Mengenal Indonesia Nunchaku Club Malang

Tak sekadar mengagumi kelihaian Bruce Lee dalam memainkan double stick di film action, tapi kini double stick atau permainan yang bernama Nunchaku ini, telah menjadi gaya hidup baru bagi generasi muda di Kota Malang. Mereka adalah para anggota Indonesia Nunchaku Club (INC) Malang yang mampu menyuguhkan aksi mendebarkan lewat beragam jenis dan teknik Nunchaku.

Pagi itu, lapangan Rektorat Universitas Brawijaya (UB), dipadati oleh beberapa mahasiswa. Mereka memanfaatkan lahan tersebut untuk beragam olahraga. Seperti senam, baseball, bermain boomerang, dan beberapa kegiatan lain.
Tak jauh dari kelompok pelajar yang tengah beraktivitas tersebut, tampak pula beberapa laki-laki yang tengah asik bermain Nunchaku.
Bagi sebagian orang, istilah Nunchaku masih terdengar asing di telinga. Nunchaku adalah senjata tradisional Jepang yang terdiri dari dua batang kayu di ujungnya dan tersambung dengan rantai pendek atau tali.
Pemainnya harus memiliki ketangkasan dan kecepatan dalam menggerakan tangan, sehingga Nunchaku dapat berputar melewati tangan, kaki, bahkan leher.
Pecinta film action, tentu tahu alat yang sering digunakan oleh Bruce Lee tersebut. Nunchaku ini yang berhasil menarik beberapa remaja untuk mempelajarinya lebih jauh, dengan bergabung dengan INC Malang.
Setelah menguasai teknik dasar, yang biasanya didapatkan dalam rentang waktu satu bulan, mereka bisa belajar variasi Nunchaku with fire dan double Nunchaku.
‘’Permainan ini susah-susah gampang. Asal sering latihan, dalam satu bulan teknik dasar Nunchaku seperti tornado, bounching, aerial, dan lain-lain bisa dikuasai,’’ tandas Kapten INC Malang, Lillahi Ali Akbar Al Faruq.
Bagian paling menantang dalam permainan Nunchaku, pada saat ujung tongkat tersebut sengaja ditambahkan api yang dihasilkan dari handuk yang dicelupkan minyak tanah. Keberanian dan teknik pemain sangat menentukan seberapa banyak kulit mereka nantinya terkena cipratan api.
‘’Kalau masih awal, kena api itu sudah biasa. Tapi lama-kelamaan akan lebih terampil lagi bermain Nunchaku. Sebenarnya sama saja dengan atau tanpa adanya api. Tapi mungkin dengan penambahan elemen itu, justru membuat pemainnya merasa tertantang dan lebih hati-hati,’’ terang Faruq kepada Malang Post.
Laki-laki berambut ikal ini pun menunjukan beberapa luka bekas cipratan api dari Nunchaku with fire. Hal itu tak membuatnya jera dan justru semakin giat berlatih, agar mahir dalam memainkan beragam Nunchaku.
Selesai berurusan dengan double stick panas tersebut, anggota akan diajarkan bagaimana cara menggerakan sepasang Nunchaku yang dipegang masing-masing tangan.
‘’Kalau api tadi bukan sulit, hanya menantang. Bagian yang cukup sulit justru pada double Nunchaku. Mereka harus bisa memikirkan gerakan yang berbeda untuk tangan kiri dan kanan. Ini juga memicu otak kiri dan kanan bekerja secara seimbang,’’ tandasnya.
Mahasiswa STIKI ini menjelaskan, jika awalnya mereka harus sudah bisa merangkai gerakan yang merupakan gabungan teknik dasar Nunchaku di tangan kanan. Setelah mahir baru dilanjutkan dengan Nunchaku di tangan kiri.
‘’Setelah masing-masing tangan sudah luwes, baru tangan kanan dan tangan kiri sama-sama memegang Nunchaku dan mulai belajar untuk mengkombinasikan gerakan yang berbeda,’’ pungkasnya.
Selain berlatih Nunchaku, Faruq dkk juga membawa beragam alternative permainan yang ampuh untuk mengusir kejenuhan. Tak hanya dengan double stick, tapi teknik yang mereka pelajari tersebut dapat diaplikasikan menggunakan arnis (tongkat) maupun pisau lipat.
Faruq yang selalu membawa pisau lipatnya segera mengeluarkannya dan menunjukkan kecepatan jari-jarinya dalam memutar pisau lipat tanpa sekalipun mencederai tangannya.
‘’Sama dengan Nunchaku with fire, belajar memutar pisau lipat juga penuh risiko. Tapi memang ada cara tersendiri agar tidak menyebabkan tangan sampai berdarah. Biasanya di awal latihan, kami sengaja membungkus pisau dengan isolasi. Baru setelah dirasa cukup menguasai, isolasi tersebut dibuka,’’ bebernya.
Teknik yang mereka pelajari ini sebagian besar didapatkan melalui Youtube dan sharing dengan anggota INC Malang maupun INC dari beberapa kota lain.
Pertemuan yang dimanfaatkan sebagai ajang pertukaran ilmu dan pengalaman itu yang semakin memperkaya pengetahuan anggota INC Malang.
Sementara itu, Ketua INC Malang yang juga sebagai salah satu founder, Satrio Wibowo menjelaskan, permainan Nunchaku semakin banyak diminati oelh masyarakat Malang.
‘’INC Malang berdiri pada 3 Agustus 2009. Namun saat itu anggotanya baru berjumlah 5 orang. Seiring berjalannya waktu, kami mulai mempertontonkan aksi kami di berbagai acara. Salah satunya di Car Free Day. Dari sana bermunculan anggota baru yang akhirnya bergabung bersama kita hingga sekarang,’’ ungkapnya.
Satrio menambahkan, jika ia bersama rekan-rekan yang lain berniat untuk membawa Nunchaku untuk masuk sebagai ekstrakurikuler di sekolah seperti yang sudah ada di Jawa Barat.
Selain untuk mengajarkan teknik bermain Nunchaku, para anggota INC Malang juga memiliki misi penting untuk memberikan edukasi bahwa Nunchaku tidak hanya digunakan untuk alat bela diri namun juga sebagai keterampilan untuk melatih ketangkasan tangan dan kecerdasan otak. (Kurniatul Hidayah)