Ketika Siswa SMA 3 Ngajari Guru Astronomi Ngintip Bulan

MENEROPONG bintang dari atas puncak gunung, adalah hal yang amat menyenangkan bagi pecinta Astronomi. Selasa malam lalu di Puncak Gunung Banyak Kota Batu, peristiwa itu dirasakan puluhan guru pembina Astronomi di Kota Malang. Mereka adalah peserta pelatihan pembina olimpiade yang digelar Dikbud Kota Malang di SMAN 3 Malang. Bagaimana suasananya?

ANGIN dingin, langsung menyapa rombongan, ketika menginjakkan kaki di atas Gunung Banyak, yang biasa menjadi lokasi take off Paralayang. Rombongan peserta observasi ini, selain terdiri dari para guru pembina olimpiade, juga sejumlah siswa SMAN 3 yang merupakan tim olimpiade Astronomi.
Mereka dengan sigap mengusung teropong bintang milik sekolah dan memasangnya di atas bukit yang paling tinggi. Dari atas gunung Banyak di malam hari, Kota Batu terlihat laksanakan hamparan bintang.
‘’Wah indahnya Kota Batu. Indah sekali Indonesiaku,’’ celutuk seorang guru, yang terpana menyaksikan indahnya pemandangan Kota Batu dilihat dari atas Gunung Banyak.
Rasa takjub melihat gemerlap lampu Kota Batu, tak berlangsung lama. Berganti dengan antusias peserta menyaksikan permukaan bulan, dari dua buah teropong yang sudah disetel oleh siswa.
Salah satu siswa yang banyak membantu para guru adalah Aryo Tri Adimukti. Ia adalah tim pelatnas olimpiade Astronomi nasional, yang akan segera berlomba di tingkat internasional.
‘’Teleskopnya harus sering disetel biar pas meneropong permukaan bulan. Apalagi bulan terus bergeser,’’ ujarnya sambil menyetel teropong menghadap ke arah bulan yang sedang bersinar penuh.
Peserta yang bergiliran mengintip sang dewi malam pun terkesima. Baru kali ini mereka melihat permukaan bulan yang berlubang. Mereka terlihat tak berkedip, saking takjubnya menyaksikan benda langit itu. Benda-benda langit pun seolah merelakan dirinya diintip sepanjang malam oleh para guru yang sedang belajar ilmu Astronomi itu.
Keasyikan mengintip bulan, tak kalah asyiknya dengan menyaksikan gugusan rasi bintang. Siswa tim olimpiade SMAN 3, membawa sebuah software yang bisa memberi petunjuk mengenai posisi bintang dan juga namanya.
‘’Yang itu kepalanya Sentaurus, disana ada corona Australis,’’ kata salah satu siswa sambil menunjukkan gambar di laptopnya.
Sayangnya target untuk meneropong Saturnus tidak bisa dicapai. Seorang siswa sempat melihat cincin Saturnus. Namun teropong tidak bisa melihat dengan jelas karena sinar bulan yang amat terang sehingga planet pun tak jelas terlihat.
Saking asyiknya, tanpa disadari waktu sudah beranjak dini hari. Rasanya belum puas menelanjangi langit malam itu. Tapi peserta masih harus mengikuti pelatihan yang tinggal satu hari kemarin.
‘’Kalau sudah asyik begini sampai pagi pun gak akan terasa,’’ ujar pembina olimpiade Astronomi SMAN 3, Wawan Pramunadi.
Pelatihan bagi guru pembina olimpiade Astronomi ini sengaja digelar oleh Dikbud Kota Malang. Para guru pilihan ini mendapatkan amanah untuk melahirkan siswa-siswa yang bisa berlaga dalam olimpiade Astronomi dan Kebumian. Dengan bantuan SMAN 3 Malang yang telah sukses melahirkan siswa berprestasi nasional dan internasional.
‘’Kalau perlu silahkan menyaingi SMAN 3, supaya sekolah yang lain juga bisa memiliki siswa yang berprestasi dalam bidang olimpiade,’’ ungkap Kepala Dikbud Kota Malang, Dra Sri Wahyuningtyas M.Si saat membuka acara. (lailatul rosida)