Anton Triyono, Dedengkot Komunitas Ramal Tarot di Malang

BANYAK orang berpikir, fortune telling atau ramalan itu sesat. Karena sang peramal sendiri menyebut ramalannya mutlak dan tak bisa salah. Tetapi, Orhacles, komunitas fortune teller pertama di Malang yang dibangun Anton Triyono ini beda. Petisi utama yang diangkat oleh Orhacles adalah : Jangan Percaya Dengan Peramal! Bagaimana sepak terjangnya?

Kedai Kopi Ori, tampak lengang malam itu. Suara musik DJ, mendengung di lantai dua cafe baru di bilangan Jalan Raya Langsep ini. Anak-anak muda gaul Malang, nongkrong. Menyeruput kopi sambil ngobrol sana sini. Melepas penat siang hari. Tawa hangat sesekali muncul.
Suasana benar-benar cozy. Pada salah satu meja cafe, ada sosok berbadan subur tengah duduk santai. Bandana membungkus rapi kepalanya. Di atas meja, terserak kartu-kartu yang rupanya adalah kartu tarot. Ya, pria berpenampilan eksentrik ini adalah Anton Triyono, pendiri Orhacles, komunitas fortune teller atau peramal.
Komunitas yang berdiri tahun 2008 itu, didirikan untuk menjadi wadah bagi penggemar fortune telling yang ada di Malang. ‘’Kita disini bukan untuk jadi komunitas yang angker, yang eksklusif dan tertutup. Kita ada untuk mewadahi pecinta fortune teller. Jadi terbuka untuk siapapun,’’ ujar Kentang, panggilan akrab Anton Triyono, kepada Malang Post.
Karena keterbukaan yang diusung oleh Orachles, komunitas ini terus berkembang pesat sejak berdiri tahun 2008. Awal berdiri, Kentang hanya berjalan dengan satu orang temannya saja, Ari Sinardi. Setelah itu, lambat laun penghuni komunitasnya semakin bertambah.
‘’Sekarang, fortune teller Orhacles sudah 40 orang. Dari banyak kalangan, agama, suku dan ras. Usia muda 14 tahun sampai usia 57 tahun juga ada,’’ ungkap alumnus SMAN 5 Malang itu.
Media ramal yang digunakan di Orchacles juga cukup terbuka. Mulai dari kartu tarot, runes hingga palmistry atau baca garis tangan.
Keterbukaan komunitas ini dalam fortune teller tak lepas dari filosofi yang ditanamkan Kentang ketika Orhacles berdiri. Yakni, jangan percaya pada peramal. Menurut pria kelahiran 20 Desember 1982, fortune teller atau ramalan hanyalah upaya membuka potensi-potensi dari orang yang diramal.
‘’Saya bilang, jangan percaya pada peramal. Karena apa yang kita ramal lewat berbagai media, misalnya tarot, itu tidak mutlak. Semua keputusan tetap ada pada klien. Manusia tetap bisa mengambil keputusan yang bisa mengubah masa depannya,’’ ungkap jebolan Institut Seni Indonesia Jogjakarta itu.
Setiap meramal orang dengan kartu tarot, Kentang bersama komunitasnya selalu mengungkapkan, semua pilihan tetap ada di tangan klien ramal sepenuhnya.
‘’Kita jembatan untuk tahu prediksi masa depan. Pilihan tetap milik klien. Walaupun kartu  tarotnya bilang bagus, tapi kalau gak usaha dalam hidup, ya gak akan terjadi hal yang bagus itu. Begitu juga kalau kartu jelek, kalau usaha, bisa mengubah nasib,’’ ujar Kentang.
Ketidakmutlakan peramal inilah yang ingin diangkat oleh Orhacles. Ia ingin menghapus stigma haram atau sesat yang selama ini terus dijustifikasikan oleh beberapa oknum. Pria yang tinggal di Jalan Juanda itu menyebut, kalau tarot yang berbasis ilmu analisis dan prediksi itu diharamkan, maka psikologi populer juga harusnya diharamkan.
‘’Karena tarot itu ilmu. Dia mengentertain orang. Membantu pikiran tidak galau lewat analisa tarot. Memang rahasia umum ada oknum yang main klenik saat pakai tarot. Tetapi, sejatinya tarot itu ilmu, bisa dipelajari, ada teorinya, sama seperti ilmu psikologi,’’ ungkap Kentang.
Alumnus SMPN 6 Malang itu juga belajar tarot secara otodidak, karena pernah geram dengan tingkah peramal tarot. Tahun 2001, Kentang yang masih mahasiswa ISI Jogjakarta, diramal oleh pembaca kartu tarot. Setelah selesai diramal, sang pembaca tarot sempat arogan dengan menyebut hanya orang terpilih saja yang bisa baca tarot.
‘’Ini yang bikin saya emosi dan geram. Orang harus punya indra keenam, harus ini harus itu, baru bisa baca kartu tarot. Saya marah, saya lalu belajar untuk buktikan bahwa tarot itu ilmu. Bisa dipelajari secara teoritis dan tidak harus berkaitan dengan klenik,’’ tandas Kentang.
Menurut pemilik dek kartu tarot Dark Grimoire itu, tarot tidaklah mutlak 100 persen benar. ‘’Banyak tarot reader yang menganggap ramalannya bakal terjadi mutlak. Lihat saja, banyak tarot reader yang sudah jadi malaikat, merasa benar ramalannya,’’ tegas pecinta fotografi itu.
Sebab, kartu tarot sendiri adalah barang yang dijual dan dicetak secara massal. Tarot adalah barang pabrikan yang cara membacanya memiliki aturan dan teori, sama seperti monopoli atau kartu Uno. Kartu-kartu tarot ini beredar di dunia setelah disahkan oleh American Tarot Academy yang jadi pakem tarot dunia.
‘’Nah, ini yang harus jadi perhatian, bahwa salah kalau mengkait-kaitkan tarot dengan klenik. Sebab, ini ada ilmunya. Dan tarot itu untuk entertainmen, untuk melegakan pikiran orang, untuk bikin orang mawas diri dan hati-hati melangkah dalam hidup,’’ tandasnya.
Kentang sendiri mengaku sudah meramal ribuan orang. Sebab, ia sudah praktek ramal tarot sejak tahun 2004, jauh sebelum Orhacles berdiri. Namun, hobi dan bisnis jasa entertainment seperti tarot ini tentu saja banyak menuai kontroversi dan pro kontra.
Kontra, tentu saja datang dari oknum yang merasa telah menguasai agama, sehingga merasa bisa menjustifikasi serta mengharamkan hal yang bertentangan, seperti kartu tarot.
‘’Saya pernah dikeroyok enam mahasiswa salah satu universitas agama, mereka menghakimi. Tapi, saya bilang, kalau lihat sesuatu jangan satu perspektif, tapi lihat semua sisi. Lek gak ngerti ojok kemeruh. Saya sudah mbelenger kena orang-orang begini,’’ tegasnya.
Namun demikian, tarot dan segala media ramal di Orhacles bermaksud untuk menghibur orang. Penggemarnya pun semakin bertambah. Tak heran, ini jadi kesempatan bisnis jasa yang cukup menarik di Kota Malang. ‘’Ya lumayanlah bisa hidup dari bisnis jasa ini. Setidaknya bisa mengurangi stigma angker dan klenik yang menyelimuti tarot,’’ tutupnya. (fino yudistira)