Bermodal Rp 1,5 Juta, Tembus Hingga Italia

KERAJINAN : Edi Prayitno dengan sejumlah syal garapannya yang siap dikirim kepada pemesan di Indonesia.

Lebih Dekat dengan Pembuat Syal Klub-klub di Indonesia
Di tengah ketatnya persaingan tim-tim Indonesia Super League (ISL) dan Indonesian Premier League (IPL), melakoni kompetisi, siapa sangka jika sejumlah syal yang biasa dikenakan suporternya, adalah garapan dari Edi Prayitno. Berkat tangan-tangan terampil dan ide kreatifnya, bapak tiga anak ini kebanjiran onder. Pelanggannya, hampir seluruh tim di Indonesia.
Santai, begitulah bawaan atau kesan pertama yang muncul dari sosok Edi Prayitno, saat berada di rumahnya, Dusun Sumbersari RT45 RW07, Desa Tulus Besar, Kecamatan Tumpang. Diantara beribu-ribu syal dari berbagai tim, laki-laki 35 tahun yang sudah 11 tahun menggeluti pembuatan syal itu mulai bertutur.
Awalnya, Edi hanyalah seorang buruh dari teman sekampungnya, yang membuka usaha pembuatan syal. Lama menjadi pekerja, tidak membuatnya puas.
Ketika memiliki uang Rp 1,5 juta, dia memberanikan diri keluar dan membuka usaha sendiri. Beruntung, dia juga mendapatkan pinjaman ringan Rp 2 juta, untuk menambah modal.
Dari uang pas-pasan tersebut, rejeki pertama pun datang. Ketika itu, seorang pemilik mesin manual pembuat syal, menawarkan alat tersebut kepada Edi. Tawar-menawar, penjual pun akhirnya melepaskan kepemilikan mesinnya kepada Edi dengan harga Rp 1,5 juta.
‘’Saya dapat mesin pertama dahulu, istilahnya nemu. Karena dulu atau sekitar Tahun 2002, meskipun mesin tersebut sudah dipakai oleh pemiliknya, tapi harganya dipasaran masih tinggi,’’ ingat Edi.
Begitu mesin didapat, giliran benang yang menjadi bahan pembuatan syal yang harus dilengkapinya untuk memulai usaha. Dari sisa modal sekitar Rp 2 juta, pria yang kini memiliki delapan karyawan itu, langsung membelanjakan sisa modalnya untuk membeli benang. Kala itu, total mendapatkan benang sekitar 20 kilogram.
‘’Dari total benang tersebut, akhirnya mampu menjadi syal sebanyak 100 syal. Karena saat itu pembuatannya masih pertama, saya buat semuanya syal Arema. Kebetulan, tren skuad Arema yang kala itu sedang naik-naiknya. Bahkan, sanksi kepada suporter dengan larangan menggunakan atribut, hendak berakhir. Makanya, kemudian memanfaatkan kondisi itu,’’ ungkap Edi.
Walaupun syal yang dibuatnya sudah rampung dan siap jual, nyatanya saat itu tidak bisa berjalan mulus untuk pemasarannya. Untuk mensiasati itu, akhirnya dia pun turun langsung di sekitar pintu masuk Stadion Kanjuruhan, guna menjajakan hasil ketrampilan tangannya.
‘’Dari situlah, kemudian banyak hikmah yang saya dapat. Selain kenal satu persatu penjual atribut selain syal, mereka yang membeli pun banyak bertanya mengenai syal yang saya jual tersebut. Itulah yang kemudian, dari mulut ke mulut membuat syal saya kian dikenal. Terutama di kalangan komunitas suporter Arema, Persela, The Jak (Persija) sampai Ultras (Persegres),’’ ungkap Edi.
Bahkan, selama kurun waktu beberapa bulan terakhir, pesanan pun kian banyak. Terlebih, dengan bergulirnya kompetisi. Situasi akan berbeda, tatkala kompetisi tim-tim Indonesia tengah libur. Maka, pesanan pun akan menurun drastis.
‘’Hampir total seluruh suporter dari tim-tim peserta ISL, pesan di sini. Termasuk, tim-tim luar Jawa. Seperti Barito, Persipura dan PSM Makassar. Khusus syal Persela, The Jak dan Arema, di sini biasa menjadi jujugan karena memang selalu memunculkan syal-syal baru,’’ terangnya.
Tidak itu saja, tim-tim dari kasta kedua, seperti PSCS-Cilacap, Persipur Purwodadi-Jateng, Persiku-Kudus dan Perseba-Bangkalan, pun turut memesan syal buatan Edi.
Pesanan sendiri, ungkap Edi, sebenarnya juga banyak berdatangan dari tim-tim IPL. Mulai Persibo Bojonegoro dan Persiba Bantul. Dengan harga standart yang relatif murah yakni rata-rata Rp 25 ribu, syal pun bisa dipesan dalam jumlah besar minimal 20 biji.
Lantas, bagaimana dengan syal Persebaya? Edi menjelaskan, terlepas dari konflik antar pendukung fanatik Malang dan Surabaya, pesanan itu tetap dibuatnya. Dengan catatan, jumlah dan waktu pelaksanaan pembuatan diberi ruang.
Banyaknya syal buatan Edi dipesan, karena memang berbeda dengan lainnya. Syal itu, memiliki dua ‘muka’. Praktis bisa dibaca dari depan dan belakang.
‘’Buatan Bandung memang murah, tapi tidak dua sisi. Buatan saya, dari depan atau belakang, orang mau membaca tulisan syal, tetap bisa. Sementara kombinasi warna dan coraknya, juga sangat berbeda. Warna di syal ini lebih hidup. Kondisi itu, akan sangat berbeda jika dibandingkan dengan pembuatan syal memakai sistem komputer,’’ ungkap Edi.
Selama kiprahnya 11 tahun membuat syal, Edi mengaku cukup bangga dengan garapannya yang sudah bisa masuk ke Kota Milan Italia. Syal AC Milan dengan kombinasi merah-hitam bertulis ‘Tu sei tutta la mia vita’ plus kombinasi Adidas, merupakan produk tangannya yang dibuat terbatas 30 biji untuk pendukung AC Milan.
‘’Syal itu kini hanya tinggal satu. Bahkan, banyak yang ingin mengganti dari syal yang masih tersisa ini. Namun, saya tidak berkenan karena memang untuk kenang-kenangan saya sendiri,’’ ujar pria yang rumahnya terbilang cukup lumayan dari jalan utama tersebut.
Syal produknya bisa masuk ke Italia, lantaran Edi juga membuka penjualan online. Termasuk sejumlah produknya di bawah binaan PNPM Mandiri, yang juga dipasarkan.
Pemasaran barang yang dilakukan via online itulah, yang membuat Milanisti Jakarta tertarik untuk memesan. Awalnya, hanya 10 biji yang dipesan. Namun kemudian, minta 20 biji lagi untuk dikirim ke Milan Italia.
‘’Usai pengiriman 20 biji tersebut, yang memesan minta dibuatkan kembali 50 biji dengan waktu selama sebulan harus rampung. Karena waktu yang dibutuhkan untuk membuat syal Milan tersebut sangat rumit, akhirnya saya menarik diri dengan pertimbangan kualitas dan kepercayaan seseorang. Saya hanya ingin, syal ini memiliki kualitas dan orang lain tetap percaya dengan syal ini. Namun dengan waktu yang terbatas, saya khawatir akan mengurangi kualitas dari pembuatan syal itu,’’ ungkapnya.
Seiring berjalannya waktu, Edi mengaku, selain tetap berharap syalnya bisa terus eksis di tengah pendukung sejumlah supporter, kompetisi di Indonesia juga terus berjalan.
Kalau pun berhenti, setidaknya hanya cukup libur kompetisi, meski pun baginya membawa nilai penurusan pesanan yang drastis dibandingkan pemberian sanksi untuk sepak bola Indonesia. Mengingat, pangsa pasarnya memang banyak didominasi supporter pendukung sepak bola jika dibandingkan pembuatan syal untuk kebutuhan lain. (sigit rokhmad)