Mahasiswa Unisma Penulis Buku Soal Politik dan Mahasiswa

BERKARYA dengan menelorkan buku di usia muda, masih amat jarang dilakukan pemuda di negeri ini. Tapi mahasiswa Unisma Malang, Ahmad Siboy (21), sukses menulis sebuah buku yang kemudian menjadi inspirasi skripsinya. Buku tersebut kini menjadi salah satu koleksi toko buku besar dan sudah terjual ratusan copi.

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama baiknya. Pepatah ini menginspirasi mahasiswa Fakultas Hukum, yang juga santri PP Annuqayah ini, untuk  aktif menulis.
Baginya, buku adalah karya abadi yang tak akan mati walau jasadnya tak lagi di bumi. ‘’Saat ini, buku kedua saya sedang dalam proses dan sudah diminta oleh penerbit. Temanya tentang dinamika kehidupan mahasiswa,’’ ucapnya bangga.
Judul buku pertamanya yang terbit awal 2013 lalu adalah Membongkar Politisasi Fungsi DPR. Isu tentang lembaga legislatif dipilih oleh pria kelahiran Sumenep Madura ini, karena stempel miring yang banyak disematkan pada wakil rakyat. DPR seakan telah divonis sebagai institusi yang gagal total dalam menjalankan cabang kekuasaan legislatif.
’’Membaca buku ini menjadi fardhu ain. Didalamya diuraikan bagaimana kongkalikong politik di Senayan dan disertai beberapa ramuan kongkrit untuk menyelamatkan DPR dari kematian permanen,’’ ungkapnya.
Kehadiran buku ini merupakan tanggung jawab nyata Siboy sebagai seorang pelajar, yang dituntut untuk selalu mengabadikan segala yang didapat kepada khalayak umum. Buku ini, baginya, merupakan rekaman realitas kehidupan bangsa yang kacau.
’’Terbitnya buku empat bab ini, tak lepas dari peran berbagai pihak. Termasuk Rektor dan para pembantu Rektor di Unisma, pimpinan fakultas yang telah memberi support dan pemikiran,’’ ungkapnya.
Kalau pada buku pertamanya ia mengupas tuntas mengenai DPR, pada buku kedua, ia banyak bercerita tentang kehidupan aktivis mahasiswa.
Siboy sendiri pernah aktif dalam sejumlah organisasi. Seperti mendirikan jama'ah dan majlis Syuro Li At-thalabah Li Madrasatiddiniyah Baramij A Tarbiyah Wa Ta'lim, Ketua Komisariat IPNU Lubangsa, BEM Unisma, Pimpinan Umum Majalah dan Pimpinan Redaksi Majalah Khazanah, serta organisasi lainnya.
Tulisannya yang inspiratif, menarik minat mahasiswa dari perguruan tinggi lain untuk membedahnya. Siboy pun kerap diundang sebagai pembicara dalam berbagai kegiatan seminar.
Menerbitkan buku, bagi Ahmad Siboy, merupakan cita-cita yang sudah lama diimpikan. Namun selalu tertunda karena berbagai kesibukan.  ‘’Sebenarnya saya mulai menulis sejak kelas 2 SMA, saya sering mengirim tulisan di koran,’’ urainya.
Siboy selama ini dikenal sebagai aktivis pergerakan mahasiswa yang banyak mendulang prestasi. Ia masuk ke Unisma melalui program beasiswa bakat minat.
Sebelumnya ia mendapat rekomendasi masuk ke UI, namun tak berjodoh karena pada saat pengumuman hasil seleksi, ia sedang berada di tanah suci bersama orangtuanya.
Putra pasangan Sihan Al Agus Su’ib dan Surrayyah ini, adalah mahasiswa berprestasi di Unisma. Tulisannya kerap menghiasi sejumlah media massa.
Tak heran, walau deadline penulisan buku cukup singkat yaitu hanya dua bulan saja, namun mampu diselesaikannya dengan baik.
’’Saya berhak mendapat royalti 10 persen dari setiap buku yang terjual,’’ ujarnya.
Siboy berharap bisa terus menulis dan berkarya. Ia pun memiliki keinginan besar untuk ikut terjun ke dunia politik dengan menjadi wakil rakyat yang amanah.
Baginya, reputasi buruk yang melekat pada DPR harus segera dihapuskan. DPR tidak boleh terus menerus berada dalam kondisi carut marut.
’’Kalau kita ingin membenahi sesuatu maka kita harus terjun didalamnya, saya siap maju jadi calon anggota legislatif,’’ tegasnya. (Lailatul rosida)