Wirausahawan Muda yang Sukses Lewat Sangkar Burung

ANDALAN : Muhammad Arip dengan sangkar semar produksinya.

Raup Rp 11 Juta Sebulan, Pilih Tinggalkan Pekerjaan Mapan  
BISNIS sangkar burung memang terlihat sepele. Namun ternyata bisnis ini sangat menjanjikan. Keuntungan yang didapatkan cukup menggiurkan. Apalagi ketika produksinya sudah cukup dikenal. Dalam sebulan, minimal bisa meraup untung hingga Rp 11 juta.
DI Kabupaten Malang, pengerajin sangkar burung yang sangat dikenal, memang ada di wilayah Kecamatan Turen. Namun di Kota Kepanjen, juga ada pengerajin sangkar burung, yang produknya sudah sangat dikenal. Tidak saja di sekitar Jawa Timur, tapi sudah merambah hingga luar Jawa.
Mengambil nama punakawan, Semar, sangkar burung produksi Muhammad Arip itu, benar-benar menjadi pilihan. Produksi sangkar burung milik warga asal Kedungkandang - Kota Malang ini, berada di Jalan Raya Panji Kecamatan Kepanjen. Tepatnya depan Gedung DPRD Kabupaten Malang.
Jika menilik dari usia produksi yang baru lima bulan, boleh jadi usaha yang dirintis pria berusia 31 tahun ini, benar-benar mampu mewarnai dan diterima pasar. Bagaimana tidak, pesanan dari pasar di luar Jawa, terus mengalir.
‘’Saya mulai bisnis sangkar burung ini, Desember 2012 lalu. Jadi baru mulai merintis,’’ ungkap Muhammad Arip.
Pria ramah ini menceritakan, awal bisnis pembuatan sangkar bermula dari keinginannya yang ingin merubah nasib. Arip yang bekerja di salah satu perusahaan asuransi ini, mempunyai prinsip bahwa dirinya tidak ingin terus menjadi pegawai. Tetapi berkeinginan mempunyai pegawai.
Mimpi yang dipendam beberapa tahun itu, akhirnya terwujud setelah salah seorang rekannya memberi masukan untuk berbisnis sangkar burung, sekitar setahun lalu. Mendapat masukan itu, Arip tidak langsung mewujudkan impiannya. Tetapi dia mempelajarinya terlebih dahulu.
‘’Mulai bagaimana cara pembuatannya, mencari bahan untuk sangkar, perajinnya, cara pemasarannya, sampai produksinya harus dijual kemana,’’ ujar Arip.
Setelah mendapatkan pengalaman, Arip langsung mencoba membuat contoh sangkar Semar buatannya, untuk ditunjukkan ke calon pembeli. Begitu ada pembeli yang mau, dia langsung memberanikan membuka usaha sangkar burung.
‘’Modal awal saya mengeluarkan Rp 60 juta lebih. Kemudian langsung mencari pegawai. Ada tujuh pegawai yang saya miliki. Lima pegawai bekerja merangkai sangkar di rumah. Sedangkan dua pegawai adalah pengerajin asal Kecamatan Turen dan Dampit, yang khusus membuat gambar semar coretnya,’’ terangnya.
Hasil produksinya, semula hanya dikirim pada pemborong di wilayah Kecamatan Turen. Namun saat ini, setelah mendapat pemborong besar, sangkar hasil karya Arip ini sudah merambah ke luar pulau. Seperti Bali, Sumatera dan Kalimantan.
Bahkan dia sempat mendapatkan order dari pembeli asal Jakarta untuk membuatkan 1.200 sangkar burung. Tetapi karena mepetnya modal, serta tenaga pegawai yang kurang, dia tidak berani menerima tawaran itu. Dia hanya sanggup memenuhi separoh dari pesanan. Untuk satu minggu, dari tujuh pegawai yang dimilikinya bisa menyelesaikan 12 sangkar.
‘’Sebetulnya tidak hanya di Jakarta, tetapi Bali juga memesan. Namun saya hanya menjanjikan dulu, karena masih menyelesaikan pesanan dari Jakarta. Karena di Jakarta nanti akan langsung dikirim ke Sumatera dan Kalimantan,’’ paparnya sembari menunjukkan sangkar hasil karyanya.
Karena banyaknya order yang harus diselesaikan, Arip mengatakan kalau dirinya tidak menjual sangkar perbiji. Melainkan dijual per-set. Satu set, dua sangkar ukuran kecil dan besar seharga Rp 400 ribu. ‘’Kalau jual eceran, mungkin hanya yang pesan saja. Harganya Rp 250 ribu untuk sangkar kecil dan Rp 300 ribu untuk sangkar besar,’’ katanya.
Sangkar burung Semar milik Arip ini sendiri, mempunyai ciri khusus dibanding sangkar lainnya. Selain ada gambar Semar, warna serta model sangkarnya juga berbeda.
‘’Kayu yang saya gunakan, juga kayu pilihan dari pohon Mahoni. Bahkan pembuatannya tidak asal-asalan. Harus benar-benar siku. Untuk penghasilan sendiri, sebulan minimal yang saya dapatkan antara Rp 10 - 11 Juta. Itupun tergantung dengan banyaknya produksi yang terjual,’’ urainya.
Ke depan untuk mengembangkan usahanya supaya bisa menampung order dalam jumlah besar, Arip mengaku akan mempekerjakan ibu-ibu rumah tangga di sekitar Kepanjen, yang membutuhkan pekerjaan. Tugasnya hanya memasang ruji sangkar serta menggosok kayu yang akan digunakan untuk sangkar.
‘’Sekarang ini saya sedang mengajari ibu-ibu untuk memasang ruji. Itu karena untuk pasang ruji, ibu-ibu yang paling telaten dan rapi. Pekerjaan sendiri bisa dilakukan di rumah ibu-ibu itu sendiri,’’ terangnya. (agung priyo)