Sepasang Jamur Muncul di Atas Nisan Kubusan Gadis Bisu

Sebuah peristiwa langka terjadi di salah satu pemakaman umum di Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang. Muncul sepasang jamur di atas nisan almarhum Siti Rohmania, gadis bisu yang meninggal tiga tahun lalu. Jamur tersebut kini telah bertahan sekitar dua minggu. Warga pun berbondong melihat keberadaan sang jamur.

Pertama kali yang menyaksikan kemunculan jamur adalah Dul Samin, ayah kandung dari almarhum Siti. ‘’Awalnya saya bermimpi, menemukan dua telur kembar. Kemudian timbul tanda tanya, karena sebelumnya tidak pernah mimpi aneh. Seminggu kemudian, saya nyekar ke makam dan ternyata ada jamur. Ukurannya masih kecil, seukuran dop kecil,’’ ujarnya mengawali pembicaraan.
Kemudian Dul Samin memberitahukan kepada keluarganya dan keesokan harinya kembali ke makam tersebut. Ternyata, ukuran jamur membesar. ‘’Seharusnya, jamur berbentuk demikian biasanya akan membusuk jika dilihat oleh manusia. Ini semakin membesar dan tidak ada tanda-tanda mati,’’ lanjutnya.
Malang Post pun terus menanyakan kelanjutan dari kehidupan jamur nisan tersebut. Dibantu Ustadz Abdul Mudjib, untuk sedikit-sedikit menerjemahkan apa yang disampaikan oleh Dul Samin, yang sering menggunakan bahasa Madura.  
‘’Dua hari kemudian, saya mimpi almarhumah anak saya. Semasa 17 tahun hidup, dia bisu. Tetapi dalam mimpi dia bisa berbicara. Itulah yang aneh, dia bilang mumpung bisa berbicara,’’ ceritanya kepada Malang Post.
Dalam mimpi, almarhumah meminta kedua orang tuanya untuk hidup rukun, dan tidak pernah meninggalkan ibadah. Kemudian, sang ayah kembali ke makam anaknya. Dia semakin terkejut, jamur tersebut sudah jauh lebih besar, dengan tinggi sekitar 10 cm.
‘’Tentu saya kaget. Tujuannya mengirim doa buat anak, melihat jamur ini sudah membesar lagi. Selanjutnya, saya mencoba menunggui makam anak saya, siang dan malam, sekitar 4 hari sejak kemunculan jamur tersebut,’’ paparnya.
Keanehan kembali dimunculkan jamur, ketika dalam jam tertentu mengeluarkan asap. ‘’Jamur tersebut berasap. Paling sering pada malam hari. Tetapi terkadang juga di siang hari. Ada beberapa orang yang sempat mengunjungi makam, melihat kejadian ini, walaupun orang tertentu,’’ jelas pria yang bekerja di Pasar Kebalen tersebut.
Soal meninggalnya Siti, Dul Samin menilai, putrinya meninggal karena penyakit yang tidak wajar. Hidupnya yang bisu pun, tidak wajar. Dia sudah tidak bisa bersuara dari kecil. Konon, waktu hamil istri Dul Samin pernah menusuk leher kumbang dan menurut  orang-orang itu yang menyebabkan Siti bisu.
‘’Ya memang itu kenyataannya. Tetapi semasa hidup, Siti itu juga aneh. Dia tidak pernah bersekolah, namun bisa menulis. Dia kalau meminta sesuatu, pasti menulis atau menggambar. Jika ngomong melalui tulisan,’’ ujar Dul Samin.
Tulisan paling berkesan, ketika masa terakhir hidupnya. Siti menyampaikan mengenai apa yang dideritanya. Dia menulis bahwa penyakitnya tidak mungkin bisa sembuh, karena sakit tidak wajar, sehingga Siti meminta maaf sebelum pergi.
Kini, jamur di atas nisan Siti sudah berusia lebih dari dua minggu, dan belum menunjukkan tanda-tanda layu. Malah, ketika Malang Post memegang tekstur jamur, terasa dingin dan segar.
‘’Saya akan menunggui makam ini sampai 40 hari, jika memang jamur ini tidak layu. Sebagai kirim doa juga ke almarhum anak saya,’’ Dul Samin kembali bercerita.
Kini setiap hari, banyak warga berdatangan. Baik dari Kelurahan Buring maupun dari kecamatan lain. Bahkan warga dari Tajinan, Tumpang, juga berdatangan. Mereka menyaksikan kebenaran sang jamur.
‘’Ya memang tidak usah dilarang, mereka kesini juga ikut mengirim doa. Tentu juga baik untuk ketenangan anak saya,’’ jelasnya.
Setiap harinya, lebih dari puluhan warga berdatangan. Bahkan ketika Malang Post berada di lokasi jamur bertumbuh, ada sekitar 20 orang yang turut menyaksikan.
‘’Jamur memang biasa. Tetapi jika hidup dan bertahan lama itu yang aneh. Apalagi mengeluarkan asap, di atas nisan anak yang didahului pemberian mimpi kepada sang ayah, dan akhirnya menjadi tontonan,’’ kali ini Abdul Mudjib menimpali. (Stenly Rehardson)