Melihat Kawasan Konservasi Milik Kampus UMM

APA yang anda bayangkan ketika mendengar nama Kampung Jawa. Nama ini biasa disematkan pada daerah yang di lokasi tersebut banyak terdapat penduduk yang berasal dari Jawa. Nama tersebut ada di banyak daerah bahkan di manca negara. Di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ada kawasan yang bernama Konservasi Kampung Jawa. Disinilah aneka tanaman dan juga binatang dipelihara. Tempat ini juga bisa dipilih sebagai alternatif wisata pendidikan bagi siswa.

Lokasi Konservasi Kampung Jawa berada di bagian belakang kampus 3 UMM di Tlogomas Malang. Tepatnya disamping lapangan bola. Lokasinya memang tidak luas, hanya sekitar 5500 m2. Beberapa tahun lalu, lokasi tersebut adalah lahan kosong yang tidak termanfaatkan.
Memasuki kawasan ini pengunjung akan disapa sepasang burung merak yang dengan anggunya memamerkan bulu-bulu indah mereka. Disamping kandang burung merak, ada beberapa ekor ayam mutiara yang sedang sibuk menghitung telur-telurnya. Tak jauh dari lokasi tersebut, suara ikan dalam empang plastik berkecipak seolah memersilahkan setiap tamu-tamu kecil yang kemarin berdatangan dari sejumlah SD dan TK.
‘’Terutama pada akhir pekan biasanya kunjungan meningkat, tidak hanya dari Malang saja bahkan ada yang datang dari berbagai kota,’’ ungkap Ketua Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) UMM, Wahyu Prihanta.
Masuk jauh kedalam hutan buatan itu, pengunjung akan bertemu dengan puluhan ekor Kijang yang lucu. Kijang ini cukup istimewa karena merupakan hadiah dari Mantan Wapres BJ Habibie.
‘’Saat Pak Habibie berkunjung ke UMM kami ditawari Kijang ini, dan sekarang sudah berkembang bagus bahkan beberapa kami sumbangkan ke Taman Rekreasi kota,’’ ujarnya. Pengunjung yang datang bisa dengan bebas memberi makan Kijang-Kijang lucu tersebut.
Selain aneka satwa yang dipelihara dengan baik, kawasan konservasi ini menawarkan aneka tanaman langka di pekarangan Jawa. Sedikitnya ada 84 jenis tumbuhan langka yang tumbuh subur dan berbuah disana.
‘’Ini ada buah Manoa yang sudah jarang ditemukan, silahkan kalau mau mencicipi,’’ ujar Wahyu yang dengan sukarela memetik buah Manoa.
Tanaman lainnya yang terdapat disana diantaranya buah Mentega, Kepel, Kemiri, Daru, dan Matoa. ‘’Banyak orang suka mencari tumbuhan yang aneh di luar, padahal tumbuhan kita sendiri banyak yang hampir punah,’’ kata dia.
Pengunjung yang datang kesini bisa belajar menanam aneka tanaman dalam polybag. Dan tanaman tersebut bisa dibawa pulang sebagai motivasi bagi mereka untuk terus membiasakan diri menanam. Seperti kemarin terlihat puluhan siswa dengan gembira membawa masing-masing polybag berisi tanaman cabe.
‘’Kalau semua orang bisa menanam cabe di pekarangan maka tidak perlu susah kalau harga cabe mahal,’’ candanya.
Untuk melengkapi nuansa Jawa, di tempat itu juga dibangun rumah kampung Jawa yang menunjukkan kesederhanaan. Disamping bangunan rumah Jawa ada papan informasi mengenai sosok warga negara Jerman yang sangat mencintai Jawa, namanya Junghuhn. Ia dikenal sebagai peneliti Pulau Jawa. Belasan tahun hidupnya digunakan untuk meneliti Pulau Jawa.
Kawasan ini masih akan terus dikembangkan oleh kampus UMM. Salah satunya yang akan dihadirkan adalah kolam renang Jawa. Di masa lalu, ada namanya Kedung yang biasa dipakai berenang oleh anak-anak.
Kedung adalah semacam kolam kecil dengan pepohonan rimbun disekelilingnya. Selain itu kawasan Kebun Buah juga akan disiapkan untuk menambah pengetahuan pengunjung mengenai beragam tanaman buah yang menjadi salah satu kekayaan ibu pertiwi.
Untuk bisa berkunjung ke kawasan wisata itu, pengelola tidak menerapkan persyaratan administrasi yang rumit. Bahkan kontak melalui telpon bun bisa dilayani.
Bagi yang hanya ingin berkunjung, tidak ada biaya yang dikenai. Namun bagi yang ingin menikmati paket wisata yang ditawarkan ada harga yang dipatok murah meriah.
Rp 15 ribu untuk anak-anak plus fasilitas outbond, flying fox sepanjang 112 meter plus tur kampus. Biaya Rp 20 ribu bagi dengan tambahan layanan wisata teknologi yang ada di kampus, seperti PLTMH, biogas, pusat peraga IPTEK, dan listrik tenaga surya. (lailatul rosida)