di Lahat Sumatera Selatan tahun 1965- 1972, anak saya juga homeschooling, sembari saya mendirikan TK disana,’’ imbuhnya.
Ketika itu, seluruh anak pasangan Joewono dan Wiwik Siti Hardiyati bersekolah di rumah. Mulai TK sampai dengan Sekolah Dasar. Ketika SMP dan SMA, barulah praktik itu berlangsung fity-fity. ‘’Anak-anak saya tidak setiap hari sekolah. Ketika itu untuk ujian ada istilahnya TPB,’’ terangnya.
Dengan homeschooling, anak-anaknya justru berbuah prestasi, lulus PMDK. Wiwik sendiri terus mengamalkan ilmunya. ‘’Suami saya pegawai PT KAI jadi selalu berpindah. Tapi garasi rumah selalu saya jadikan sekolah,’’ imbuhnya.
Di Lahat, karena hidup di sekitar stasiun, dia juga sempat membina anak jalanan. Ketika itu, memanfaatkan lahan PT KAI, anak-anak jalanan diajak menanam. Bahkan ketika terjadi paceklik pangan, justru anak-anak jalanan masih survive dengan panenannya.
Lepas dari Lahat pada 1972, keluarga itu berpindah ke Purwokerto. Disana Wiwik sempat membina para anak cacat mental. Kemudian pindah ke Bandung sejak tahun 1976 sampai dengan 2005. Di kota itu, Wiwik makin giat membina anak-anak cacat mental dan berkebutuhan khusus. ‘’Sejak tahun 1981 menjadi koordinator SLB se Jawa Barat,’’ ungkapnya.
Biaya untuk sekolah semacam itu, bersumber dari kantong pribadi. Wiwik sempat menjadi MC pernikahan adat Jawa. Itu dimulai setelah mendapat buku dari Belanda yang ternyata tulisan Sunan Kalijaga. ‘’Selain jadi MC temanten, juga ngajar di beberapa universitas,’’ katanya.
Di Malang sendiri, perempuan yang sempat mengajar di Lembaga Administrasi Negara (LAN) itu, juga langsung berkiprah. Namun pada Oktober 2010 sampai dengan 2011 terpaksa berhenti.
Ketika itu Eyang Joewono, sang suami, yang juga pengajar (LAN) sakit keras hingga meninggal dunia pada Juni 2011. ‘’Selepas kepergian eyang, saya aktif kembali, tahun 2012 diminta menangani anak bermasalah,’’ ungkapnya.
Waktu itu ada sekelompok anak di Kecamatan Dau yang tak bisa ikut ujian karena bermasalah. Eyang kemudian menangani mereka. Lantas diminta juga menangani sejumlah anak persiapan SMP sekitar 80 anak.
‘’Saya pakai metode mengambar dan teka-teki silang (TTS), akhirnya mereka lulus ujian dengan baik,’’ jelasnya.
Dua metode itu memiliki arti tersendiri. Bagi psikolog, dengan menggambar maka ekspresi diri si anak akan terlihat. Dari situlah, eyang bisa memasuki alam si anak setelah mengetahui hasil karyanya. ‘’Teka-teki silang sebenarnya metode belajar lain,’’ ujarnya.
Anak-anak diberi soal TTS yang berhubungan dengan mata pelajaran. Karena tak tahu jawabannya, mereka kemudian membuka buku. Dari situlah, secara tak sadar anak-anak itu bersedia untuk belajar.
‘’Selama ini motivasi belajar mereka kurang, sedangkan pemberian materi terlalu instruktif,’’ bebernya.
Pemberian materi kepada anak yang pertama harus dilatih afeksi atau rasa. Kemudian tumbuh perilaku motorik seperti mau belajar. Jika hal itu digabungkan maka nalar mereka akan bekerja dengan baik.
‘’Disini (sanggar Cendikia) saya ajak anak-anak bermain dengan alam, mempelajari langsung simbol bacaan, seperti buah pohon, mereka lihat pohonnya kemudian mengeja hurufnya,’’ urainya.
Eyang Wiwik dan Sanggar Cendikia juga fokus mengembangkan pendidikan anak di Kecamatan Dau. Eyang dengan 10 cucu itu, prihatin dengan kesenjangan pendidikan anak-anak di desa dekat kantor kecamatan dan pinggiran.
‘’Ada sesuatu yang timpang, seperti desa-desa di Kucur, Selorejo, Petungsewu dan Gadingkulon, berbeda dengan di Landungsari, Mulyoagung, Sumbersekar yang dekat dengan kota,’’ terangnya.
Sebagian warga yang di kawasan pinggir, pasrah dengan kondisi. Mereka terkendala transportasi untuk sekolah lebih jauh. Sehingga banyak pernikahan dini, serta pengangguran karena enggan mengerjakan lahan.
‘’Secara berkala akan saya bikin kegiatan disana, membentuk forum anak tingkat SMP, diajak berkemah bersama akhir Mei dan menyemangati anak-anak menuntut ilmu,’’ tegasnya. (Bagus Ary Wicaksono)