Ade d’Kross, PNS yang Promotor Tinju dengan Empat Lisensi

Kesibukannya di instansi pemerintahan, sama sekali tak menyurutkan semangat Ir H Ade Herawanto MT, untuk terus memajukan dunia hiburan dan olahraga di Kota Malang. Selain tak henti berkarya di dunia musik, Kabid Perumahan dan Tata Ruang DPU PPB Kota Malang itu, juga aktif membangkitkan kembali olahraga tinju. Berkat kegigihannya, dia diganjar penghargaan bergengsi oleh Asosiasi Tinju Indonesia (ATI).

BERSAMA 42 tokoh lainnya, nama Ade masuk dalam daftar penerima piagam penghargaan dari salah satu asosiasi tertinggi cabor adu bogem tanah air tersebut.
Prestasi ini jelas tak main-main. Penghargaan ini hanya diberikan sebagai pengakuan dan penghormatan kepada insan tinju profesional atas peranan, dedikasi dan dukungannya dalam membina olahraga tinju di Indonesia.
Karena prestasinya tersebut, kini nama Ade layak disejajarkan dengan sejumlah tokoh tinju ternama yang juga meraih penghargaan serupa. Sebut saja Pembina ATI Pusat, Jenderal TNI (Purn) H. AM Hendropriyono hingga mereka yang pernah menduduki kursi Ketua ATI Pusat, macam Elza Syarief, Rufinus H Hutauruk, Junimart Girsang hingga Laksda TNI (Purn) H Yuswaji yang telah lama malang melintang di dunia tinju profesional.
Bapak dua anak ini jelas tak menyangka kiprahnya selama ini bakal berbuah penghargaan prestisius tingkat nasional.  ‘’Tujuan awalnya, saya hanya ingin mengembalikan kejayaan tinju Malang seperti era 70’ dan 80’an silam. Semua ini berangkat dari rasa keprihatinan akan terpuruknya olahraga tinju di Malang,’’ ungkapnya kepada Malang Post.
Pria kelahiran 17 Oktober 1968 lantas menceritakan awal mula kecintaanya dengan olahraga keras ini. Memorinya langsung tertuju pada gelaran tinju di Lapangan Rampal medio Agustus 2002.
‘’Semua orang saat itu larut dalam euforia sepakbola. Sampai-sampai tinju pada acara Expo Rampal tidak ada yang menonton. Miris sekali melihatnya,’’ kenangnya lirih.
Setahun berselang, Ade kemudian bergabung dalam manajemen Gajayana Boxing Camp (BC). Sebagai langkah awal, dia mulai merintis karier sebagai Co-Promotor. Dari situlah, obsesi besarnya mulai timbul. ‘’Saya ingin melihat ada seorang juara tinju dunia asal Malang. Saya berusaha keras bisa jadi promotor untuk mewujudkannya,’’ serunya bersemangat.
Barulah pada tahun 2008, Ade memiliki sasana sendiri bernama d’Kross BC, mengutip nama grup band yang dia dirikan dua tahun sebelumnya. Tak lama sejak didirikan, d’Kross menjadi sasana ikonik baru Kota Malang pasca melahirkan petinju hebat macam Hero Tito, Kirno Armase, Sis Morales, Victor Mausul dan Mosin Khadafi.
Menjadi promotor yang diperhitungkan di kancah nasional, lisensi yang dikantongi peraih gelar Master dari Fakultas Teknik Universitas Gajahmada (UGM) itupun ikut meningkat.
Setelah memiliki lisensi nasional versi Komisi Tinju Indonesia (KTI), menyusul kemudian lisensi nasional dari ATI dan Komisi Tinju Profesional Indonesia (KTPI) juga berada dalam genggamannya.
Terbaru, Ade juga meraih lisensi bergengsi dari Federasi Tinju Indonesia (FTI). Tak tanggung-tanggung, lisensi yang diserahkan langsung oleh Ketua FTI Pusat, Drs Hasurungan Pakpahan SH adalah lisensi A alias sertifikat level internasional.
Artinya, kini Ade resmi menjadi salah satu promotor internasional yang dimiliki Indonesia. ‘’Berarti sekarang lisensi saya ada empat. Dulu ya tidak kepikiran punya lisensi sebanyak ini,’’ ujarnya lantas terkekeh.
Menurut tokoh musik dan suporter Bhumi Arema ini, empat lisensi yang dikantonginya saat ini menjadi modal positif untuk mengembangkan olahraga tinju di Malang. ‘’Jadi lebih mudah menggelar pertandingan, juga lebih sering. Bisa versi KTI, ATI, KTPI atau juga FTI. Semoga nanti even tinju bisa lebih sering digelar,’’ tandasnya.
Sejalan dengan kelengkapan lisensi yang dimilikinya, dalam waktu dekat Ade juga akan menjalani tugas baru sebagai Ketua FTI Jawa Timur. Tanggungjawabnya pun kian bertambah, karena sebelumnya dia menjabat sebagai Ketua KTPI Malang Raya.
Demi amanat baru tersebut, Ade pun langsung memohon restu dari Walikota Malang, Peni Suparto. ‘’Sebagai pegawai pemkot, saya pun harus meminta izin lebih dulu. Ternyata beliau memberi dukungan penuh karena memang tujuannya untuk memajukan dunia olahraga,’’ tambah pria 44 tahun itu.
Nyatanya, berbagai pencapaian selama ini tak lantas membuat Ade membusungkan dada. Alumni SMAN 3 Malang itu justru berharap bisa segera pensiun dari dunia kepromotoran.
‘’Bukan berarti saya mau mundur dari tinju, tapi saya mengharapkan ada regenerasi. Bagaimanapun, harus ada generasi yang meneruskan perjuangan saya dan rekan-rekan untuk membangkitkan tinju Malang,’’ pungkasnya berharap. (tommy yuda pamungkas)