Sekolah Dolan, Konsep Home Schooling yang Makin Marak

Pendidikan alternatif Sekolah Dolan, di Villa Bukit Tidar Malang, terus beruapaya mengedukasi masyarakat. Karena itu, pendidikan home schooling ini membangun mitra-mitra binaan. Seperti Madaniyah Centre di Denpasar Bali, TK Hajah Maryam di Batu, TK Dharma Wanita Sengkaling serta PAUD Sahabat Ananda Sumber Sekar DAU Kabupaten Malang.

Lembaga pendidikan anak usia dini ini, hanya salah satu dari beberapa banyak mitra binaan Sekolah Dolan. Dalam usianya yang sudah lima tahun, tak hanya menyelenggarakan pendidikan home schooling, tapi juga ingin memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat.
‘’Ke depan, kita tidak akan berhenti untuk terus mengedukasi masyarakat. Kita terus berhubungan dengan siapapun. Mei kita ingin membuat klub anak berkebun, bekerjasama dengan komunitas berkebun Malang,’’ ujar Master Came Sekolah Dolan Malang, Lukman Hakim kepada Malang Post kemarin.
Sekolah yang berdiri pada tahun 2008 ini, terus memberi kesempatan kepada putra putri didiknya untuk berekspresi. Bakat, minat serta kompetensinya, terus dikembangkan melalui optimalisasi kompetensi yang diterapkan.
Bagi yang suka drama, mereka dipersilakan main drama. Yang suka komik, mereka diberi ruang untuk menulis komik. Yang suka berbicara, mereka difasilitasi dan diajari berbicara seperti menjadi penyiar di radio.
‘’Lembaga kita berbeda dengan lembaga-lembaga lainnya. Hal itu bisa dilihat dari adanya beberapa TK binaan yang memasyarakat. Kita juga mengadakan dan menjadi partner Syakaa Organizer, penyelenggara pameran buku book fair 2013,’’ kata Lukman.
Ketua Asah Pena Malang ini menceritakan, Sekolah Dolan awalnya hanya menyelenggarakan kegiatan belajar anak-anak, yang home schooling.
Tapi ketika mereka keluar dari rumah dan sekolah, justru mengalami hambatan. Bukan karena anaknya tidak pintar. Tapi justru fasilitas teknologi di rumah, lebih bagus dan canggih ketimbang di sekolah. Kondisi itu membuat anak menjadi tidak nyaman bersekolah.
‘’Mereka lalu keluar (dari sekolah) dan mencari alternatif sekolah yang mungkin sesuai dengan kebutuhannya. Dipilihlah home schooling,’’ cerita Lukman.  
Ada lagi anak-anak yang sudah SMA sambil kerja dan menjalani profesinya. Seperti  penyanyi, pemain band, pembalap, peragawati, fotografer, desainer, marketing, pegawai asuransi atau yang ikut perusahaan ayahnya. Menurutnya, walaupun masih usia SMP atau SMA, tapi mereka sudah memiliki kegiatan yang diarahkan oleh ayahnya untuk ke arah bisnis atau profesi itu.
Hal ini menyebabkan mereka tidak bisa datang ke sekolah. Datang tiap hari ke sekolah, bagi mereka, menjadi hambatan karena sudah memiliki profesi yang menghasilkan uang dan itu tidak bisa ditinggalkan.
Anak-anak ini menjadi malas pergi ke sekolah, sehingga mencari alternatif sekolah, yang sesuai kebutuhannya. Akhirnya mereka bisa home shooling tunggal dengan fasilitas website yag sudah disediakan oleh lembaga-lembaga yang sudah ada.
‘’Sekolah Dolan memiliki beberapa hal yang bisa memenuhi kebutuhan mereka. Salah satunya, bisa menjadi mitra mereka dalam kegiatan belajar online sehingga anak-anak bisa belajar online. Karena itu kita punya cyber school Sekolah Dolan,’’ ujar bapak tiga anak ini.
Lukman menjelaskan, dalam konsep home schooling, yang berperan banyak harus orang tuanya. Orang tua perlu mencarikan kegiatan yang menarik bagi anaknya, serta yang menentukan kurikulumnya. Kalau para orang tua tidak bisa menentukan sendiri, mereka bisa sharing dengan Sekolah Dolan untuk menentukan kurikulum yang sesuai untuk anak-anaknya.
Namun, mereka juga butuh legalitas berbentuk ijazah SMP atau SMA.  Karena itu, di luar kegiatan yang diatur oleh orang tuanya, anak-anak ini bermitra dengan Sekolah Dolan untuk mendapatkan pelajaran-plajaran yang dibutuhkan untuk ujian. Seperti bahasa inggris, IPS, matematika. ‘’Legalitasnya tetap pakai ijazah yang sama dari pemerintah cuma ada kesetaraan,’’ katanya.
Sampai tahun kelima ini, Sekolah Dolan sudah meluluskan 80 siswa mulai level SD  sampai SMA. Lukman berharap, pemerintah harus  memberikan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada anak-anak nonformal.
Kebijakan pemerintah tentang sekolah nonformal, sudah ada, tapi penerapannya di tingkat daerah masih kurang. ‘’Perizinan untuk sekolah-sekolah alternatif itu masih sulit. Terkadang anak-anak nonformal masih disepelekan, sehingga ke depan perlu kebijakan yang berpihak kepada kita,’’ paparnya. (Latif Fianto)