Serba-Serba Ujian Nasional dan Sejenis di Malang Raya (1)

Peserta Paket C Mulai Alumni Melbourne Sampai Model

IJAZAH SMA, tidak hanya bisa didapatkan melalui bangku sekolah saja. Tapi juga bisa didapatkan melalui ujian Paket C dan melalui Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK). UNPK tahun ini digelar pada hari yang sama dengan UN SMA reguler. Di Kota Malang, peserta UNPK Paket C ini sangat beragam. Mulai dari yang usia sudah manula hingga alumnus luar Melbourne, Australia. Berikut kisah mereka.

Selama empat hari, sejak Senin (15/4), halaman SMPN 4 Malang ramai dengan orang berseragam hitam putih. Sekitar pukul 13.00, peserta UNPK mulai berdatangan. Salah satunya adalah Haris Prawira.
Ia terlihat sedikit berbeda dari peserta UNPK yang lain. Penampilannya rapi dan stylish. Haris adalah warga belajar dari Sumber Kegiatan Belajar (SKB) Kota Malang.
‘’Saya ikut Paket C ini karena ingin punya ijazah SMA. Dulu saya sekolah di luar negeri dan kuliah di Melbourne,’’ ungkap Haris.
Kelahiran tahun 1988 ini, rencananya akan melanjutkan studi ke sebuah akademi kuliner yang ada di Surabaya. Sebagai persyaratannya ia harus memiliki ijazah setara SMA. Sebab ijazahnya dari luar negeri tidak bisa dipergunakan untuk mendaftar pada akademi tersebut.
Kalau Haris dengan pengalaman luar negerinya sangat percaya diri menghadapi UNPK, tidak demikian dengan Suheri. Pria 50 tahun yang juga karyawan di bagian Akademik UM itu terlihat sedikit tegang. ‘’Soalnya susah-susah, semoga saya bisa lulus ya,’’ ujarnya.
Semangat Suheri untuk bisa mendapatkan ijazah Paket C ini, mendapat dukungan penuh dari keluarganya. Menurutnya, dia setiap hari belajar bersama anak dan istrinya di rumah. Ia berharap bisa mendapatkan ijazah seperti saat berjuang mendapat ijazah paket B setara SMP tiga tahun lalu. Dengan memegang ijazah, Suheri pun ingin agar golongan jabatannya bisa ikut naik.
‘’Saya sejak tahun 1982 bekerja di UB dengan bekal ijazah SD. Dulu belum bisa sekolah karena gantian dengan anak-anak saya,’’ kata dia.
Selain itu, ada pula Sugik, Sekretaris di PLN Kayutangan. Karena ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi, pria yang pernah drop out dari SMA ini semangat mengikuti UNPK. ‘’Saya bekerja setengah hari dan siangnya ikut UNPK,’’ ungkap Heri.
Beragam latar belakang para warga belajar ini, tak kenal usia dan pekerjaan. Mereka penuh semangat untuk bisa mendapatkan ijazah. Sebelum mengikuti UNPK, mereka juga harus mengikuti pembelajaran di SKB ataupun Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang ada di tiap kecamatan.
‘’Tahun ini warga belajar saya ada yang seorang model. Dia tidak mungkin sekolah formal karena kesibukan akhirnya ikut belajar di PKBM,’’ ujar Ririn Kuswinaryanti, Pengelola PKBM Kartini.
Menurut Ririn, warga belajar yang ada di PKBM nya berasal dari berbagai kalangan. Ada yang masih aktif bekerja hingga anak-anak putus sekolah.
‘’Ada beberapa siswa saya putus sekolah dari SMA swasta favorit, karena mereka sering bolos sekolah,’’ kata dia.
Selain itu, ada banyak juga karena keterbatasan ekonomi dan tidak bisa menjangkau pendidikan reguler akhirnya memilih PKBM. Biasanya ia aktif menjemput anak-anak putus sekolah agar bergabung dengannya di PKBM Kartini di Jalan Akordion Tunggulwulung.
Ijazah Paket C dulu dianggap tidak bergengsi. Kini pemilik ijazah ini memiliki hak yang sama dalam berbagai hal. Baik dalam pekerjaan hingga bersaing di perguruan tinggi.
Tidak heran kalau sekarang ini peserta Paket C tidak hanya berasal dari kalangan menengah kebawah atau orang-orang yang kurang beruntung mengenyam pendidikan reguler. (lailatul rosida)