Serba-Serba Ujian Nasional dan Sejenis di Malang Raya (Habis2)

JIKA guru dan peserta ujian SMA membutuhkan perjuangan dalam menghadapi Ujian Nasional, guru SLB tidak kalah sibuk dalam berjuang agar sukses. Bisa jadi perjuangan guru SLB dalam mempersiapkan UN lebih berat jika dibanding guru SMA atau sekolah lain.

Pagi itu, SLB Eka Mandiri di Jalan Terusan Kasiman Kelurahan Ngaglik Kota Batu, masih tampak sepi. Sama seperti sekolah-sekolah lainya, sekolah yang terdiri dari SMALB, SMP LB dan SDLB memasang tulisan ‘harap tenang ada ujian’. Tulisan itu menjadi tanda jika sekolah tersebut, juga melaksanakan Ujian Nasional (UN) sama seperti sekolah lainya di Kota Batu.
Untuk UN SMALB, jadwal sama dengan SMA-SMA lainya. Jika hari pertama, mata pelajaran UN adalah Bahasa Indonesia, anak-anak SMALB Eka Mandiri juga mengerjakan Bahasan Indonesia. Setelah siswa SMA LB usai melaksanakan ujian, giliran siswa SDLB dan SMPLB yang mengerjakan soal untuk ujian sekolah.
Ada enam siswa SMALB yang mengikuti UN tahun ini. Mereka adalah siswa yang mengalami tuna grahita (keterbelakangan mental). Dari segi fisik, perilaku siswa tuna grahita ini tidak ada bedanya dengan siswa SMA lainya.
Mereka juga mengenakan seragam abu-abu putih dan berdasi. Ketika diberikan soal dan lembar jawaban, mereka juga langsung mengambil dan mengerjakan.
Namun tidak berapa lama, tingkah asli anak-anak ini mulai kelihatan. Mereka mengerjakan soal sambil senyum-senyum. Setelah itu, mereka tidak mengerjakan jawaban pada lembar jawaban melainkan ditulis di lembaran soal.
‘’Kami harus banyak-banyak mengingatkan. Jika tidak, mereka menuliskan jawaban pada lembar soal,’’ ujar Siti Sundari, Kepala SLB Eka Mandiri kepada Malang Post.
Lembar jawaban, jangan disamakan dengan LJK seperti untuk UN anak-anak SMA lain. Mereka cukup menyilang atau melingkari jawaban di lembaran jawaban. Jika mereka harus mengarsir jawaban seperti LJK tentu akan kesulitan.
‘’Mereka sudah diingatkan untuk menyilang jawaban di lembar jawaban. Tapi tetap saja mereka memberikan tanda silang pada soal,’’ tegas dia.
Menurutnya, perjuangan seperti itu masih sangat wajar untuk guru-guru SLB selama ujian. Sebelum ujian, para guru justru memiliki perjuangan sangat berat. Hanya untuk mendatangkan siswa tepat waktu saat ujian, para guru harus bangun jauh lebih pagi sebelum pelaksanaan ujian berlangsung.
‘’Jadwal ujian adalah jam 07.00, tapi pada jam tersebut ada saja siswa yang masih enak-enakan tidur. Kami harus menjemput ke rumahnya untuk membangunkan siswa itu. Ada juga siswa yang harus kami mandikan terlebih dahulu agar mau ke sekolah untuk ujian. Kami melakukan hal itu karena orang tua sudah terlalu sering ngamuk dan sudah tidak hiraukan oleh siswa,’’ tandas perempuan setengah baya ini.
Ada juga orang tua yang menitipkan anaknya di rumah guru atau Kepala Sekolah dengan tujuan siswa bisa bangun tepat waktu di sekolah.
Namun, pagi-pagi sebelum mandi, siswa malah melompat pagar dan akhirnya kabur dari rumah guru. Sang guru akhirnya ikut kelabakan dan mencari siswa yang keluar rumah. (febri setyawan)