Melihat Kiprah Komunitas Kreatif Primitif Rosokcraft

KREATIF : Komunitas Rosokcraft saat membuat mainan di basecampnya kemarin

Beli Sampah dari Pemulung, Hasil Karya Disumbangkan
BARANG BEKAS, tidak selamanya menjadi sampah yang minim nilai ekonomis serta nilai seni. Barang tidak berharga yang biasanya menjadi penghuni tempat sampah, dapat disulap menjadi sesuatu yang lebih menarik. Termasuk menghasilkan uang.
Itulah yang saat ini terus dilakukan Komunitas Kreatif Primitif Rosokcraft atau lebih dikenal dengan Komunitas Rosokcraft yang berbasecamp di Jalan Imam Bonjol, Dusun Karangjati, Desa Ardimulyo, Singosari. Di tangan anggota komunitas yang baru berdiri tiga tahun ini, sampah bisa menjadi barang yang unik berumpa mainan.
Banyaknya sampah plastik, yang tidak terurai, menyebabkan berbagai banyak kerugian. Kerusakan lingkungan seperti pencemaran tanah, banjir, dan berbagai masalah lingkungan lainnya, bisa saja terjadi, akibat menumpuknya sampah plastik ini. Hal inilah yang melatarbelakangi terbentuknya Komunitas Kreatif Primitif Rosokcraft.
Komunitas ini, sengaja mengumpulkan sampah-sampah yang terutama terbuat dari plastik. Seperti bekas bungkus makanan, korek gas, baterai yang tak terpakai, kabel, tabung gas dan lain-lain.
‘’Kalau bekas korek gas dan tabung gas di bakar di tempat pembuangan akhir (TPA), bisa berbahaya. Bisa menimbulkan terjadinya peledakan. Sedangkan sampah yang terbuat dari plastik, tak bisa terurai dengan tanah,’’ ujar Okta Deddie Artanto, Ketua Komunitas Rosokcraft, saat ditemui Malang Post, di basecamp kemarin.
 Untuk mengatasi permasalahan lingkungan, muncul dalam fikirannya membentuk komunitas ini pada 2010 silam. Okta menceritakan, awalnya dia dan para anggota Komunitas Rosokcraft mengumpulkan sampah-sampah plastik dari rumah ke rumah dan juga TPA yang berada di seluruh wilayah Malang Raya.
‘’Dulu, kami kayak pemulung yang mengumpulkan sampah-sampah. Saat itu, kami memang tak takut maupun malu melakukannya, karena untuk kebaikan lingkungan,’’ ucap pemuda ramah ini.
Namun sekarang sudah banyak pemulung yang setor sampah plastik ke komunitasnya. Tentunya, komunitas ini membeli sampah-sampah plastik, yang disetorkan oleh para pemulung.
‘’Hitung-hitung, kami juga sedikit membantu pendapatan dari para pemulung ini. Mereka tak perlu susah-susah menjual ke pengepul barang bekas, yang tempatnya jauh dan kadang dibeli dengan harga rendah,’’ terangnya.
Setelah dikumpulkan, oleh komunitas ini, sampah-sampah plastik tersebut dijadikan berbagai macam bentuk dan jenis mainan. Terlihat, ada miniatur robot, mobil-mobilan, patung dan beberapa mainan lainnya. Kemudian, mainan-mainan tersebut dijual via online maupun situs jejaring sosial seperti facebook dan twitter.
‘’Harganya bervariasi, antara Rp 15 ribu hingga ratusan ribu. Tergantung tingkat kesulitan saat pembuatannya,’’ katanya. Hasilnya, jutaan rupiah bisa dihasilkan setiap bulan. Sebagian pendapatan hasil jualan mainan itu, lanjut Okta, dierahkan kepada anak yatim piatu maupun warga yang kurang mampu.
Sisa pendapatannya lainnya, oleh komunitas ini dikumpulkan serta ditabung. Kelak dibuat untuk mendirikan galeri mainan plastik pertama di wilayah Malang.
‘’Harapan kami, dari sampah bisa menghasilkan rupiah untuk membangun galeri itu. Termasuk bisa mengatasi lingkungan dan menciptakan lapangan pekerjaan,’’ pungkasnya. (binar gumilang)