Berakhirnya Kebersamaan Sang Bintang di Singo Edan

Hanya Bisa Pasrah, Alfarizi Mellow Dengar Seniornya Dicoret

Perginya Muhammad Ridhuan, sudah tak terelakkan. Manajemen Arema Indonesia memutuskan tak lagi menggunakan jasanya untuk paruh kedua musim 2012/2012. Klub juga memberi Ridhuan kesempatan untuk mencari klub baru, selama bursa transfer paruh musim dibuka.

Peluh mengalir dari wajah Muhammad Ridhuan, siang kemarin. Matahari yang sedang tak bersahabat, seperti sengaja membuat Ridhuan kepanasan dalam latihan rutin Arema Indonesia di Stadion Kanjuruhan.
Padahal, hatinya sedang gundah. Pikiran Ewan pun, demikian dia biasa dipanggil, sedang kalut. Nasib baiknya di Arema Indonesia sudah habis.
Manajemen telah memastikan tidak lagi memperpanjang kontrak Ewan. Media-media lokal Malang, kompak memberitakan hal ini. Tak heran, pesepakbola yang baru saja merayakan ultah ke 29 itu, galau. Dalam kesendiriannya, mungkin ultah kali ini adalah ultah Ridhuan yang paling miris.
Kado ultahnya adalah berita pencoretan dari skuad Arema. Pasrah. Sikap tersebut yang kini terbersit di benak pemain asing berdarah Singapura itu.
Dengan kabar pencoretan ini, memori indahnya di klub berlogo singa sudah berakhir. ‘’Saya tidak tahu gimana lagi. Besok pagi (hari ini, Red.), saya ketemu dengan GM untuk ngobrol soal ini,’’ ujar Ewan kepada Malang Post.
Seperti tidak rela, pesepakbola yang beroperasi di posisi winger itu sedih. Ingin rasanya hati Ewan protes atas pemecatan atau PHK yang menimpa dirinya. Pahlawan Singo Edan yang membawa piala juara bagi publik pecinta Arema tahun 2009-2010 ini, dipaksa mencari klub lain.
Musim ini, kontribusi Ewan memang minim. Dia mengakuinya. Dia tidak bisa protes melihat kinerjanya selama separuh musim ini. ‘’Tapi, pengorbanan di Arema selama bertahun-tahun membuat saya mikir, sebenarnya saya ingin tetap dipertahankan dari manajemen sebagai penghargaan,’’ terangnya, memelas.
‘’Apalagi, sisa setengah musim atau enam bulan kontrak saya juga masih ada. Tapi, mungkin bukan itu pemikiran dari manajemen. Saya sudah pasrah,’’ tambah Ridhuan.
Sekarang, pemain yang memiliki tato disekujur tubuhnya ini hanya bisa berharap bakal menemukan pelabuhan baru bagi dirinya di usia 29 tahun.
Padahal, harusnya masa 29 tahun adalah umur-umur emas bagi pesepakbola. Karena itu, penurunan karir sepakbolanya ini memberi pelajaran berharga bagi Ewan.
‘’Saya ikhlas. Saya belajar sabar saja. Mungkin, Tuhan ada rencana yang lebih baik dan lebih indah buat saya,’’ harap pemilik nomor punggung 86 itu.
Segera perginya Ewan dari Arema, tentu membuat sedih penggawa Arema Indonesia. Khususnya, pemain-pemain lawas yang sempat menangis dan tertawa bersama Ewan dalam perebutan gelar juara ISL musim 2009-2010. Anggota quartet four dalam timnas Singapura itu masih dirindukan.
Duo Akademi Arema, Sunarto dan Johan Ahmad Farizi adalah beberapa pemain yang menyatakan kesedihannya karena kehilangan sosok Ewan. Sunarto, winger yang aura kebintangannya semakin bertambah itu, sedih mendengar kabar mantan pemain timnas Singapura ini, dicoret dari skuad Arema pada paruh kedua.
Kesedihan itu lebih karena perjuangan yang dilaluinya bersama di Arema hingga sekarang. ‘’Ya sedih. Kita udah sama-sama kurang lebih empat musim. Tentu sudah jadi rekan dan teman yang dekat,’’ ujar Sunarto ketika dikonfirmasi.
The Joker, sebutan Sunarto, merasakan bagaimana Ewan membantunya berkembang dalam karir sepakbola. Sunarto mencontohkan, ketika dia cedera, Ewanlah yang memberi tips-tips agar cepat sembuh.
‘’Dia selalu mau membagi ilmu untuk adik-adiknya. Seperti saya, yang saat itu terhitung masih sangat junior di Arema,’’ ucap pesepakbola kelahiran Pakis itu.
Johan Ahmad Farizi, pemain Arema yang baru saja dipinjamkan ke Persija Jakarta, lebih mellow lagi mendengar Ridhuan tak lagi berkostum Arema pada paruh putaran kedua.
‘’Secara pribadi, saya kenal dia. Orangnya sangat baik dan enak. Loyal dan setia kawan. Dia juga gak pilih-pilih teman. Dia suka tolong saya kalau sedang kesulitan,’’ ujar Alfarizi, yang ketika dikonfirmasi sedang berada di Solo.
Kini, Alfarizi tak akan melihat ada winger cepat Arema yang bisa membuat barisan defender kocar-kacir, seperti yang pernah dilakukan oleh Ewan.
‘’Ya selamat jalan, Bang, semoga Bang Ewan bisa bangkit. Mungkin di klub lain, saya yakin Bang Ewan bisa bangkit,’’ tutupnya. (fino yudistira)