Taman Bacaan Al Amin yang Nunut di Posko Gesank

Mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM), bukan perkara yang mudah. Selain harus menyiapkan buku, pendiri juga wajib menyediakan tempat. Namun dengan dana pas-pasan, tempat pun menjadi prioritas kedua untuk berdirinya TBM. Bahkan untuk menekan anggaran, TBM pun dapat menumpang di gedung atau posko organisasi masyarakat.

Itulah yang terjadi pada TBM Al Amin. TBM yang berada di Jalan Simpang Tata Surya ini, tidak memiliki gedung. Apalagi yang sebagus perpustakaan pada umumnya. TBM itu, harus rela ‘nunut’ menjadi satu dengan Posko Gesank.
Wajar jika dilihat dari luar, tidak terlihat seperti tempat baca. Karena seluruh dindingnya adalah tembok beton, tanpa sedikitpun ventilasi. Yang menandakan gedung tersebut adalah TBM, adalah papan nama yang menempel pada tembok bagian depan bertuliskan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Al Amin. Berdampingan dengan papan nama Posko Gesank.
Di dalam ruang berukuran 4x6 dan cukup dingin itu, juga tidak ada kursi. Hanya dua karpet berwarna merah, menutupi lantai. Ditambah empat meja berjajar. Menempel pada tembok, ada delapan lemari berisi buku-buku bacaan.
‘’Silahkan masuk. Monggo silakan duduk,’’ sapa Juwita Andini, pengurus TBM Al Amin, begitu melihat kedatangan Malang Post. Sambutan ramah dan penuh keakraban, terus mewarnai selama Malang Post, berada di TBM itu.
‘’TBM ini didirikan pertama kali oleh Ir H R Imam Santoso Msi, yang juga pengasuh pondok pesantren Majid Al Amin, tahun 2007 lalu. Awalnya memang untuk santri-santri pondok saja. Namun seiring waktu, TBM ini dibuka untuk umum,’’ kata Juwita.
Rata-rata setiap hari, sekitar 30-40 pengunjung yang datang. Paling ramai sore hari. Terutama dari kalangan mahasiswa. Meski demikian, TBM ini juga dipenuhi anak-anak kecil, yang datang untuk membaca buku-buku dongeng.
Sekalipun tempatnya cukup sempit, Juwita mengatakan TBM Al Amin memiliki koleksi buku yang cukup lengkap. Mulai dari buku untuk anak-anak, hingga dewasa.
Lebih dari 5.000 judul buku yang dimiliki TBM Al Amin. Buku-buku tersebut, tertata rapi di rak-rak lemari dengan kode buku yang sudah disesuaikan.
‘’Buku-buku disini boleh dibawa pulang. Syaratnya harus menjadi anggota TBM. Karena buku ini bisa dibaca secara gratis,’’ tambahnya, sembari mengatakan seluruh buku yang ada ini merupakan hasil sumbangan.
Tetapi jika ada penyewa yang sampai terlambat mengembalikan, ada sanksi tegas. Pengelola TBM, akan memberlakukan denda berupa uang. Besarnya, tergantung waktu keterlambatan.
Sekalipun TBM ini dijaga oleh pengelola secara bergantian, namun faktanya ada saja buku yang hilang. Karena itulah, pengelola TBM memperketat jam kunjung pengunjung. TBM ini hanya buka pukul 08.00 – 12.00 selanjutnya tutup dan buka lagi 15.30 – 17.00.
‘’Semua pengurus disini bekerja sukarela. Tidak ada yang dibayar. Namun kami memiliki tekat untuk terus memajukan TBM ini, karena kami yakin dengan membaca kami banyak mendapat ilmu. Dan itu juga yang terus kami tularkan kepada seluruh pengunjung disini,’’ tandasnya. (ira ravika)