Suka-duka Berebut Solar Subsidi yang Kian Langka

Ada benarnya juga, Menteri BUMN Dahlan Iskan ketika seriusi mobil listrik. Sebab, tak selamanya, bahan bakar dari energi fosil akan bertahan. Juga tak selamanya, pemerintah sanggup memberikan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk rakyat. Kelangkaan solar akibat pembatasan subsidi, sudah mulai dirasakan.

Kondisi itulah, yang dirasakan masyarakat Malang Raya semingguan ini. Baru diberlakukan kuota BBM bersubsidi jenis solar oleh pemerintah, masyarakat langsung lintang pukang.
Di Wajak misalnya, sebuah SPBU nyaris hendak di demonstrasi oleh masyarakat. Akhirnya, pihak SPBU memperbolehkan warga membeli solar dengan jeriken.  
Antrean manusia, di SPBU itu telah digantikan dengan antrean jeriken. Suasananya mirip ketika terjadi krisis air bersih saat musim kemarau. Padahal, kondisi seperti ini juga akan kembali terjadi ketika BBM naik.
Apalagi isunya, pembatasan solar adalah preambule (mukadimah) dari kenaikan BBM. Baru tahap preambule saja, kepanikan telah terjadi. Setiap mendapat kiriman solar bersubsidi, SPBU di sudut manapun, selalu diserbu kendaraan.
Yang merasakan dampak langsung pembatasan itu, adalah industri transportasi. Terutama bus pariwisata, maupun bus angkutan umum. Para sopir dan kernet rela menginap di SPBU untuk mendapatkan solar.
‘’Saya sudah jadi sopir bus sejak 1969. Baru sekarang merasakan langka seperti ini,’’ keluh Sumarjo, sopir berusia 64 tahun.
Sopir bus Medali Mas Pariwisata itu, tengah mengantre di SPBU 54.651.69 Jalan Dirgantara Sawojajar. Wajahnya tampak lelah. Maklum sudah semalam berada di pom bensin itu. Sarung yang menemani tidurnya, masih menutupi separuh tubuhnya.
‘’Sebelum mengantre disini, kami sempat antre di SPBU Blimbing,’’ jelasnya.
Sial bagi Sumarjo dan kernetnya Baron, 2,5 jam waktunya di SPBU Blimbing sia-sia. Sebenarnya, tinggal tiga kendaraan lagi, untuk sampai ke gilirannya. Apa lacur, ternyata solar di SPBU itu sudah tandas.
‘’Akhirnya kami pukul satu dinihari kemarin meluncur kesini, sampai detik ini, mau geser ke SPBU lain khawatir ngantre juga,’’ imbuh pria yang tinggal di Embong Brantas ini.
Artinya, Sumarjo dan Baron, berada di SPBU itu selama 19 jam. Sebab, solar baru terkirim di tempat itu pada pukul 19.00 semalam. Yang lebih sial lagi, pembeliannya juga dibatasi hanya Rp 200 ribu.
‘’Untuk full tank, kami butuh diisi Rp 750 ribu, sia-sia saja ngantre lama kalau cuma Rp  200 ribu, kami akan meminta full tank (isi penuh) nanti,’’ tegas Baron, kernet asal Wajak.
Baron mengaku sudah pamit kepada pihak keluarga. Usai mengantar tamu ziarah wali songo, bus langsung dibawa ke SPBU. ‘’Sudah pamitan bermalam di SPBU, kalau enggak pamit, bisa bingung keluarga,’’ tandasnya.
Kondisi serupa juga dialami Sugeng Abadi, sopir bus pariwisata Madu Kismo. Sugeng bahkan telah berada di SPBU sejak jam 19.00 (22/4). Dia tidur di bagasi bus bersama kernetnya.
‘’Saya sempat ngantre di SPBU Rampal, tapi kemudian diusir tentara, karena antrean masuk ke perumahan tentara,’’ aku pria yang telah jadi sopir sejak tahun 1984 tersebut.
Kepanikan luar biasa justru terjadi di PO Puspa Indah. Sejak solar langka, Bos Puspa Indah Hendri Kristianto harus memutar kepala. Rajin menelepon SPBU, serta meminta kabar dari anak buahnya yang berada di lapangan.
‘’Sejak solar langka, beberapa bus saya sering keleleran di jalan, kehabisan solar,’’ kata pria ramah itu.
Hendri seperti jatuh tertimpa tangga. Selain trayeknya sepi penumpang, harus ditambah masalah kelangkaan solar. Dari 200 armada trayek Puspa Indah jurusan Malang-Kediri dan  Malang- Tuban, telah turun menjadi 50 – 55 armada setiap hari.
‘’Ditambah kelangkaan solar, maka armada kami sekarang tinggal 30 – 35 unit perhari,’’ jelas dia.
Senin (22/4) lalu, bahkan sebanyak 14 unit bus jurusan Malang-Kediri tak jalan. Bus jurusan itu membutuhkan solar 40 – 45 liter sekali jalan. Sedangkan untuk  trayek Malang-Tuban butuh solar sekitar 80 liter sekali jalan.
‘’Saya harus menghemat biaya solar, serta biaya operasional. Seperti ban, maka harus ada unit yang terpaksa tidak jalan,’’ imbuhnya.
Celakanya, para sopir juga kehilangan waktu ngetem. Sebab, mereka harus antre solar di SPBU. Setengah hari antre, dan setengah hari berburu penumpang, sungguh tak efektif.
‘’Itu wasting time (membuang waktu), benar-benar merugikan dan menguras energi,’’ tandas Hendri.
Sejumlah sopir, bahkan harus rela menginap di SPBU. Bahkan, Suyono sopir bus nomor N7056, pernah kecele. Dia sudah semalaman menginap di SPBU, namun akhirnya harus rela gigit jari, kehabisan solar.
‘’Saya juga mengalami hal sama, menginap semalam, namun pas subuh solar sudah habis, akhirnya harus antre lagi dan baru dapat solar pukul 8 pagi,’’ imbuh Ribut, sopir jurusan Malang-Tuban.
Artinya, ide Dahlan Iskan untuk membuat kendaraan listrik sangat masuk akal. Energi fosil juga bakal habis, padahal Indonesia belum punya persiapan serius untuk membidik energi alternatif.
Saat bus angkutan umum pakai listrik, sopir dan penumpang, mungkin tak lagi perlu keleleran akibat antrean solar. Apalagi PLN sekarang sudah bisa menyediakan aliran listrik yang cukup. (Bagus Ary Wicaksono)