Derita Putri Ramadhani, Bocah Penderita Hidrosefalus

Masih ingat dengan Putri Ramadhani, dulu bayi penyandang hidrosefalus. Saat ini bocah ini berusia tujuh tahun, diduga mengalami gizi buruk. Berat badannya hanya 13 kg, Putri tinggal tulang dan kulit, hanya kepalanya saja yang besar.

Bocah itu hanya bisa memandang Malang Post yang datang menengoknya, kemarin siang. Ingin menangis, itulah perasaan yang menyeruak di relung hati, ketika melihat Putri. Namun, ketegaran Muhammad Fauzan (30), Ayunda Desiana (28), orang tuanya, membuat air mata membeku di balik pupil.
Tapi, tetap saja hari ini terasa teriris, begitu pedih melihat Putri hanya bisa tergolek. Kaki hingga tangannya sangat kecil, kontras dengan ukuran kepalanya yang besar. Bocah itupun juga kembang kempis, menghembuskan nafas ke dunia.
Mungkin saja dirinya sudah mendapat tempat di surga saat ini. Mungkin, Tuhan hanya memperpanjang umur bocah itu di dunia, untuk manusia lainnya. Tuhan ingin tahu, sejauh mana manusia lainnya, mensyukuri hidup, dengan melihat penderitaan Putri.
Yang aneh dari Putri, syaraf matanya, kini berpindah ke tangan kanan. Jika telapak tangan kanannya dipukul halus, mata mata kanannya langsung ikut berdenyut dan merem melek.
‘’Pemeriksaan terakhir, berat badannya hanya 13 kg, padahal menurut ahli gizi, untuk seusia anak saya, normalnya 28 kg,’’ ujar Muhammad Fauzan.
Keterbatasan Fauzan, sapaan akrabnya, yang memaksa Putri menderita gizi buruk. Fauzan hanyalah seorang tukar parkir di timur Pasar Besar. Uang dia sudah habis untuk biaya pengobatan hidrosefalus, anak semata wayangnya.
‘’Untuk kontrak saja saya tak mampu, sekarang tepaksa nunut di mertua, di rumah ini dihuni empat keluarga,’’ katanya.
Sepintas, rumah mertua Fauzan di Puri Cempaka Putih 1 Kedungkandang Kota Malang, terlihat megah. Namun Putri, Fauzan dan Ayunda Desiana, menempati lantai atas. Mereka tidur berbagi dengan ranjang usang, ranjang Putri, bahkan adalah pemberian orang.
‘’Sebelumnya saya kontrak di Jalan Jodipan Wetan gang 5, baru setengah bulan nunut di ibu mertua,’’ imbuhnya.
Putri sendiri tidur dalam kondisi pasrah, dia hanya bisa miring dan terlentang. Matanya bisa memandang orang, namun mulutnya tak bisa menyapa. Ingatan Putri begitu ringkih, bahkan terlalu ringkih, alias lemah.
‘’Seminggu saja saya tak kelihatan di depan mata Putri, maka anak saya pasti lupa kalau saya ini ayahnya, makanya saya tak bisa tinggalkan dia terlalu lama,’’ urai dia.
Saat ini, keinginan Fauzan adalah agar putrinya bisa dibantu untuk perbaikan gizi. Memang Dinas Kesehatan dan Puskesmas sudah memberikan bantuan berupa susu. Namun, susu itu hanya untuk pengganti makan, bukan untuk memperbaiki gizinya yang drop.
‘’Paling bagus, jika parkir saya lancar, dapat Rp 30 ribu perhari, tapi sering pulang ga bawa hasil,’’ kata dia.
Bocah itu, sendiri cukup lama menderita, tak pernah beranjak dari kasur. Selain kelainan pada syaraf mata, dada kanan sang bocah, juga membengkak. Kulitnya yang menyatu dengan tulang, membuat benjolan selang nampak di dadanya.
‘’Selang ini berada di dalam kulit, dipasang dari bagian belakang kepala hingga ke kandung kemih, itu untuk membuang caira hidrosefalus,’’ jelasnya.
Putri lahir 5 Oktober 2005, saat itu persalinan ditangani bidan Sulami Buring. Awal mula sakit, dia umur setengah bulan, mencret akut sampai keluar cairan air. Oleh bidan Sulami diberi puyer untuk diberikan dua jam sekali.
‘’Saat saya kasih minum puyer, Putri malah tidak bangun-bangun, empat jam kemudian saya kasih minum, malah badannya biru dan sesak nafas,’’ urai Fauzan.
Saat itu, bocah hidrosefalus itu dibawa ke RS Panti Nirmala, diobati dokter jaga. Setengah jam tiba, kemudian dinyatakan meninggal dunia, bahkan sempat sudah ditutupi bak orang meninggal. Namun, 20 menit kemudian datang Dokter Spesialis anak bernama Setia Budi.
Putri, diperiksa, kemudian dinyatakan mati suri, dan bisa sembuh, namun hanya dengan persentase 0,1. oleh dokter Budi, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA). Dari situlah, kesehatan putri Fauzan itu makin menurun.
‘’Mati suri, di UGD sempat nafas lagi, paling tidak sempat 34 kali dinyatakan mati suri, paling lama di RSSA sekitar setengah jam,’’ tutur sang ayah.
Hidrosefalus sendiri mulai dari RSSA, seminggu di rawat di tempat itu, tak ada tempat untuk infus Putri. Bahkan, urat kakinya terpaksa dijadikan tempat infus. Saat ini masih terlihat tanda bahwa urat kaki itu pernah hancur ditembus beberapa kali infus.
‘’Seorang perawat ngomong, bagaimana kalau diinfus di kepala, saya bilang tidak apa-apa jika sesuai praktik dan bisa menyembuhkan,’’ tutur warga asal Timur Pasar Besar itu.
Selang tiga jam diinfus, kepala Putri membengkak, bahkan jarum infus saat itu sampai bengkok. Kondisi Putripun sudah koma total, bahkan pakai inkubor. Kondisi itu terjadi, ketika Putri berumur 23 hari.
‘’Di RSSA satu bulan, yakni di ruang 7 dan 12, ketika umur delapan bulan saya sempat protes ke RSSA, jawaban malah tanya nama perawatnya dan jam berapa? Tentu saya lupa,’’ urainya.
Yang jelas, kini Putri butuh uluran tangan, bobot sekarang hanya 13 kg, dia diagnosa gizi buruk di RSSA. Selain gizinya membaik, Putri juga buruh  pampers dan susu merek Bebelac. Meski memiliki Jamkesda, Fauzan juga tak mampu memenuhi biaya operasional jika hidup di rumah sakit.
‘’Saya hanya ingin anak saya kembali membaik, gizinya baik, tabungan saya sudah habis, rumah juga sudah dijual, meski tak ingin nunut mertua, kondisi membuat saya seperti ini,’’ tandas Fauzan, tanpa bermaksud mengeluh. (Bagus Ary Wicaksono)