Melihat Sekolah Pinggiran dengan Ruang Kelas Terbatas

MALANG POST - Sekolah-sekolah di pinggiran, memang harus berupaya untuk memaksimalkan kondisi yang ada. Hanya punya tiga kelas, sebuah sekolah, harus mengajar murid-murid dua kelas berbeda, dalam sebuah ruangan.


Tak banyak yang tahu dimana lokasi tepatnya SDN 04 Wonorejo. Setelah bertanya ke kantor Kecamatan Singosari, pagi itu, barulah lokasi sekolahan tersebut diketahui.
‘’Desa Wonorejo, tempatnya memang paling pucuk atas sendiri. Masuknya harus lewat Kecamatan Jabung dulu. Mari saya antarkan ke lokasi,’’ ujar Kasie Kesos Kecamatan Singosari, Drs Kasiyanto, ketika mengantarkan Malang Post.
Menggunakan sepeda motor, Malang Post berangkat menuju sekolahan tersebut. Begitu memasuki gapura Desa Wonorejo, langsung disuguhi jalanan terjal bebatuan. Tak cukup itu saja, jalanan berliku semakin memacu andrenalin. Sisi kanan kiri, merupakan hutan dan jurang.
Selain itu, jalanan yang berdebu, cukup mengganggu pernafsan. ‘’Kalau musim hujan, sepanjang jalan becek dan licin. Kalau tak berhati-hati, akibatnya bisa fatal. Seperti terjatuh dari sepeda motor, akibat selip maupun licin,’’ ujar Kasiyanto. Benar-benar sebuah perjalanan, yang menguras tenaga bagi yang tak terbiasa melewatinya.
Setelah menempuh waktu hampir satu jam, Malang Post sampai juga di SDN 04 Wonorejo. Kepala SDN 04 Wonorejo, Marsih M.Pd, menyambut di depan gapura. ‘’Monggo, silahkan masuk ke dalam ruangan guru untuk berisitirahat. Kita ngobrol di ruang itu saja,’’ kata Marsih dengan senyuman ramahnya.
Ternyata, ruangan guru tersebut, sekaligus dipakai ruang kepala sekolah. Termasuk menjadi ruang administrasi. Berukuran 5x6 m. Tapi harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Keseluruhan sekolah tersebut, hanya memiliki empat ruang. Tiga diantaranya dipakai proses kegiatan belajar dan mengajar. Untuk kelas 1 sampai 6, menggunakan tiga ruang kelas.
‘’Alhamdulillah, baru saja direnovasi. Tapi kondisinya yang memang cuma ada empat ruang. Jadi harus gantian. Namanya saja sekolah di desa. Harus menerima yang ada,’’ katanya.
Secara keseluruhan, ada 114 murid yang belajar di sekolah tersebut. Mereka terdiri dari kelas 1 hingga 6. Ratusan murid itu pun harus berbagi kelas.
‘’Kami menerapkan sitem pembelajaran kelas rangkap dan bergantian,’’ ucap Marsih. Dia menjelaskan, sistem kelas rangkap adalah satu guru mengajar dua kelas dalam satu ruangan, dalam waktu yang bersamaan. Tentunya dengan catatan pelajaran yang disampaikan mempunyai kemiripan, seperti matematika maupun berhitung dan bahasa.
‘’Kalau pelajaran yang tak mirip, ya harus bergantian memakai kelasnya,’’ tandas ibu dengan tiga anak ini. Sedangkan untuk tenaga pengajar sendiri, sekolah ini memiliki tiga guru berstatus PNS. Mereka dibantu enam guru tidak tetap (GTT).
Hanya saja, dia mengakui kondisi yang ada sekarang, jauh lebih bagus, ketimbang lima tahun lalu. Ketika sekolah belum tersentuh renovasi.
Sayangnya, karena sekolah tersebut, berhimpitan dengan perkampungan, membuat lahan yang tersedia untuk penambahan ruangan, menjadi permasalahan sendiri. Mau tidak mau, untuk menambah ruangan, sekolah harus ditingkat.
‘’Kalau untuk menambah kelas, harus dibangun tingkat ke atas. Karena lahan sekolah ini sempit serta terbatas. Selain itu, disini juga membutuhkan beberapa ruangan lagi untuk perpustakaan, laboratorium dan ruang kesehatan yang memang kami belum mempunyainya,’’ harap guru yang menamatkan S1 di Universitas Kanjuruhan ini.
Untuk itu, dia berharap kepada pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap sekolahan ini. ‘’Sebelumnya pemerintah sudah merenovasi sekolahan ini. Namun, pada kenyataannya, kami masih butuh bantuan yang lebih banyak lagi. Karena mayoritas kondisi masyarakat di desa ini, masih di bawah garis kemiskinan,’’ harapnya.
Lantaran mayoritas warga Desa Wonorejo kurang mampu, hampir tak ada donatur maupun orang tua wali murid yang bisa menyumbang pembangunan SDN 04 Wonorejo. (binar gumilang)