Melihat Kampung Organik Pesona Agro Kedungkandang

AWALNYA sekadar ikut lomba, kini malah jadi RW organik. Hampir seluruh wilayah RW 04 kelurahan Wonokoyo Kedungkandang Kota Malang, dipenuhi dengan sistem pertanian organik. Kini RW tersebut berubah nama menjadi kampung organik pesona agro.
 
Pertanian organic, berkembang pesat di RW yang terletak di sudut timur kelurahan Wonokoyo itu. Kendati pertanian rumahan berkembang, tapi jangan harap menemukan pupuk kimia di kawasan ini. Semua hal yang berkaitan dengan pertanian, pasti serba organik. Yakni menggunakan pupuk non kimiawi yang diproduksi sendiri oleh warga.
RW 04 Wonokoyo terdiri dari lima RT. Setiap RT memiliki green house yang dibangun dan dikelola sendiri. Ukuran green house antara 6 x 10 meter dan  6 x 12 meter.
‘’Selain masing-masing RT memiliki green house sendiri, Karang Taruna juga punya green house. Dari green house itulah kini berkembang pertanian organik,’’ terang Ketua RW 04, kelurahan Wonokoyo, Nawang Nugraning Widhi.
Nawang mengatakan green house dibangun oleh warga, lalu dikelola bersama. Mereka memanfaatkan fasum dan lahan milik warga. Sedangkan pupuk organik menggunakan bahan yang ada di sekitar wilayah tersebut.
‘’Bahan pupuk organik menggunakan pupuk kandang atau kompos dari rumah tangga. Seperti sisa-sisa sayuran yang diolah  menggunakan komposter,’’ terangnya.
Jenis tanamannya pun beragam. Mulai dari brokoli, bayam merah, bayam ijau, sawi daging, sawi kaylan dan berbagai tanaman lainnya.
‘’Sekarang warga giat mengembangkan pertanian organik. Selain memanfaatkan green house juga lahan di rumah warga,’’ kata Nawang didukung Markanto, salah seorang tokoh pemuda di RW 04.
Kisah kampung organik ini, sebenarnya berawal dari hal sederhana dan terbilang masih baru.
Awalnya mengikuti lomba kampung bersinar yang digelar Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP). ‘’Setelah buat satu green house, warga kemudian antusias mengembangkan pertanian organik. Akhirnya berkembang, padahal sebenarnya baru dimulai sejak Oktober 2012 lalu.
Belum setahun berkembang, warga sudah menikmati hasilnya. Setiap pekan pasti panen. Sekali panen di setiap green house sekitar 15 kilogram. Hasil panen dijual ke penampung sayur-sayuran organik di Sukun. Selain itu juga dikonsumsi sendiri oleh warga.
Seiring kebutuhan pupuk organik meningkat, warga dibekali komposter.  Kini 35 persen dari 275 KK di RW 04 Wonokoyo memiliki komposter sendiri di rumah masing-masing. “Kedepan semua rumah akan dilengkapi komposter sebagai bahan pembuatan pupuk organik berbahan sampah rumah tangga,’’ jelas Nawang.
Pengadaan komposter tidak membebani warga. Sebab dibiayai oleh HIPAM Tirta Pesona milik warga RW tersebut.
Agar terus berkembang, pengembangan pertanian organik di rumah penduduk juga digiatkan. Pengurus RW memberikan 20 polybag kepada setiap rumah untuk ditanami sayuran menggunakan pupuk organik.
Diantaranya cabe, terong, kangkung dan sayuran lainnya.  Hasil tanaman warga dikonsumsi sendiri dan juga dijual untuk kas RT, RW dan PKK. ‘’Cita-cita kami juga untuk menjaga ketahanan pangan,’’ tambah Markanto.
Cita-cita itu pun mulai jadi kenyataan. Ia mencontohkan saat kebanyakan warga mengeluh harga cabe melambung tinggi, warga RW 04 justru biasa-biasa saja. Ini karena warga menanam cabe sendiri secara organik.
Selain mengembangkan pertanian organik, warga secara juga mengembangkan pembibitan lele, pembibitan cacing dan kolam pemancingan.  Kini citra pesona agro di RW 04 pun mulai terasa.
Warga sengaja mengembangkan pertanian organik bukan tanpa alasan. Gaya hidup hijau dan selaras dengan alam adalah alasan prinsip untuk mengembangkan pertanian organik. Konsumsi hasil pertanian organik pun lebih sehat. Wilayah RW tersebut semakin asri dan sangat ramah lingkungan.
‘’Kami bersama warga secara bersama-sama terus mengembangkan pertanian organik di masa-masa mendatang. Ini sudah menjadi komitmen kami kedepan,’’ pungkas Nawang. (vandri battu)