Dibalik Keinginan Merebut Aset Ratusan Miliar Milik Bethany

Berharap Kebenaran Bisa Segera Terwujud

Kepercayaan Pendeta (Pdt) Abaraham Alex Seputra kepada Pendeta Yusak Hadisiswantoro mengelola MPS Gereja Bethany, bisa jadi juga menjadi penyebab gonjang-ganjing dibalik ketenangan Gereja Bethany Malang. Berikut catatan HARY SANTOSO, wartawan MALANG POST tentang rebutan Bethany, Malang.
Sebagai gereja, keberadaan Gereja Bethany mulai dirintis tahun 1978 oleh Pdt Abraham Alex Seputra. Ketika itu, gereja yang untuk pertama kali di bangun di Surabaya ini, didirikan di Jalan Manyar Rejo II/36-38. Disebut pertama kali, karena sebelumnya Pdt Abraham Alex Seputra lebih banyak melakukan kegiatannya di kota kelahirannya, Kota Mojokerto.
Saat didirikan Gereja Bethany Manyar merupakan bagian sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI). Seiring kian pesatnya pengikutnya, Gereja Bethany Manyar, 7 tahun kemudian dikembangkan dan dibangun dengan kapasitas 3.500 orang dan akhirnya selesai tahun 1986.
Merasa kemampuan gereja masih belum cukup, setahun kemudian tepatnya 1987, Pdt Alex Tanuseputra mengembangkan visi dengan memiliki gereja berkapasitas 35 ribu orang. Atau 10 kali lipta dibanding Gereja Bethany Manyar. Cita-cita ini terwujud dan berdirilah Graha Bethany Graha Bethany di Jl. Nginden Intan.
‘’Semua aset dan bangunan gedung didalam MPS Gereja Bethany dirintis dan diwujudkan sendiri oleh beliaunya,’’ kata Reno Halsamer, Humas MPS Gereja Bethany di Graha Bethany, kemarin siang.
Pada perkembangannya Geraja Bethany semakin tidak terbendung. Guna melayani kebutuhan masyarakat atas pelayanan geraja, maka tahun 1988, GBI Jemaat Bethany mengutus Pdt Dr. Ir Niko Njotorahardjo untuk membuka Gereja Bethany Cabang Jakarta. Setahun lagi, 1989, membuka cabang di Bali yang dipandegani Pdt Timotius Arifin.
Konon karena cepatnya pekembangan geraja Bethany, pada tahun 2000, telah memiliki sekitar 1.000 gereja dengan kekuatan jemaat mencapai 250 ribu orang, yang tersebar di Indonesia dan luar negeri. ‘’Tetapi, gerakan Gereja Bethany secara resmi baru diakui pemerintah melalui SK Dirjen Bimas Kristen Depag, 17 Januari 2003,’’ kenang Reno.
Sejalan dengan perkembangan inilah, maka pelayanan Sinode Gereja Bethany Indonesia yang diketuai oleh Pdt. David Aswin Tanuseputra, kemudian muncullah sinode baru didirikan dan di bawah penggembalaan Pdt Yusak Hadisiswantoro, yaitu Sinode Yesus Hidup Sejati (YHS) Indonesia.
Yusak Hadisiswantoro tidak sendirian dalam mengelola Sinode YHS. Sebaliknya, Yusak Hadisiswantoro dibantu istrinya Pdt Hanna Asti Tanuseputra, yang tidak lain anak sulung Pdt Alex Tanuseputra dengan istri Yenny Oentario.
Rupanya karena Sinode YHS yang bergerak dengan motto Yakin Hidup Sukses (YHS) terus berkembang, akhirnya pemerintah pun memberi pengakuan tersendiri dengan dikeluarkannya SK Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI dengan nomor: DJ.III/Kep/HK.00.5/541/2012, tertanggal 13 Agustus 2012.
‘’Sekarang karena sinodenya sudah diakui pemerintah dan merasa memiliki surat kuasa untuk mengelola Bethany Malang, maka gereja Bethany Malang pun dihilangkan diganti gereja YHS Malang. Akhirnya, jemaat asli Bethany Malang yang membiayai dan merintis Bethany Malang terusir,’’ kata Reno.
Dikalangan MPS Gereja Bethany pergantian nama Gereja Bethany menjadi Gereja YHS, tidak luput menjadi rasan-rasan. Bahkan, anonim YHS yang sekarang ini meletak di semua aset Bethany termasuk di Lawang, Sumpercung, Kepanjen dan beberapa daerah di Indonesia bukan lagi ‘Gereja Yesus Hidup Sejati’ melainkan diplesetkan menjadi Gereja Yusak Hadi Siswantoro.
‘’Harapan kami, kebenaran yang ditanamkan dan dirintis Pdt Abraham Alex Seputra bisa segera terwujud. Meski hubungan antara keduanya anak menantu dan mertua, tetapi proses hukum kasus ini tidak mungkin bisa dihentikan di tengah jalan. Karena ini menyangkut kepercayaan umat dan jemaat Bethany,’’ pungkas Reno. (habis)