Dusun Mboto, Sentra Penghasil Tape di Kabupaten Malang

Lebih Dikenal Sebagai Dusun Tape Hingga Buk Tape

USAHA apapun, kalau dirintis dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh, pasti akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Tak terkecuali dengan usaha pembuatan tape singkong. Meski dari namanya saja cukup sepele, namun ternyata usaha ini cukup menjanjikan.
Di wilayah Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, ada dusun yang dikenal dengan sebutan dusun tape. Julukan tersebut, karena sebagian besar penduduknya, membuka usaha pembuatan tape. Yaitu Dusun Mboto, Desa Banjarsari.
Namun untuk nama produksi tapenya, lebih dikenal dengan sebutan ‘Tape Boto’. Tape boto ini, sudah dikenal di kalangan masyarakat. Tidak hanya di wilayah Kabupaten Malang, tetapi masyarakat di Kota Malang juga sudah banyak yang tahu dengan kualitas tape boto ini. Selain tahan basi, rasanya pun juga manis.
Untuk menuju ke Dusun Mboto, tidak begitu susah. Dari Kota Kepanjen, perjalanan hanya ditempuh sekitar setengah jam saja. Jalan yang dilintasi menuju lokasi adalah jalan pedesaan yang sejuk, karena masih banyak pepohonan.
Qhomariyah, adalah salah satu warga yang membuat usaha tape. Wanita 50 tahun ini, sudah 15 tahun lalu menggeluti bisnis ini. Alasannya simple. Ingin meningkatkan kesejahteraan hidup.
‘’Dulu sebelum saya membuat usaha tape, adalah penjahit. Karena pendapatan sebagai penjahit kembang kempis, akhirnya beralih ke pembuatan tape. Keputusan beralih usaha membuat tape itu, setelah melihat tetangga yang berusaha membuat tape, lebih tentram,’’ ungkap Qhomariyah.
Kebutuhan membuat tape ini, dalam sehari dibutuhkan sekitar satu kwintal singkong. Yang dipilih adalah singkong kuning karena lebih bagus dari pada warna putih. Ketela pohon itu sendiri, didapat dari petani singkong di wilayah Kecamatan Ngajum.
‘’Satu kilo singkong, kami beli Rp 1.350. Untuk satu kwintal pembuatan tape, ragi yang dibutuhkan hanya Rp 7.500,’’ ujar Qhomariyah.
Proses pembuatannya sendiri, tidak terlalu rumit. Sebelum direbus, sekitar setengah jam, singkong terlebih dahulu dikupas kulitnya. Setelah itu singkong rebus ditiriskan (pengeringan) selama 3 – 4 jam. Baru diberi ragi dan didiamkan selama 2 – 3 hari sampai menjadi tape. Begitu sudah menjadi tape, baru dijual kepada masyarakat. Sekilo, harganya Rp 2.000.
Hanya saja, meski namanya sudah tenar, namun perhatian Pemerintah Kabupaten Malang, terhadap produksi tape di Dusun Mboto ini, masih minim.
Qhomariyan mengaku, selama 15 tahun memproduksi tape, dia belum pernah mendapat bantuan dari Pemerintah untuk sekadar mengembangkan bisnis usahanya itu.
‘’Ya harapan saya ada bantuan yang merata. Termasuk ada pelatihan khusus untuk mengembangkan produksi tape ini, sehingga bisa tetap eksis,’’ katanya.
Yang juga menarik, produksi tape di Dusun Mboto ini, tidak hanya menjadikan nama dusunnya sebagai dusun tape. Tetapi juga menjadikan jalan di Desa Ngadilangkung, Kecamatan Kepanjen, memiliki sebutan sebagai buk tape.
Sebutan buk tape ini, menurut Camat Ngajum, Ichwanul Muslimin, bermuasal dari belasan tahun yang lalu para penjual tape sebelum mengedarkan dagangan tape boto ke wilayah Kota Malang, berhenti dan duduk di buk depan sebuah gang. Mereka duduk sembari menunggu angkot yang biasa mengangkut mereka.
‘’Karena setiap paginya para penjual tape ini berkumpul di buk jalan itu, akhirnya nama jalan itu dikenal dengan sebutan buk tape sampai sekarang ini,’’ terang Ichawanul Muslimin.
Terkait dengan bantuan pemerintah yang diharapkan para pembuat tape, Ichwanul menyebut, jika pemerintah sudah memberikan bantua.
‘’Tetapi bentuknya diberikan secara bergiliran. Dimana maksud bantuan itu adalah untuk meningkatkan kualitas dan produktifitas tape buatan warga Dusun Mboto ini,’’ jelasnya. (agung priyo)