Berhasil Pukau Dunia dengan Lagu Jaranan

Tidak hanya berjaya di kandang sendiri, Paduan Suara Mahasiswa Universitas Brawijaya (PSM UB), juga memiliki nama di kancah internasional. Setelah berhasil meraih penghargaan bergengsi di Internationaler Chornetbewerb 2011 di Spittal (Austria), tahun ini mereka ingin mengulang kesuksesan yang sama di belahan Eropa lain, Italia.

Ketiga mahasiswa anggota PSM UB ini, boleh jadi masih muda. Tapi segudang prestasi, telah mereka bawa bersama tim paduan suara kebanggaan kampus biru tersebut.
Mereka adalah Widyarta Mega Paramita, Reynoldus Dwicahyo, dan Aldianto Firmanda. Mereka juga yang membeberkan tentang kerja keras mereka selama ini yang  berbuah manis.
Salah satunya tentang perjuangan mengharumkan nama bangsa di mata dunia, melalui kompetisi Paduan Suara di Spittal, Austria pada tahun 2011 lalu.
‘’Tim kami, adalah satu-satunya perwakilan dari Indonesia yang ikut di Internationaler Chornetbewerb 2011 di Spittal, Austria. Bahkan bisa dibilang, kami satu-satunya peserta yang berasal dari Asia karena peserta lainnya adalah tim dari benua Eropa dan Amerika,’’ ungkap Mega.
Mega bersama tiga puluh delapan teman satu timnya, berangkat bersama salah satu conduct dari Universitas Indonesia (UI) yang dipercaya untuk mendampingi mereka. Ada beberapa kendala yang harus mereka hadapi sebelum berangkat ke Spittal, sebuah kota kecil yang berada di kaki gunung Alpen.
‘’Kami salah memprediksikan musim. Kami membawa baju tebal karena kami melihat informasi di internet jika di sana sedang musim dingin. Ternyata prediksinya salah. Pakaian tebal yang kami bawa tidak tersentuh sama sekali karena cuaca di sana ternyata cukup panas,’’ kenang mahasiswi yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PSM UB ini.
Selain itu, kendala bahasa juga sedikit banyak membuat mereka kurang nyaman. Mayoritas penduduk di Spittal menggunakan bahasa Jerman dan jarang sekali yang menggunakan bahasa inggris. Walaupun demikian, mereka tentang penyambutan tim paduan suara Indonesia yang cukup menggelitik mereka.
‘’Jadi ketika kami tiba di asrama, mereka (pengurus asrama, penduduk asli Spittal), membawa secarik kertas berisikan ucapan selamat datang berbahasa Indonesia. Tapi dari susunan kalimatnya yang cukup kacau, kita tahu kalau mereka menggunakan google translate. Tapi kami menghargai usaha mereka untuk menyambut kami dengan sangat baik,’’ kenangnya.
Berhadapan dengan peserta dari berbagai negara, sempat membuat nyali mereka ciut. Belum lagi ketika kebetulan melintas di koridor asrama dan mendengar tim dari negara lain sedang berlatih.
‘’Wah suara mereka membuat kita merinding. Mereka juga kan memiliki fisik yang lebih besar dari kita. Kalau lihat mereka bernyanyi, mereka terlihat sangat enjoy dan nggak ngoyo. Mungkin karena nafas mereka lebih panjang sehingga mengatur diagframa juga lebih mudah,’’ jelasnya.
Namun ternyata, mereka berhasil menunjukkan penampilan yang memukau. Terbukti dari aksi atraktif pada kategori folksong berjudul Jaranan yang dibawakan lengkap dengan kostum dan properti.
‘’Kami menari dengan kostum oranye lengkap dengan segala pernak perniknya. Mulai dari mahkota, make up, pecut, jarik, dan sebagainya. Kehebohan kami ini yang nggak mereka punya. Mereka tampak takjub dan sangat penasaran dengan budaya Indonesia,’’ tutur perempuan kelahiran Sidoarjo ini.
Totalitas mereka membuahkan hasil yang membanggakan dengan mengantongi predikat The 2nd Winner Folksong Internationaler Chornetbewerb 2011. ‘’Kami sangat bersyukur sekali bisa mengharumkan nama Indonesia di mata dunia melalui lagu-lagu daerah yang kami bawakan. Berhubung kami sudah keluar sebagai salah satu pemenang, maka kami baru bisa mengikuti kompetisi ini pada tahun 2015, selang empat tahun. Kami juga mendapat peringkat ke empat pada katagori mixed and art song pada ajang tersebut,’’ tandasnya.
Tidak hanya satu kali tampil, seluruh peserta diberi kesempatan untuk memamerkan suara merdunya di tiga tempat yang berbeda. Mulai dari Castle of Porcia yang merupakan tempat berlangsungnya kompetisi, salah satu gereja di daerah Spittal, dan terakhir di daerah Mildstaadt yang memiliki danau dan pemandangan yang sangat indah. Lagi-lagi folksong yang mereka bawakan mendapatkan tepuk tangan yang paling meriah dari para penduduk setempat.
Sementara itu, Rey dan Firman yang saat ini sibuk mempersiapkan diri untuk berkompetisi pada Juli mendatang di Italia, membocorkan secercah harapan dan keinginannya kepada Malang Post.
‘’Selain mengikuti kompetisi di Italia, kami juga mengusahakan untuk melakukan roadshow ke beberapa negara di Eropa. Tentu saja untuk merealisasikannya, kami butuh bantuan dari pihak KBRI di sana. Tapi ini masih rencana, semoga saja bisa diwujudkan. Mohon doanya ya supaya kami bisa menampilkan yang terbaik dan kembali mengharumkan nama bangsa,’’ harap Rey lantas tersenyum. (Kurniatul Hidayah)