Lestarikan Seni dan Budaya Lewat Program Dharma Siswa

SELAMA 15 tahun,SMKN 5 Kota Malang terus berupaya melestarikan seni dan budaya khususnya seni batik dan kriya keramik. Dengan tiga kompetensi keahlian,menjadikan sekolah yang berdiri pada tahun 1998 ini menjadi jujugan mahasiswa maupun siswa asing yang datang ke Malang untuk belajar seni dan budaya.


Sejak beberapa hari lalu,  SMKN 5 Kota Malang kedatangan enam siswa asing dari manca Negara.  Yaitu dari Slovakia, Vietnam, Cina, Polandia dan Madagaskar. Dikemas dalam program Dharma Siswa, keenam siswa luar negeri itu belajar seni dan budaya di sekolah yang berada di jalan Ikan Piranha Atas kelurahan Tujung Sekar Kecamatan Lowokwaru Malang itu.
Seperti kebanyakan negara lainnya, mereka mendapatkan beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk mencicipi aroma pendidikan di Indonesia yang salah satunya adalah belajar seni dan budaya. Program Dharma Siswa ini sebagai instrumen untuk mempererat persahabatan negara Indonesia dengan negara luar negeri, khususnya di bidang pendidikan. Seperti halnya kebanyakan mahasiswa dalam negeri yang mendapatkan beasiswa dan belajar di negeri orang lain.
Setidaknya demikian yang diungkapkan Wakil Kepala SMKN5 Kota Malang, Budi Purwanto, S.Pd.,MM kepada Malang Post kemarin. “Sekolah ini menjadi jujugan  setiap mahasiswa maupun siswa asing yang kalau datang ke Malang mereka belajar seni dan budaya ya jujugannya di sini,” ujarnya.
Menjadi jujugan belajar seni dan budaya tentu bukan tanpa alasan. Sebab, SMKN 5 dipandang lengkap dalam proses pembelajaran seni dan budaya. Hal itu bisa dilihat dari proses pembelajaran yang memadukan antara teori dan praktik. Karena itu, dipandu oleh guru-guru seni dan budaya yag sudah berkompeten, keenam siswa asing itu belajar teknik membatik serta desain keramik yang disertai dengan pemahaman teori.
Di sekolah yang berada sejauh 800 meter dari jalan raya Ahmad Yani itu, mereka belajar seni membatik dan kriya keramik selama dua minggu. Minggu pertama mereka belajar membatik selama lima hari dan minggu kedua dengan jumlah hari yang sama mereka belajar kriya keramik.
“Satu minggu ini mereka ada di batik. Mulai dari awal seperti desain dan seterusnya sampai dalam waktu satu minggu ini mereka bisa menciptakan sebuah karya batik dengan segala keterbatan karena mereka orang asing yang punya latar belakang budaya jauh berbeda dengan kita,” terang pria yang akrab disapa Budi itu.
Menurutnya, belajar keramik sebenarnya tidak harus pergi ke SMKN 5. Sebab, hal itu bisa dilakukan dengan pergi ke daerah Dinoyo yang brandingnya tentang kerajinan keramik sudah terkenal. Hal tersebut salah satunya dilatarbelakangi oleh nuansa proses pembelajaran yang tidak sama dengan di sekolah yang berdiri sejak tahun 1998 itu.  
Bedanya, kalau di sekolah mereka belajar teknik sekaligus teori yang diajarkan oleh guru. Sementara kalau langsung pergi ke tempat-tempat usaha kerajinan, mereka tidak akan menemukan nuansa itu karena mayoritas para pengrajin itu belajar secara autodidak. Menurut Budi, mereka yang belajar secara autodidak cenderung berpikir “yang penting asal jadi”.
Hal itu tentu berbeda dengan nuansa yang ada di sekolah. Selain keterampilan dan kerajinan, keenam siswa itu dipelajari nilai-nilai yang dikandung dalam hasil kerajinan itu.“Kalau di sekolah kita ada filosofi dan nilai-nilai yang ditanamkan di sebuah karya yang memuat unsur budaya di dalamnya,” ucap bapak dua anak itu.
Termasuk batik, menurutnya juga tidak harus belajar di SMKN 5. Sebab, masih banyak tempat lain yang juga banyak menghasilkan karya batik. Seperti Batu, Gondanglegi dan Karangploso. Di ketiga daerah tersebut pengrajin batik ada. Namun, mereka belajar secara autodidak sejak kecil karena lingkungan atau keluarga yang secara tidak langsung menuntut akan hal itu.
Budi menyampaikan, kalau orang asing belajar batik di sana bisa juga, tapi kaidah dan kandungan secara filosofi dan mengapa batik itu dibuat seperti itu yang kurang mereka dapatkan dari sana. Rangkaian kenyataan itulah yang mengantarkan SMKN 5 menjadi jujugan.
“Ini short time betul. Selama dua minggu dengan waktu dan kemampuan yang terbatas, mereka sudah harus mampu belajar seni dan budaya termasuk nanti menghasilkan karya,” katanya.
Budi menuturkan, SMKN 5 mungkin di Malang menjadi satu-satunya sekolah yang melestarikan budaya yang sekaligus menjadi sekolah berlatar belakang budaya. Ia mengatakan, di Malang selain sekolahnya, hampir tidak ada sekolah yang memiliki latar belakang budaya.
“Karena itu, kita lestarikan budaya dengan selalu kita gaungkan budaya, baik batik, keramik dan kayu ukir di berbagai event yang kira-kira kita bisa ikuti,” tuturnya.
Upaya itu dilakukan supaya sekolah yang berbasis seni dan kerajinan ini tetap dikenal masyarakat. Karena itu, dari delapan kompetensi keahlian, ada tiga kompetensi yang tidak ditemukan dan tidak dibuka di sekolah lain. Delapan kompotensi keahlian itu adalah desain dan produksi kriya keramik, desain dan produksi kriya kayu, desain dan produksi kriya tekstil, busana butik, animasi, rekayasa perangkat lunak, multimedia serta teknik komputer dan jaringan.
Namun, untuk tiga kompetensi keahlian urutan pertama, bahkan untuk desain dan produk keramik merupakan satu-satunya di Jawa Timur. Kalau untuk desain dan produk kriya kayu di Pacitan juga ada, tapi tidak semua kota memiliki itu. “Boleh saya bilang, untuk tiga kompetensi pertama, mulai dari desain dan produksi keramik, desain dan produksi kriya kayu dan tekstil itu sekolah ini satu-satunya di Malang,” kata pria kelahiran 21 Mei 1969 itu.
Tidak hanya itu, tiga kompetensi keahlian tersebut merupakan cikal bakal berdirinya SMKN 5.  Dari awal sebenarnya hanya tiga kompetensi. Sementara lima lainnya menyusul seiring perkembangan yang terus dilakukan oleh pihaknya. Untuk pengembangan sekolah ke depan, pihaknya akan membangun sense of belonging peserta didiknya kepada sekolah. Kalau rasa kepemilikannya sudah tumbuh, maka semangat belajar siswa menjadi lebih giat. Semangat belajar akan lahir lewat rasa memiliki kepada sekolah.
“Hal itu bisa kita ciptakan manakala anak-anak senang berada di sekolah ini. Nah kebanggaan itulah yang menjadi titik awal lahirnya rasa kepemilikan. Karenan itu kata kuncinya siswa harus senang dan bangga terhadap institusi,” pungkasnya.(latif fianto)