Mertua - Menantu Rebutan Aset Ratusan Miliar Milik Bethany (1)

TIDAK disangka-sangka kedamaian ibadah jemaat Gereja Bethany, Malang, kini telah terusik. Komunitas gereja yang namanya cukup dikenal di Indonesia ini, sekarang dihadapkan pada kasus rebutan aset diantara pendiri dan pengurus Bethany sendiri. Berikut catatan wartawan Malang Post, Hary Santoso, tentang rebutan Bethany, Malang.

Sekitar tiga bulan belakangan ini, hati Pendeta (pdt) Alex Abraham Tanuseputra (Tan Liat Gwan) bisa jadi menjadi tidak tenang. Betapa tidak, ‘menara’ keimanan yang dirintisnya sejak usia masih muda dengan mendirikan Sinode Bethany Indonesia, diluar dugaan telah diusik Pdt Yusak Hadisiswantororo.
Yusak, pendeta yang dikenal dan dididiknya sejak masih usia muda ini, sekarang ingin menguasai seluruh aset Bethany Indonesia. Artinya, Yusak yang tidak lain adalah anak menantu ini, tidak hanya Bethany Malang saja. Tetapi semua jaringan aset Bethany se Indonesia, yang nilainya ditaksi ratusan miliar rupiah.
‘’Kebetulan baru Bethany di Malang saja yang kasusnya sudah jalan. Sedang Bethany di daerah lain masih proses penyidikan,’’ ujar M Arifin, Kuasa Hukum Bethany Indonesia di Graha Bethany di Jl. Nginden Intan Surabaya, kemarin siang.
Secara yuridis formal, memang tidak ada catatan atau surat resmi yang menyebutkan, Pdt Alex Abraham Tanuseputra adalah pemilik sah aset Gereja Bethany di Jl. Tenaga Baru IV/6, Malang. Begitu juga aset Bethany lainnya yang tersebar di beberapa kota di Indonesia.
Tetapi, nama besar Pdt Alex Tanuseputra tidak mungkin bisa dilepaskan begitu saja dengan keberadaan Gereja Bethany di Malang dan beberapa daerah di Indonesia. Karena, jaringan Bethany Indonesia sekarang ini bisa terkenal dan besar karena rintisan Pdt Alex Tanuseputra sejak kisaran tahun 2000 silam.
‘’Jangankan Pdt Yusak, untuk memiliki secara pribadi Pdt Alex Tanuseputra sangat tidak mungkin. Karena, seluruh aset dan kekayaan Bethany Malang dan Bethany lainnya di Indonesia milik Majelis Pekerja Sinode (MPS) Gereja Bethany,’’ kata Arifin.
Lantas bagaimana awalnya dan kenapa Pdt Yusak Hadisiswantoro ingin menguasai aset Bethany di Indonesia? Semua fihak yang berada di MPS Bethany Indonesia bisa menjawabnya.
Tetapi, jika diurut-urut ujungnya perebutan kekayaan Bethany Malang diawali dengan munculnya surat kuasa Nomor 16/UMMPS/08/X/07 yang diteken Pdt Alex Tanuseputra, Pdt Zakaria Freddr Riva dan Pdt Yusak Hadisiswantoro.
Pdt Alex Tanuseputra dalam kedudukannya sebagai Ketua Umum dan Pdt Zakaria Freddr Riva sebagai Sekretaris Umum MPS Gereja Bethany memberikan kuasa kepada Pdt Yusak Hadisiswantoro selaku Gembala Jemaat Gereja Bethany untuk mengelola Bethany di Malang.
Dalam klausulnya, secara yuridis Ketua dan Sekretaris MPS Gereja Bethany kepada Pdt Yusak Hadisiswantoro untuk melakukan segala perbuatan hukum yang berkaitan dengan pembelian, kepemilikan, ataupun pengalihan aset, yang terletak di Malang (Gereja Bethany Malang).
Seluruh aset yang ditaksir nilainya sekarang ini tembus Rp 50 miliar itu dibuktikan dengan enam lembar Sertifikat Hak Milik nomor 969, 1770, 1029, 2553 dan 83. Di mana masing-masing sertifikat atas tanah dan bangunan di atasnya ditaksir Rp 10 miliar. ‘’Yang sekarang ditangani Polda Jatim baru satu sertifikat saja yaitu sertifikat 1770,’’ kata Arifin dengan menyebutkan surat kuasa dibuat pada 26 Oktober 2007 lalu.
Mungkin, karena dalam surat kuasa itu memberi peluang Pdt Yusak Hasiswantoro untuk mengalihkan aset Bethany di Malang, maka dilakukanlah upaya hukum dengan berusaha membaliknamakan aset Bethany menjadi nama dirinya.
Apalagi, sebagai penerima kuasa, Pdt Yusak Hadisiwantoro yang tidak lain adalah anak menantunya sendiri, telah diberi kepercayaan mengelola gerakan dan aset Gereja Bethany untuk wilayah Indonesia Tengah, termasuk Gereja Bethany Malang yang pusatnya tidak di Surabaya melainkan di Gereja Bethany Denpasar, Bali.
‘’Apakah surat kuasa ini mengandung kelemahan? Menurut saya: tidak. Karena mengalihkan asset dalam surat kuasa itu tidak berarti mengalihkan untuk kepentingan pribadi. Tetapi kepentingan jemaat,’’ ujar Arifin. (Hary Santoso)