Rahasiakan Jenis Anggrek Agar Tak Dipakai Penipuan

BERKAT kegemaran terhadap anggrek, Agus Suryono keliling 1/4 dunia secara gratis. Negara-negara di Eropa, Asia, Australia hingga New Zealand sudah dikunjungi karena anggrek.  Sayang, obsesi ikut memajukan pariwisata di Kota Batu saat ini, belum bisa terlaksana.

Rumah dan pekarangan seluas 1.500 meter persegi itu, benar-benar terlihat cukup besar di Jalan Patimura Kota Batu. Meski sore itu, tampak sepi. Cat rumah sudah mulai memudar. Pintu gerbang tertutup rapat. Meski tampak sepi, namun rumah dan pekarangan itu tetap berpenghuni.
Perlahan pintu gerbang dibuka dan sesosok pria dengan rambut mulai memutih, muncul dari balik gerbang. Dialah Agus Suryono, penggemar anggrek kawakan di kota wisata itu.
Begitu masuk pekarangan, nuansa full anggrek langsung terasa. Itu karena sebagian besar lahan yang tidak terpakai untuk bangunan, digunakan untuk budidaya anggrek. Anggrek-anggrek tersebut, tampak sudah tua, dan jarang sekali yang berbunga.
‘’Jangan terkecoh dengan daun yang hijau dan bunga lebat. Anggrek yang tampak sudah tua seperti ini, tidak bisa diremehkan,’’ kata Agus.
Dia tidak menampik koleksi anggreknya sudah banyak berkurang sehingga tinggal beberapa jenis yang tertinggal. Agus sudah banyak menjual anggrek tersebut untuk menyambung hidupnya. Di dalam rumahnya, banyak sekali tropi hingga medali terkoleksi.
Tropi dan medali itu antara lain didapat dari konferensi anggrek dunia di Auckland New Zealand tahun 1990 lalu. Pada konferensi anggrek tersebut, dia menyebut sebagai top karir dalam dunia anggrek. Ada 18 penghargaan dari 30 pot anggrek yang dibawa.
‘’Ada spesies dan ada hasil persilangan dari anggrek-anggrek yang saya bawa waktu itu,’’ terang pria kelahiran tahun 1941 ini.
Selain itu, Agus pernah mengantar Indonesia menjadi juara umum dalam konferensi anggrek ASEAN di Jakarta tahun 1988. Sedangkan tahun 1987, dia mendapatkan spesial award dalam konferensi anggrek Asia Pasifik di Makassar.
Salah satu kunci pria tersebut biasa menyabet juara dalam konferensi anggrek, adalah penemuan hasil persilangan hingga spesies yang bagus.
Spesies-spesies anggrek asli, ditemukan dari hutan sehingga bisa disebut sebagai spesies alami. Sedang anggrek persilangan antara antara lain dilakukan antara jenis vanda tessellata dengan rhyncostilis gigantea red. Hasil persilangan tersebut, bunga anggrek menjadi kehitam-hitaman.
’’Sedangkan anggrek yang menang dalam Konferensi Asia Pasifik adalah macra phyllum. Sebenarnya masih banyak lagi nama jenis anggrek. Namun saya juga harus merahasiakan karena biasa digunakan untuk penipuan. Orang bisa menyatakan anggrek memiliki nama-nama itu untuk mengeruk harga mahal. Namun nyatanya palsu,’’ kata dia.
Agus menyebutkan, potensi anggrek di Indonesia sangat luar biasa, terutama untuk spesies alami. Malahan sebanyak 75 persen populasi anggrek dunia, dihasilkan dari Indonesia.
Hanya saja, spesies tersebut sudah banyak dibawa ke luar negeri dan diakui sebagai potensi negara-negara mereka. Mereka juga berhasil menyilangkan berbagai spesies itu dan hasilnya sangat luar biasa.
’’Potensi spesies anggrek alami kita yang luar biasa, karena kita kaya hutan. Spesies anggrek itu keluar negeri, antara lain melalui tangan penjajah Belanda. Belanda menjajah kita 350 tahun sehingga semua potensi dibawa keluar negeri, termasuk spesies anggrek,’’ pungkas dia.
Saat Kota Batu berkembang seperti saat ini, dia sebenarnya ingin menggelar konferensi anggrek. Konferensi tersebut bisa semakin meningkatkan kunjungan wisatawan. Masalahnya, mereka tidak hanya datang dari Indonesia, tetapi mancanegara.
Hanya saja, harapan itu sampai saat ini belum bisa terlaksana. Dia merasa belum mendapat dukungan dari berbagai pihak. Sekalipun potensi yang ada, sangat mumpuni untuk sekadar dipamerkan di tingkat internasional.
Satu-satunya kegiatan pameran anggrek skala besar yang dia gelar adalah pamaran anggrek terapung di kolam Songgoriti sekitar tahun 1980-an lalu.
Semua anggrek dipamerkan di atas perahu atau ban. Sedangkan pengunjung bisa melihat dari pinggir kolam atau sesekali mendekat menggunakan perahu.
‘’Tidak tahu lagi, kapan bisa menggelar pameran dengan skala besar. Padahal kalau saja ada konferensi atau pameran anggrek tingkat internasional, Kota Batu akan semakin dikenal,’’ kata dia dengan mata menerawang. (febri setyawan)