Nilai Matematika 100, Dongkrak Peringkat Sekolah

Tak hanya keluarga, pihak sekolah juga terpukul atas tewasnya tiga siswi kelas enam SDN Bumiayu 4 Kota Malang. Maulida Ulfa (Ulfa), Delia Eka Purnamasari (Eka) dan Sukemi, dikenal sebagai juara kelas. Bahkan, Ulfa dan Eka, telah ditawari beasiswa selama tiga tahun, oleh salah satu MTs swasta di Jalan Babatan Kota Malang.

Pihak sekolah sendiri, langsung menggelar tahlilan bersama seluruh siswa, kemarin pagi. Kelas enam yang semula berjumlah 31 siswa, terdiri dari 19 siswa dan 12 siswi, kini kehilangan tiga siswi terbaik. Merekanya adalah bintang kelas, Ulfa juara dua, Eka juara tiga.
‘’Kalau Sukemi masuk lima besar. Tergolong cerdas juga. Kami sangat kehilangan,’’ ungkap Kasek SDN Bumiayu 4 Kartini SP,d kepada Malang Post.
Ditemui di rumah duka keluarga Ulfa, Kartini begitu terpukul. Matanya tak henti mengeluarkan air mata. Semakin deras ketika jenazah tiba di rumah duka. Apalagi mayoritas kaum perempuan berteriak sembari menangis.
Kediaman Moch Legimin, ayah Ulfa, di Jalan Ubi No. 49 RT 6 RW 5 Bumiayu Kedungkandang, hujan air mata. Pelayat berjubel di sekitar kawasan itu. Maklum saja, Legimin adalah Ketua RT 6 RW 5. Begitu tiba, jenasah masuk ruang tamu untuk proses identifikasi pihak keluarga, kakak almarhumah langsung pingsan.
Disisi lain, Kartini, Kasek SDN Bumiayu 4, masih tak mampu membendung air mata. Ketika jenazah selesai dimandikan, Kartini mengambil sisa air yang dipakai memandikan jazad muridnya. Perempuan berjilbab ini kemudian mengusap mukanya air tersebut.
‘’Mereka ini siswi cerdas. Ulfa dan Eka bahkan dapat nilai 100 untuk pelajaran matematika pada tryout UN. Mereka saya kasih hadiah Rp 50 ribu,’’ imbuh dia.
Ulfa sendiri, nilainya juga terbagus dalam delapan bidang studi UASBN. Berkat siswi-siswi cerdas tersebut, peringkat SDN 4 Bumiayu melejit. Semula di level terbawah, kemudian naik ke peringkat 19. ‘’Ulfa dan Eka sudah saya beritahu. Mereka dapat undangan bebas biaya di MTS Babatan,’’ katanya.
Namun, Ulfa ternyata menolak halus beasiswa itu. Dia ingin masuk SMPN 10 Kota Malang. Niatnya sudah bulat masuk SMP Negeri, apalagi sang ayah membelikan sepeda baru untuknya. Sampai detik kematiannya, Ulfa belum sempat mengendarai sepeda baru tersebut.
‘’Peristiwa ini begitu mengagetkan. Kami tak tahu sebab mereka tak masuk sekolah,’’ aku dia.
Ketiga korban bersama belasan rekannya sengaja mandi di Sungai Brantas untuk refreshing. Padahal pihak sekolah telah berencana untuk rekreasi bersama ke Jatim Park pada 18 Mei mendatang. Namun, hasrat berlibur, membuat para siswi cerdas itu nekat ke Sungai Brantas.
‘’Saya rasa ini, sudah digariskan Allah. Mereka seperti mendapat panggilan untuk mandi di sungai,’’ ujarnya.
Ibu Ulfa, Saini, tak memiliki firasat putrinya akan pergi. Pada hari tragedi terjadi, Ulfa pamit berangkat ke sekolah. Namun kali ini diluar kebiasaan, dia mengucapkan salam sangat keras.
‘’Sama ibunya terus ditegur, Ulfa kembali namun sambil berjalan mundur ke ibunya. Semalam sebelum jenazah ditemukan, ibu Saini mimpi ditemui Ulfa di bawah jembatan dengan tubuh menggigil sembari minta tolong,’’ terang salah satu guru.
Kepergian para siswi itu ke Sungai Brantas, memang sangat aneh. Ketujuh siswi antara lain Dahlia Eka Purnamasari, Maulida Ulfa, Sukemi, Nur Faiz Safitri, Safitri Romadana, Miftahu DS dan Firdausin Nuzulia, bolos sekolah.
Mereka kemudian mengajak tujuh siswa pria Suhufil Abidin, M Alwi Shihabudin, Zaenur Rizki, Figo Arif Satyawan, Firman Romadoni, Imron Rosadi dan Agilyazid Al Bustomi.
‘’Kami sedang main playstation, Firman kemudian ditelepon Ulfa, diajak main ke Sungai Brantas,’’ aku Imron Rosadi.
Tiba di sungai, para siswa lelaki diminta menjadi juri lomba menyelam. Penyelam paling lama adalah siswi terbaik dan pasti lulus UN. Empat siswi turun ke sungai, yakni Dahlia Eka Purnamasari, Maulida Ulfa, Sukemi, Nur Faiz Safitri (Faiz).
‘’Mereka berempat kemudian hanyut, saya meraih akasia untuk menarik Faiz, sedangkan Eka, Sukemi dan Ulfa hanyut,’’ urai Imron.
Dia dan siswa lainnya sempat berjibaku, menjejaki batu padas sejauh 500 meter, untuk mengejar tubuh rekannya. Mereka putus asa ketika tubuh tiga rekannya hilang ditelan air terjun bawah jembatan Bumiayu. Siswa lugu itu tak berani melapor orang tua masing-masing, baru pukul 16.00, kejadian ini diketahui warga.
Takdir ketiga siswi cerdas itu, meninggal sebelum nilai ujian nasional diumumkan. Mereka dikebumikan berdampingan, Ulfa diapit oleh Sukemi dan Eka di TPU Bumiayu. Ketiganya masih bisa belajar bersama, sebagaimana kebiasaan mereka selama di sekolah.
‘’Sukemi berada di dekat makam ayahnya Suroso,  yang meninggal sejak Sukemi umur satu tahun,’’ aku Misti tante Sukemi.
Sepanjang hidup, Sukemi tak pernah mendapat kasih sayang dari ayah kandungnya. Halimah, ibu Sukemi, hanya bekerja sebagai buruh kupas bawang di pasar induk Gadang, tak mampu membiayai. Sukemi kemudian dititipkan kepada Misti dan Nawardi.
‘’Dia semangat belajarnya tinggi, kelas lima bahkan bisa juara dua, anak pintar,’’ tandas Misti. (Bagus Ary Wicaksono)