Dibalik Sosok Daniel Roekito Mantan Arsitek Arema

SOSOK Daniel Roekito pernah mengecap manis pahitnya perjuangan bersama Arema Indonesia (dulu Arema Malang), pada era Liga Bank Mandiri, tahun 2001-2002. Kenangan itupun masih membekas di benaknya, meski sekarang sudah tak lagi berkostum Singo Edan, tetapi membela Persepam Madura United.

Pagi kemarin (9/4), lapangan Stadion Kanjuruhan sedang dilingkupi awan putih bersih. Teduh dan berangin. Hijaunya rumput stadion di Kepanjen itu, diwarnai hiruk pikuk pool sepatu bola.
Berkostum merah menyala, suara para pemain Persepam Madura United, saling beradu di lapangan, saling berbicara, berkomunikasi dalam latihan persiapan jelang lawan Arema Indonesia, sore ini.
Di antara sosok para penggawa Sapeh Kerap, julukan Persepam, ada sosok pria mengenakan jaket merah merona, dengan tenang berdiri diam, di tengah lapangan. Di dalam tutup kepala jaket merah itu, dua pasang mata tampak menatap tajam, menyaksikan para pemain berlatih.
Meski tenang, auranya penuh kewibawaan. Sosok pria itu adalah Daniel Roekito, pelatih kepala Persepam, yang menemani Isaac Yober dkk melakukan uji lapangan di Stadion Kanjuruhan. Sesaat setelah diam menyaksikan latihan anak asuhnya, ia langsung meniup peluit, meminta pemain berkumpul mendekat kepadanya.
Manut, Osas Saha dkk yang sebelumnya asyik mengolah si kulit bundar pun dengan jinak mendekat. Sekitar dua menit, para pemain Persepam mendengar briefing singkat dari sang arsitek, lalu teriakan keras : “Persepam”, membahana di udara, tanda latihan sekaligus uji lapangan selesai.
Seperti kebiasaan, Malang Post yang ingin wawancara pun mendekat, lalu memanggilnya dengan sebutan : ”Chief!”. Di balik kacamata hitam khasnya, mata Daniel sedikit terbelalak, kaget. ‘’Wah rupanya ada orang lawas, kalau yang panggil saya chief itu berarti orang lama,’’ ungkap Chief kepada Malang Post.
Dengan ramah, pria kelahiran Rembang itu pun memberi salam. Lalu, sedikit bernostalgia, ia pun menceritakan, bagaimana Arema dan Aremania memberi memori yang tak terlupakan sepanjang hidupnya. ‘’Saya disini seperti keluarga. Teman-teman masih banyak yang disini,’’ ungkap Chief, mengawali wawancara.
Bahkan, kenangan tentang Malang dan Arema terkemas dalam sebuah kartu anggota Aremania miliknya. Ya, hingga saat ini, Chief Daniel masih terdaftar sebagai Aremania, berkat kartu anggotanya yang masih utuh sampai sekarang. Mungkin ini karena pesona Bhumi Ngalam tak bisa lekang dari memori pria berusia 60 tahun kelahiran 19 Mei 1952 itu.
Chief Daniel sampai sekarang masih menyimpan cinta buat Arema, buat Aremania. ‘’Sampai saat ini, saya masih punya kartu anggota Aremania. Saya simpan. Keluarga juga ada yang di sini, di Malang,’’ ungkapnya sembari tersenyum simpul.
Selain kartu anggota Aremania, kesannya yang begitu mendalam di Malang, tak lepas dari perjuangannya bersama Lucky Acub Zaenal dan Iwan Budianto untuk membangun Arema kala itu.
Apalagi, saat bersama klub berlogo singa ini, Chief Daniel sukses membawa prestasi masuk empat besar klasemen selama dua musim berturut-turut. Padahal, kondisi keuangan Arema saat itu sangat pas-pasan, cenderung melarat dan kesulitan mencari dana untuk operasional.
‘’Itu yang tak saya lupakan, perjuangan sama Mas Lucky dan Iwan, gak punya uang, tapi tetap bisa berprestasi di Arema, bawa prestasi 4 besar selama dua musim. Karena itu, Arema memberi kenangan yang indah buat saya, terutama suporter Aremania,’’ tandas pria yang pernah menggeluti dunia jurnalistik itu.
Namun, sore ini, Chief harus sejenak melupakan kenangan manis bersama Arema. Sore ini, pria yang sekarang sering dipanggil DR itu akan bersikap profesional, dan mengatur strategi bagi Persepam, demi meraih poin, kalau perlu mengalahkan Alberto Goncalves dkk di kandangnya sendiri.
‘’Dengan melawan Arema, saya tidak menghancurkan kenangan. Buat saya, ini pertandingan biasa, di luar kita akan ketemu lagi dengan teman-teman Arema sebagai sahabat. Soal cita-cita melatih lagi di Malang, itu urusan nanti lah,’’ ujarnya, sembari tertawa, penuh arti.
Namun, sosok Chief memang tak terlupakan, termasuk bagi jajaran manajemen Arema, yang saat itu pernah bekerjasama. Ruddy Widodo salah satunya. General Manager Arema ini mengenang sosok Chief Daniel sebagai pelatih yang pandai, cerdas dalam ngopeni para pemainnya.
‘’Dia pelatih yang bisa dekat pada pemainnya secara personal. Bisa ngemong. Bahkan, di tahun terakhirnya bersama Arema, dia semakin dalam mengenal pemain, karena saat itu dia merangkap jadi manager coach,’’ ungkap Ruddy ketika dikonfirmasi sore kemarin.
Selain terkesan dengan kesuksesannya menembus target minimal 8 besar selama dua tahun berturut-turut, pengusaha travel ini juga terkesan dengan kemampuannya mengorbitkan pemain. Ruddy menyebutkan dua nama yang saat itu masih muda, bisa moncer di tangan Chief. Yakni, Johan Prasetyo dan Suswanto.
Tapi, di samping kemampuannya memunculkan bintang muda, ada lagi yang diingat oleh Ruddy tentang Chief Daniel. Yakni, jangan sampai para pemain Arema tidak bikin gol cepat ketika bermain di kandang.
‘’Yang jelas, kalau tim gak cepat bikin gol pas home, jantungnya bisa kambuh dan sesak. Itu yang selalu kita ingat,’’ tutup Ruddy, terkekeh. (fino yudistira)