Serba-Serba Ujian Nasional dan Sejenis di Malang Raya (2)

UJIAN Nasional tahun ini, dibuat berbeda dengan sebelumnya. Jika sebelumnya, UN SMA reguler lebih dulu dari Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) Paket C. Kali ini, jadwalnya berbarengan. Mulai 15 – 18 April. Hanya waktunya saja yang dibedakan.

DI Kabupaten Malang, jumlah peserta ujian Paket C, cukup banyak. Terdaftar sekitar 1.658 peserta dari 50 lembaga Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM), yang tersebar di wilayah Kabupaten Malang. Di Kecamatan Kepanjen sendiri, ada dua PKBM. Tunas Mandiri dan UPTD Sumber Kegiatan Belajar (SKB).
Di PKBM Tunas Mandiri, binaan Widodo Supangat ini, ada 111 peserta yang terdaftar menjadi peserta UN. Usia mereka sangat beragam. Termasuk yang berusia setengah abad.
Namun demikian, semangat mereka untuk mengikuti UN supaya bisa mendapatkan ijazah setara SMA, sangat luar biasa. Dengan memakai seragam putih hitam, mereka datang 15 menit sebelum waktu ujian dimulai pukul 13.00. Lokasi ujian untuk PKBM Tunas Mandiri ini, ditempatkan di SDN Penarukan Kepanjen.
Begitu waktu memasuki ujian dimulai, dengan tertib mereka masuk ruangan. Setelah diberi lembar jawab ujian nasional (LJUN) mereka langsung mengisi kolom per kolom identitas peserta sesuai arahan. Namun begitu memulai mengerjakan soal, ketegangan sangat dirasakan.
Mereka harus berjuang dan berpikir sendiri, lantaran dari 20 peserta tiap satu ruangan, soal yang dibagikan semuanya tidak sama. Ada yang terlihat sibuk membaca naskah soal berulang-ulang, ada juga yang beberapa kali memegangi kepala.
‘’Soalnya sulit-sulit. Terutama soal Matematika dan Bahasa Inggris. Membacanya saja saya kurang menguasai, apalagi harus menjawabnya. Tetapi semoga saja bisa lulus,’’ ujar Imam Rofii.
Ya, pria kelahiran 29 September 1962 ini, adalah peserta yang tertua di PKBM Tunas Mandiri. Meski rambutnya sudah beruban, tapi semangat warga Jalan Kerto Raharjo, Sengguruh – Kepanjen untuk maju demi menggapai cita-cita yang diinginkan, patut diacungi jempol.
Bapak empat orang anak ini, sengaja mengejar Paket C karena ingin memiliki ijazah yang setara dengan SMA. Ijazah dari paket C itu, dicari karena dia ingin meningkatkan jabatan pekerjaanya di Dinas Cipta Karya Kabupaten Malang.
‘’Saya ikut kejar Paket C ini, atas dorongan teman, keluarga serta anak. Selama 24 tahun bekerja di Dinas Cipta Karya, saya masih dibagian kebersihan. Siapa tahu dengan mendapat ijazah Paket C ini, sebelum nantinya pensiun bisa meningkatkan jabatan,’’ terang suami Sri Sujarwati.
Untuk mencapai target lulus itu, Imam Rofii mengaku terus menyiapkan diri dengan belajar sebelum UN. ‘’Saya belajar di rumah tiap malam dengan dibantu anak-anak,’’ katanya.
Sama halnya dengan Muarifin, peserta tertua lainnya. Pria kelahiran 18 September 1964 ini, mengatakan ingin mendapatkan ijazah Paket C ini juga karena ingin meningkatkan jabatan kerjanya di Dinas Cipta Karya Kabupaten Malang.
‘’Saya ini kurang delapan tahun lagi pensiun. Kalau tidak mengikuti Paket C, bagaimana jabatan pekerjaan saya bisa meningkat. Sekarang ini saya masih dibagian kebersihan,’’ tutur bapak empat anak warga Jalan Abduurrahman Saleh, Desa Talangagung, Kepanjen.
Yang membedakan, hanya jika Imam Rofii mengejar Paket C karena dulunya dia tidak melanjutkan SMA setelah lulus SMP. Namun jika Muarifin, harus ikut mulai dari Paket A, B dan C, karena protol sekolah saat kelas IV SD.
‘’Dulu protol karena orangtua tidak bisa membiayai. Namun sekarang saya sadar bahwa pendidikan itu penting. Akhirnya atas hati nurani dan dorongan keluarga terutama anak dan istri, saya ikut kejar Paket C supaya nanti bisa naik jabatan,’’ terangnya dengan tertawa sembari mengatakan kalau dirinya bertekad ingin menyekolahkan keempat anaknya sampai di tingkat tinggi. (agung priyo)