Didik Anak Muda Kreatif dan Berani Tampil

MALANG POST - Di kalangan anak muda, stand up comedy atau harfiahnya disebut lawakan monolog, sudah sangat populer. Bahkan, di Malang Raya, gaungnya sudah terasa di Malang Raya khususnya Kota Malang dan Kota Wisata Batu. Di dua kota tersebut, stand up comedy sudah bisa dinikmati para orang tua. Lantas bagaimana perkembangan comic Bhumi Arema ini?

Tanda-tanda stand up comedy diterima oleh masyarakat luas, sudah tampak di Alun-alun Kota Wisata Batu. Pada Jumat (4/5) lalu, Pemerintah Kota setempat menggelar kompetisi lawakan monolog di pusat kota. Hebatnya, peserta didominasi oleh pelajar, arek-arek Batu, ternyata banyak yang berani open mic di areal publik.
Barangkali, panggung Alun-alun Kota Wisata Batu, menjadi sejarah stand up comedy tampil di ruang public. Penontonnya dari berbagai kalangan, tua muda, fokus menghadap ke arah panggung. Walikota Batu Eddy Rumpoko, bahkan ikut menonton, tak risih dikritik lewat set up para comic.
Betapa tidak, panggung tersebut berada di belakang apel dan strawberry raksasa. Dua ikon Kota Batu itu, terutama gedung Apel, dianggap kontra produktif. Para comic peserta kompetisi, beranggapan, wisatawan akan menutup hidung ketika makan apel, apalagi yang pernah buang hajat di gedung apel.
Maklum saja, gedung apel di Alun-alun memang difungsikan sebagai kamar kecil. Walikota Batu, cukup lapang dada dikritik anak-anak muda kotanya. Bukannya pergi, ER sapaan akrabnya, malah bertahan terpingkal-pingkal hingga akhir acara kelar.
Set up para peserta kompetisi yang sebagian besar masih “kasar”, berhasil disterilkan pembawa acara. Sakti Wawan (26 tahun), MC asal Stand up Indo Malang mampu membangkitkan keceriaan di zona public tersebut. Kata dia, anak-anak Batu tertolong dengan adanya gedung apel tersebut.
“Kalau tidak ada gedung apel, mungkin kalian semua (peserta), sudah berjajar di sungai untuk buang hajat, lantas ada yang kasih instruksi, tolong pantatnya diluruskan,” selorohnya menyodorkan punch.
Bukti lain, stand up comedy diterima masyarakat luas, terlihat dari sosok jawara kompetisi itu. M. Firdaus Ramadan siswa kelas XI SMAN 1 Kota Batu, tampil sebagai juara 1. Malam itu, Firdaus yang aktif di teater sekolah itu, mengikuti kompetisi didampingi sang mama.
Nah, sejak even tersebut, Kota Wisata Batu sudah memiliki bibit comic. Tentu saja, kemunculan comic bakal meramaikan jagat stand up comedy di Malang raya. Selama ini, kiblat lawakan monolog itu adalah Kota Malang.
Lawakan monolog ini, di Kota Malang telah rutin ditampilkan di Café Fivepointsix Jalan Soekarno Hatta pada Kamis dan Jumat malam. Tak ketinggalan juga Ria Djenaka Coffe House And Resto yang menampilkan stand up sejak Maret 2011 lalu.
Sedangkan komunitas Stand Up Indo Malang sendiri mulai berdiri pada 23 Oktober 2011 silam. Saat ini sudah memiliki sekitar 30 comic. Salah satu comic-nya, Arie Keriting mahasiswa ITN Malang, berhasil meraih juara III Stand Up Comedy Season 3 di Kompas TV.
Sakti Wawan (26 tahun), Comic asal Kelurahan Jatimulyo, Kota Malang, mengatakan bahwa ajang ini membangkitkan semangat anak muda. Lewat ajang open mic, mereka belajar menangkap fenomena sosial, keresahan, kemudian mengemas dalam monolog yang lucu.“Kita bisa memberikan kritik terhadap pemerintah atau atas fenomena sosial, tetap mengena tanpa menyinggung orang lain,” ujar Wawan kepada Malang Post.
Contohnya, Wawan sempat memberikan kritik kepada Walikota Batu Eddy Rumpoko di Alun-alun. Fenomenanya, saat ini di Kota Batu sudah tak dingin lagi seperti dulu. Kritik itu disampaikan ketika ada peserta keturunan arab ikut open mic.
“Pak Walikota, mohon segera mengambil langkah , saya khawatir Kota Batu ini sudah panas, soalnya orang Arab sudah kerasan tinggal disini,” celetuknya disambut tawa penonton, termasuk tawa ER.
Lawakan monolog ini, ternyata juga masih tak lepas dari kesenian lokal. Salah satu comic, Sarkawi (30 tahun) kerap tampil ala ludrukan. Saat show, pria yang menjadi assisten supervisor di Ria Djenaka ini, tak lupa membawakan parikan. “Saya pribadi memang terpengaruh ludruk, karena saya suka Kartolo, dan seniman ludruk lokal Batu cak Ateng,” aku dia.
Lantas apakah comic sudah bisa dijadikan lahan untuk menyambung hidup? Ketua Stand Up Indo Malang, Yuda Wicaksono mengaku bahwa comic belum bisa menjadi pekerjaan tetap. Namun, diakui bahwa stand up comedy, adalah hobi yang menghasilkan duit.“Pada beberapa show, penampilan para comic memang berbayar, agar bisa jadi lahan hidup para comic memang harus go nasional,” jelas dia.
Ke depan, Yuda yakin bahwa stand up comedy bakal semakin membumi. Pihaknya sendiri kerap mendapat tawaran untuk tampil. Akan tetapi terpaksa harus ditolak karena pertimbangan materi lawakan.“Kami masih terus belajar, sekarang juga masih pilih-pilih tawaran, ruang gerak masih kami batasi,” jelas dia.
Alasannya, para comic masih harus belajar untuk membawakan materi yang tepat kepada khalayak. Sedangkan, selama ini, penampilan mereka masih dinikmati kalangan anak muda dan menengah ke atas. Sebab, para comic kebanyakan tampil di café dan resto dengan penonton yang terbatas.
“Kami akan terus belajar set up untuk kalangan masyarakat luas,” imbuhnya.
Namun, tampilnya Wawan Sakti dalam di areal publik semacam Alun-alun Kota Wisata Batu sudah menjadi bukti. Bahwa Stand Up Comedy di Malang raya bisa berkibar lebih tinggi. Apalagi, Arie Keriting comic dari Komunitas Stand Up Indo Malang sudah berhasil menoreh prestasi nasional.
Nah, sekarang tinggal keberanian dari pemerintah maupun khalayak luas untuk merangkul para comic asal Malang. Keberanian Eddy Rumpoko menampilkan comic di areal public  patut ditiru. Toh, ajang seperti ini, mendidik anak muda untuk kreatif dan berani tampil.
Mereka mengungkap keresahan, ide, kritik dengan cara yang elegan dan mengundang tawa. Mengutip Pandji Pragiwaksono soal generasi muda, “Hanya ada dua jenis anak muda di dunia, mereka yang menuntut perubahan dan mereka yang menciptakan perubahan.”  Stand up comedy, mencetak anak muda yang bisa menciptakan perubahan, dengan lawakan mereka.(Bagus Ary Wicaksono)