Melihat Kiprah Komunitas Rhesus Negatif

TIDAK banyak warga Malang Raya memiliki darah rhesus negatif. Pemilik darah rhesus negatif di Malang Raya itu kemudian membentuk komunitas Rhesus Negatif Indonesia Koordinator Malang Raya. Komunitas tersebut memiliki tujuh orang anggota karena merekalah yang memiliki darah Rhesus negatif.

Cek Darahmu, Kenali Rhesusmu. Begitu slogan komunitas Rhesus Negatif Indonesia, termasuk Malang Raya dalam bersosialisasi. Sosialisasi rhesus negatif saat ini getol dilakukan komunitas itu agar pemilik rhesus negatif tidak panik. Ketika mereka sakit dan membutuhkan darah, mereka bisa mendapatkan darah dengan golongan dan rhesus yang sama.
"Pemilik golongan darah rhesus negatif ini sangat sedikit di Indonesia karena hanya berkisar satu persen diantara 200 juta penduduk. Di Malang Raya juga sedikit. Anggota komunitas hanya berjumlah tujuh orang meski masih ada kemungkinan pemilik darah rhesus negatif yang belum masuk komunitas," ujar Estu Winayudita, Koordinator Malang Raya Rhesus Negatif Indonesia.
Anggota rhesus berdomisili di Kota Batu, Landungsari Kabupaten Malang, Jalan Bandung hingga di Kepanjen Kabupaten Malang. Dari tujuh orang, lima diantaranya perempuan dan dua laki-laki. Mereka ada pemilik darah golongan A, B, AB, dan O rhesus negatif. "Kami selalu menjalin komunikasi secara intensif, baik itu lewat HP maupun jejaring sosial," tambah perawat RS Baptis Batu ini.
Dalam komunikasi intensif tersebut, mereka biasa membicarakan ada pasien yang membutuhkan darah atau tidak. Setelah itu, mereka sudah siap berdonor apa belum jika sewaktu-waktu ada orang membutuhkan darah rhesus negatif.
Masalahnya, persediaan darah rhesus negatif ini berbeda dengan rhesus positif. Pemilik darah rhesus positif sangat banyak sehingga PMI mampu menyediakan bank darah. Jika ada orang membutuhkan darah sewaktu-waktu, PMI tinggal melihat stok dan tinggal menyesuaikan golongan.
Darah rhesus negatif ini tidak bisa distok. Jika ada pasien membutuhkan darah, Rumah Sakit mengirimkan permintaan kepada PMI dan PMI menghubungi komunitas pemilik darah rhesus negatif apakah bisa berdonor waktu itu apa tidak.
"Kalau darah rhesus negatif, hari ini donor hari ini juga darah diberikan kepada orang yang membutuhkan. Jadi darah jenis ini tidak ada stok langsung di PMI seperti rhesus positif," perempuan kelahiran Kediri ini.
Ketika ada orang membutuhkan, komunitas inipun tidak bisa langsung memenuhi. Mereka pasti melihat golongan darah apa yang dibutuhkan. Pemilik darah rhesus negatif ini sudah waktunya donor apa belum karena siklus donor adalah tiga bulan sekali. "Jika orang yang membutuhkan darah, ternyata golongan darah tersebut sama dengan pemilik darah rhesus negatif yang baru donor, anggota kami tidak mungkin bisa memenuhi. Saya juga harus mencatat siklus donor teman-teman sebagai salah satu langkah mengetahui kesiapan jika ada orang yang membutuhkan sewaktu-waktu," tambah dia.
Karena kebutuhan orang akan darah rhesus negatif tidak bisa ditentukan, mereka selalu kepikiran rasa kemanusiaan itu untuk bepergian jauh. Jika mereka keluar kota dan ternyata harus donor untuk orang yang membutuhkan, jelas tidak bisa memenuhi.
"Bahkan ketika menstruasi, kamu selalu kepikiran. Kira-kira ada orang yang membutuhkan darah apa tidak ketika saya sedang menstruasi. Soalnya pada posisi menstruasi, kami tidak boleh melakukan donor," tegas alumnus Akper Baptis Kediri ini.
Anggota komunitas rhesus negatif ini sangat peduli atau memiliki rasa kemanusiaan tinggi karena mereka merasakan betapa sulitnya mendapatkan darah rhesus negatif saat membutuhkan. Estu pernah mengalami sakit demam berdarah, beberapa tahun lalu. Saat itu dia membutuhkan darah rhesus negatif ketika menjalani perawatan di RS Baptis Batu.
Pihak rumah sakit dan keluarga sudah mencari darah rhesus negatif ke mana-mana di Malang Raya, tetapi tidak ada. Keluarganya baru  mendapatkan darah dari pendonor Surabaya setelah beberapa hari mencari. Dia sendiri sudah stadium kritis dari penyakit demam berdarah karena gusi, hidung sudah mengeluarkan darah. Warna lidah juga mulai membiru karena penyakitnya itu.
"Karena kondisi itu, saya browsing di internet dan akhirnya menemukan komunitas Rhesus Negatif Indonesia. Saya bergabung dan membentuk komunitas ini di Malang. Komunitas rhesus negatif memiliki website resmi, yakni www.rhesusnegatif.com dan Facebook Group: Blood Group  Rhesus Negatif. Tujuan kami hanya ingin membantu sesama, agar mereka tidak mengalami nasib serupa ketika membutuhkan darah rhesus negatif," katanya.
Dia juga menghimbau, setiap orang periksa darah dan mengetahui rhesusnya. Mereka bisa melakukan cek darah tersebut di PMI maupun laboratorium swasta. Khusus untuk perempuan, mengetahui rhesus sangat dibutuhkan. Karena jika rhesus darah perempuan ternyata negatif, dia harus diberikan suntik vaksin ketika menikah.
"Kalau menikah, rhesus darah sang suami kemungkinan besar adalah positif. Jika perempuan itu mengandung, maka rhesus darah janin juga positif. Kejadianya akan ada penolakan rhesus negatif ibu terhadap janin sehingga mengakibatkan efek tidak baik bagi janin," pungkas dia. (febri setyawan)