Nanang Anas, Tentara yang Juga Pelatih Drumband

Nanang Anas, terlahir dengan dua passion dalam dirinya. Aktif sebagai anggota TNI, tapi tak kuasa membendung jiwa seni. Butuh waktu lama baginya untuk menekuni secara serius bidang seni yang ia pilih. Drumband. Siapa sangka, dari ketertarikan ini, membuka lapangan pekerjaan baru. Ia dipercaya sebagai pelatih drumband mulai TK hingga SMA.

Cuaca cukup terik pagi itu. Namun sekumpulan anak tampak asyik bermain di bawah sinar matahari yang berlimpah. Sayup-sayup terdengar deru alat musik, yang dimainkan secara beriringan. Mereka adalah murid TK, yang sedang berlatih drumband di halaman sekolah.
Tak lama kemudian, muncul seorang pria berbadan tegap dan berwajah tegas. Memberikan instruksi kepada para murid. Seluruhnya mengangguk dan mulai berjalan sesuai dengan perintahnya. Pria tersebut adalah Nanang Anas, pelatih drumband sekaligus anggota TNI AD.
Profesi yang dijalaninya tergolong unik. Dia dituntut tegas dan sigap di lingkungan kerjanya, saat memakai seragam tentara. Di sisi lain, dia harus memiliki kesabaran ekstra untuk melatih murid TK ketika bermain drumband. Dua sisi dunia itu, justru membuat dia senang. Sangat menikmati kesibukannya.
‘’Saya mulai masuk menjadi anggota TNI, sejak 1978. Sempat pindah ke beberapa batalyon sebelum akhirnya ditugaskan di Korem Malang hingga sekarang. Ketika di tempatkan di pembinaan mental inilah, saya mulai mengenal drumband,’’ jelas pria yang berdomisili di Singosari ini.
Keinginannya semakin meluap ketika tahu di sekolah sang cucu, tersedia alat drumband. Hanya saja tidak memiliki pelatih. Bermodal nekat dan tekad yang besar, pada 2007 Anang menawarkan diri untuk menjadi pelatihnya.
Sukses dengan debut pertamanya, tak lama berselang ia mendapatkan pinangan dari sekolah lain. Ketika tawaran berdatangan, ia memutuskan mulai serius. Termasuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Drumband yang ditangani oleh PDBI (Persatuan Drumband Indonesia) Jatim.
‘’Ketika itu dua-duanya berjalan beriringan. Ya melatih, ya sekolah juga,’’ ujarnya kepada Malang Post. Lulus dari sekolah tersebut, Anang resmi mendapatkan sertifikat sebagai pelatih.
Untuk melengkapi kemampuannya, Nanang juga mengikuti pelatihan CG (Color Guard) di Malang. Meski sertifikat yang diperoleh, masih tingkat dasar. Masih terkait pengenalan alat, perkusi, melodi dan sebagainya.
Kini, pria yang tahun ini genap berusia 56 tahun, sudah berhasil mengantarkan beberapa TK binaannya, menjadi jawara. Terutama di regional Malang.
Kesuksesan Nanang membuatnya dipercaya untuk menjadi pelatih di sembilan sekolah kawasan Malang Raya. Mulai dari TK, SD, SMP dan SMK.
Hampir enam tahun melatih, segudang pengalaman telah ia dapat. Mulai dari usaha keras yang berbuah manis, hingga berbagai protes serta tudingan miring para orang tua dan guru di awal karirnya. Terutama menyangkut gaya melatihnya yang ala militer.
‘’Saya kan besar di kalangan militer. Otomatis gaya melatih juga tak jauh-jauh dari militer. Sebelum menjadi pelatih, saya sudah mencoba menjelaskannya kepada pihak sekolah serta wali murid. Namun hal itu tak menjadi jaminan, mereka dapat menerima saya sepenuhnya,’’ kenangnya lantas tertawa.
Dia juga mengaku, sempat ada siswanya yang nangis dan pipis di celana, saat dilatih. Hal itu muncul, lantaran siswa itu terbiasa dengan guru wanita. Kemudian muncul Nanang, dengan style militernya.
Tak jarang pula, Nanang harus dihadapkan pada satu kompetisi, dimana sekolah yang dilatih, ikut bersama-sama. Bagaimana tidak, ada sembilan sekolah yang dia latih. Sementara tidak semua sekolah, memiliki drumband.
‘’Sejauh ini mereka tidak ada masalah. Saya latih setiap sekolah dengan konsep yang berbeda. Menang atau kalah, ada di tangan mereka sendiri. Saya hanya memberikan ilmu ketika latihan pada hari sebelum kompetisi berlangsung,’’ tegasnya.
Nnang tetap menjaga persaingan antar tim sekolah yang dilatihnya dengan beragam konsep yang berbeda. Ia mendapatkan inspirasi dengan mendatangi kompetisi drumband yang diselenggrakan di berbagai kota. Seperti Jakarta, Jogja dan Surabaya. (Kurniatul Hidayah)